Home

Muhammad (40 tahun) menangis terisak-isak. Hatinya hancur. Imigran asal Aljazair itu bercerita bahwa puteranya yang baru beranjak dewasa memilih menjadi ateis ketimbang Muslim. Sementara itu, para jemaat masjid yang lain hanya bisa termangu pasrah, mendengar bagaimana budaya sekular Amerika mempertunjukkan keperkasaannya.

Itu hanyalah sepenggal di antara banyak kisah sedih keluarga Muslim yang gagal meninggalkan jejak Islam di negara baru mereka. Sebagian besar putera-puteri mereka melakukan konformitas budaya, mengikuti gaya hidup yang materialistis dan sekular, yang secara dominan dipraktikkan di Amerika Serikat.

Jeffrey Lang seorang mualaf kulit putih Anglo-Saxon Amerika Serikat. Dalam sebagian besar kandungan buku Even Angles Ask: A Journey Islam in Amerika, Lang menuturkan betapa konflik budaya, konflik pemikiran, yang menghadang generasi muda Muslim maupun mualaf (pemeluk baru), merupakan persoalan dalam perkembangan Islam di Amerika Serikat.

Ada beberapa kelompok masyarakat di Amerika yang sukar menerima Islam sebagai bagian budaya Amerika. Pertama, generasi muda Muslim yang lahir dan besar di negara itu dan cenderung ingin menjadi “orang Amerika” ketimbang “orang Arab.” Kedua, para mualaf kulit putih Amerika yang terbiasa dengan rasionalitas, yang akhirnya murtad karena tidak bisa menerima kedangkalan berpikir komunitas Muslim yang terdominasi budaya Arab. Ketiga, masyarakat Amerika yang mempunyai stereotip bahwa menjadi Muslim berarti menjadi orang Arab.

Lang mengakui, sukar memang membantah stereotip, atau stigma tersebut. Sebab, “Ketika muncul dalam berita, para Muslilm Amerika selalu berpakaian dalam jubah Timur Tengah,” tulis Lang mengambil contoh (h.132). Selain itu, tambah Lang, simbol-simbol seperti pakaian Timur Tengah, ucapan-ucapan Arab, atau berjanggut, meneguhkan semua anggapan itu, sampai-sampai para mualaf dan sahabat Lang berkomentar kepadanya bahwa kaum Muslim mungkin mengira bahwa Tuhan “hanya mengerti bahasa Arab.”

Tidak heran, warga setempat yang masuk Islam mengalami krisis identitas dan konflik budaya. Di satu sisi mereka ditolak komunitas mereka sendiri, didiskrimnasi lantaran dianggap melakukan pengkhianatan budaya. Tapi, di sisi lain, mereka pun tidak diterima komunitas Muslim sepenuhnya, karena sukar mengadaptasikan budaya Amerika yang sudah tertanam semenjak kecil, dengan budaya Arab yang asing.

Ketika mengkritik praktik dan pandangan yang bercorak Arab tradisional, sebagai contoh, sering malah mereka dituding kebarat-baratan dan dicap “tidak islami.” Apalagi, jika seorang Muslim mempertanyakan hukum Islam klasik atau kebiasaan yang mapan, ia dibungkam dengan tuduhan “hendak mengubah agama” (h.142).

Seorang Muslim justru dianggap saleh jika semakin menampilkan kebiasaan lahiriah yang tidak penting semisal mengenakan sorban, gamis, memanjangkan janggut, dan mengucapkan idiom-idiom Arab. Disebabkan oleh pemahaman yang remah ini, sebagian mualaf kulit putih berupaya keras menjadi “orang Arab” agar dapat diterima komunitas Muslim. Hal-hal seperti ini lagi-lagi semakin memperkuat stereotip warga Amerika bahwa Islam identik dengan Arab.

“Saya teringat suatu ceramah yang saya hadiri di sebuah universitas sewaktu pertama kali saya tertarik dengan Islam. Pembicaranya — seorang mualaf Amerika yang mengenakan busana mirip pakaian Saudi Arabia — terus-menerus menyisipkan dalam presentasinya istilah-istilah Arab yang diucapkan dengan buruk, seolah-olah segenap khalayaknya akrab dengan istilah-istilah itu. Suasana seperti itu menciptakan begitu banyak kesenjangan dalam pemahaman saya sehingga pembicaraannya, bagi saya, secara praktis tidak bisa dipahami. Saya tinggalkan ceramah itu dengan perasaan bahwa untuk menjadi seorang Muslim seseorang harus menjadi seorang Arab,” tulis Lang (h.31).

