Home

Seorang produser berita sebuah stasiun televisi membeberkan rahasia dapur produksinya. Saya tanyakan, apakah perbincangan ini boleh saya muat di Semesta dalam Kata-kata, dia mengajukan syarat. Dia minta, jati diri, lembaga, dan beberapa nama disamarkan.

Sang produser berita kita sebenarnya punya idealisme kerja sebagai wartawan profesional. Tapi, sering dia dipaksa berlutut kepada struktur politik-ekonomi di atasnya. Boleh dibilang, betapapun terhormatnya praktisi media penyiaran, dia hanyalah buruh yang mengikuti keinginan sang majikan.

Jadi, sebutlah tokoh kita bernama X, usia 30-an. Jabatan produser berita di stasiun televisi Y.

Bagaimana prosedur pemberitaan di stasiun televisi Anda?

Setelah siaran (berita), kami rapat evaluasi untuk (menentukan) liputan besok. Produser-produser mengusulkan isu tertentu. (Isu) bisa bermacam-macam. Koordinator liputan membagi isu-isu itu ke tim liputan masing-masing. Tim A, misalnya, ke istana negara. Tim B ke Departemen Sosial. Kurang lebih (prosedur) di stasiun (televisi) lain sama.

(Setiap) pagi teman-teman (melakukan) liputan yang jadualnya tertempel (di papan pengumuman). Satu tim terdiri dari reporter, kamerawan, dan sopir. Koordinator liputan mengarahkan liputan mereka. Kalau ada perkembangan (peristiwa yang menarik), koordinator liputan mengarahkan.

Jadi, koordinator liputan itu (titik) sentral. Misalkan ada perkembangan di Pangandaraan: ada korban belum dievakuasi. Koordinator liputan (lantas) memerintahkan tim bertanya kepada Mensos (Meteri Sosial). Setelah dapat liputan, mereka lapor korlip (koordinator liputan). “Aku ke mana lagi nih?” Korlip menyuruh lagi, “Lo geser deh ke Balaikota, atau Menteng.” Setelah selesai, mereka kembali ke kantor sekitar jam 4.

Reporter mengetik berita. Produser menunggui. Produser mengedit akurasi, kelengkapan data, (dan mempertimbangkan) angle berita yang lebih menarik. Tugas utama produser memberikan arah, program (berita) ini mau diarahkan ke mana.

(Sementara itu,) kamerawan menunggu dulu. Gambar menunggu dulu. Naskah itu di-dubbing. (Kemudian,) gambar dipadukan dengan narasi.

Bagaimana dengan editor gambar menentukan gambar mana yang layak atau taklayak ditayangkan, apakah ada kriteria tersendiri?

(Editor) punya kriteria dan kode etik juga. Standar KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) ‘kan nggak boleh (ada) gambar-gambar kekerasan. Korban tewas (misalnya), harus diblur. Itu standar.

Lalu, bagaimana penerapan kode etik penayangan gambar itu?

Editor ‘kan juga ada koordinatornya. Biasanya koordinator mengawasi kerja mereka. (Sering gambar yang taklayak tayang justru) ketahuan pada saat ditayangkan. “Ini kenapa nggak diblur?”

Itulah miss, karena sudah buru-buru, kaset (hasil rekaman berita) datang mepet (dengan tenggat). Teori normal (kaset harus) datang jam 4. Kadang-kadang kami tayang jam 