Lang hendak mengungkapkan bahwa konflik yang terjadi sesungguhnya bukan antara Islam dengan Amerika, melainkan antara “budaya Arab yang kolot dan konservatif” dengan “budaya yang rasional dan modern.”

Misalnya, pandangan orang Arab mengenai peran gender membuat tidak sedikit wanita kulit putih Amerika mengundurkan diri dari niat mempelajari Islam. Lang pernah menyaksikan, sebagai contoh, seorang wanita kulit putih Amerika memutuskan tidak jadi memeluk Islam karena gerah mendengar pertengkaran para jemaat Masjid tentang boleh tidaknya seorang perempuan hadir di masjid itu.

Sewaktu Lang dan keluarga tinggal di Dahran, Arab Saudi, ketiga putrinya ia masukkan ke sebuah sekolah Islam khusus untuk anak-anak perempuan. Pada hari pertama belajar, kepala sekolah mengutip hadis yang mengatakan bahwa intelegensi kaum wanita berada di bawah kaum pria (h.148) walaupun menurut Lang tak ada ayat Quran yang mendukung hadis ini. Namun, sayangnya, di Amerika justru pandangan-pandangan tradisional seperti ini seringkali dilontarkan penceramah Muslim dalam kuliah-kuliah umum tentang Islam di universitas-universitas sehingga membuat orang Amerika salah paham tentang Islam.

Generasi muda Muslim yang lahir dan tumbuh dalam budaya Amerika tidak nyaman dengan praktik-praktik dan pandangan-pandangan semacam ini, sehingga mereka enggan disebut sebagai seorang Muslim kendati mewarisi “nama Arab.” Jika ditanya, “Apakah kamu Muslim?” Mereka akan menjawab, “Orang tua sayalah yang Muslim.”

Oleh karena itulah, Lang menyimpulkan bahwa kaum Muslim di Amerika sangat membutuhkan ulama-ulama asli Amerika yang dapat memecahkan problem budaya tersebut. Ulama-ulama itu mengerti budaya Amerika dan mampu membimbing generasi baru Muslim Amerika — baik generasi muda Muslim maupun para mualaf — untuk hidup menurut ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka menguasai ilmu-ilmu klasik, tapi siap mengkaji secara kritis karya-karya ulama di masa lalu. Dengan begitu Islam dapat ditafsirkan dengan konteks masyarakat Amerika kontemporer. Di sini Lang ragu bahwa komunitas Islam Amerika bisa bertenggang rasa dengan kajian Islam klasik yang ada saat ini. Pendeknya, Lang mendambakan terciptanya masyarakat Muslim yang bergaya Amerika moden (h.297-298).

Nama Jeffrey Lang dapat disejajarkan dengan para mualaf Barat lain seumpama Leopold Weiss, Murad Hofmann, Roger Garaudy, atau Maryam Jameelah yang menyumbangkan perspektif alternatif dalam menafsirkan universalitas Islam. Keinginan Lang menampilkan citra diri sebagai Muslim Amerika, misalnya, ia ejawantahkan dengan mempertahankan nama Amerikanya, memilih mengucapkan “thank’s God” alih-alih “alhamdulillah,” dan tetap berbusana ala Barat, karena baginya simbol-simbol bukan persoalan substansial.

Selama beberapa tahun menjadi Muslim yang “bukan merupakan rencana hidupnya” itu, Jeffrey Lang — yang juga seorang guru besar matematika — menyaksikan bagaimana komunitas Muslim saling mendengki, menggunjing, menjelekkan jemaat Muslim di luar kelompok mereka, enggan menerima kritik, bahkan mengkafirkan satu sama lain.

Banyak mualaf kulit putih yang keluar dari Islam lantaran kecewa, tapi Lang bersiteguh. “Saya memeluk Islam bukan karena komunitas Muslim, melainkan lantaran kebenaran Qur’an!” katanya kepada sahabat kulit putihnya yang akhirnya murtad.

Buku ini sebenarnya dipersembahkan Lang kepada puteri-puterinya agar mengenal Islam. Selan itu, buku ini juga ditujukan sebagai penuntun bagi para mualaf kulit putih Amerika yang pada umumnya mengalami tahap-tahap perjalanan spiritual keislaman serupa.

Sebagian besar isi buku ini mengandung pergulatan intelektual dan spiritual Lang dalam memahami Islam, tapi bab dua secara khusus memuat penafsiran Lang mengenai prinsip-prinsip dasar Islam yang menjadi argumen keberislamannya.

Meskipun di Amerika menemukan relevansinya, gagasan dalam buku ini — bagi kita di Indonesia — mungkin kedengaran usang, karena perdebatan semacam ini pernah dipopularkan Nurcholish Madjid sekitar dua-tiga dekade silam. Namun demikian, buku ini memberikan kesadaran bahwa sebagaimana malaikat yang berani mempertanyakan penciptaan manusia kepada Tuhan, kita pun seharusnya berani menggugat pengamalan Islam yang secara umum kita pahami sekarang. Islam substansial, atau Islam Arab?

Judul Buku: Bahkan Malaikat Pun Bertanya: Membangun Sikap Berislam yang Kritis; Judul Asli: Even Angels Ask: A Journey to Islam in Amerika; Penulis: Jeffrey Lang; Penerjemah: Abdullah Ali; Penyunting: M.S. Nasrulloh; Pengantar: Murad Hoffman (edisi Amerika Serikat), Jalaluddin Rakhmat (Indonesia). Tebal: xvi + 302 halaman; Penerbit: Serambi. Tahun 2001.

Baca Juga
Salat Id, Perbedaan, dan Kasih Tuhan
Main Petasan, Cekikikan Saat Tarawih, dan Spiritualitas Ramadan
Hati, Rasio, dan Ketenangan Jiwa

Iklan

19 thoughts on “Perjuangan Menjadi Muslim Amerika: Islam Substansial atau Islam Arab?

  1. kalo ada islam arab, kenapa ga boleh ada islam indonesia atau islam amerika…
    lagipula, hidup seperti pada jaman nabi itu utopia…

  2. Ping-balik: Kendala Penyebaran Agama Islam Di negara Maju « Mengapa begini ? Mengapa begitu ?

  3. Bagi saya yang tinggal selama kurang lebih 4 tahun di KSA,saya merasakan sedikit dari apa yang ditulis oleh Lang.Seperti perbedaan gender yang sangat kentara sekali.
    Namun,akhir-akhir ini,saya lihat mereka berproses untuk menghilangkan perbedaan gender.Seperti,ulasan dari Arabnews tentang top ten wanita arab pimpinan perusahaan ( saya tidak ada linknya,tapi kira2 sekitar 7/8 bulan lalu ).

    Dalam perspektif Islam yang sangat substansial,kiranya saya tidak mau mencampur adukan dengan budaya ala timur tengah,yang ‘berbau’ islami.

    Bagi saya yang lebih tepat untuk dijuluki islam arab yang menurut kita sedikit ‘aneh’ adalah budaya berpakaian ala gamis/sorban,makan beramai-ramai dalam satu pinggan besar,perbedaan laki-perempuan & mengusung kehormatan keluarga.Beberapa cara berdiskusi mungkin terlihat bagi kita agak sedikit kasar,polos dan memaksa.

    Mungkin ini yang dilihat oleh Lang,dalam pemaksaan berbahasa arab terhadap orang asing sekalipun.Tapi toh,bagi saya khususnya tidak dipungkiri adalah sangat menguntungkan bila kita memahami bahasa arab quran + arab harian.a.Jadi idiom-idiom ala Arab,sebenarnya untuk memperkukuh semangat rohani kita,dan sah-sah saja bila itu diterjemahkan ke bahasa lain,apalagi kebanyakan pendengar adalah non-Arab, dengan tidak menciptakan jurang antara bahasa Arab dengan bahasa lain.Contoh seperti pengucapan, Salallaahu Alaihi wassalam,bisa diganti dengan peace be upon him.

    Terlepas dari substansi dan islam arab itu,yang sebenarnya patut kita contoh adalah seperti dalam mempertahankan waktu shalat ( hingga semua toko harus tutup ) ,pula adat bersalam yang baik,saling mendoakan satu sama lain dan persaudaraan yang kuat.

  4. Ah, mencerahkan!

    Pertama, generasi muda Muslim yang lahir dan besar di negara itu dan cenderung ingin menjadi “orang Amerika” ketimbang “orang Arab.” Kedua, para mualaf kulit putih Amerika yang terbiasa dengan rasionalitas, yang akhirnya murtad karena tidak bisa menerima kedangkalan berpikir komunitas Muslim yang terdominasi budaya Arab. Ketiga, masyarakat Amerika yang mempunyai stereotip bahwa menjadi Muslim berarti menjadi orang Arab.

    Faktor pertama dan ketiga berkaitan ya? Di mana generasi muda Muslim juga tertanam stereotip di benaknya bahwa Menjadi Muslim juga menjadi ‘orang Arab’. 😀

    Ah, saya jadi teringat tulisan Kopral Geddoe yang “Isramu.. Isramu…” itu.

    Mengenai perdebatan yang dipopulerkan Cak Nur sendiri, tampaknya masih tetap kalah dengan stereotip umum bahwa itu juga akan berakibat ‘mengubah Islam’ ya. 😦

  5. @ Haris Mulayana
    Buku ini diterbitkan tahun 1997. Dalam kurun 10 tahun, mestinya sudah banyak perubahan penting di Amerika Serikat atau mungkin juga di Timur Tengah. Apalagi pasca 11 September. Mungkin kawan2 kita yang ada di Barat bisa cerita sedikit perubahan itu?

    @Ataner
    Terima kasih. Saya hanya mengulas buku kok. 😀

    @ rozenesia
    Menurut saya sih gejala simboliasi baru menonjol setelah Revolusi Iran 1979, dan setelah kelompok2 muda Muslim banyak belajar di univeristas2 Timur Tengah.

    Mereka yang baru kembali dari kuliah di Timur Tengah ini terpengaruh dengan Wahabisme dan corak Islam yang “keras” (maklum Timur Tengah daerah konflik) semacam Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahir. Walaupun kelompok2 Islam yang terpengaruh Wahabisme di Indonesia sudah ada sebelumnya, kelompok terakhir ini punya pengaruh yang lebih kuat, terorganisasi, dan sistematis dalam beraktivitas.

    Walhasil, sering ada perbedaan penafsiran Islam dalam praktik sehari2 antara ustad lokal yang sangat mengindonesia (pendidikan Islam ala pesantren) dengan ustad yang berlatar belakang pendidikan Timur Tengah. Kalau ngoborol sama ustad lokal, saya cuma senyum2 mendengar rasa senewennya thd ustad2 keluaran Timur Tengah ini.

    Kalau mahasiswa2 Muslim belajarnya di negara yang Islam bukan mayoritas, biasanya cenderung menjadi lebih moderat, lebih mengakui pluralitas ya seperti Cak Nur. Saya pikir memang lebih cocok untuk konteks Indonesia Pak.

    Oh ya soal tiga kelompok itu, itu sebenarnya hanya simpulan saya dari uraian buku Lang. Lang tidak spesifik menuliskannya, saya hanya menafsirkan.

    .

  6. Menurut saya, lebih baik kita tidak usah membuat istilah2 baru, ex: islam arab, islam fundamental, islam liberal dan islam substansial.dan islam2 lainnya.itu akan mengakibatkan seolah-olah islam memang seperti itu….beragam

  7. walau bukan ide yang otentik, namun saya sependapat dan setuju wacana dan ide seperti tulisan Anda diangkat dalam permukaan lewat alternatif blog.

    Islam, para umatnya harus berusaha menemukan kembali formula yang tepat namun tidak kaku dalam menyikapi perkembangan jaman.

    selamat berdiskusi.

  8. Mengenai penafsiran Anda atas buku Lang tentang lahirnya tiga kelompok komunitas muslim-amerika, pun semestinya dikritisi juga 🙂 sebagaimana kritik Lang terhadap Islam ‘Mapan’.

    Overall, mencerahkan otak saya. Thanx atas artikelnya

  9. @hildaalexander
    Tiga kelompok itu sebenarnya dibicarakan Lang dalam bukunya. Salah satunya ya putera Muhammad (40) imigran asal Aljazair tadi, kemudian kenalan kulit putih Lang, dan sahabat Lang yang akhirnya murtad. Jadi bukan tafsiran bebas. Istilah yang lebih tepat: simpulan.

    Emang sebaiknya baca bukunya langsung. Highly recommended. 😀

  10. @Junarto,

    Kiranya buku dan ulasannya sangat penting untuk merefleksikannya di Indonesia.

    Terimakasih & updatenya ditunggu..

  11. bukunya Jeffrey Lang emang menarik, sy cuma baca satu sih, yang kovernya ijo, kalo ga salah judulnya Aku bertanya maka aku beriman (ato kebalik ya?)..hehe lupa, soalnya itu buku udah kukasih ke nyokap…kalo menurut saya menarik karena menyinggung masalah-masalah yang sebenarnya pengen banget kita perbincangkan DARI DULU, tapi takut/segen…karena kok kayaknya orang-orang pada nggak bahas soal itu…

    anyway,sudah lama akhirnya daku mampir lagi ke sini..soalnya habis obrak-abrik koleksi buku lama, nemu jurnalnya komunikasi UI tahun jebot (2004) and nemu nama yang agak familiar di baris redaktur pelaksana…hehe, masih di situ sekarang Mas?

  12. Ping-balik: Antum-antuman… « Gyl’s Journal

Komentar ditutup.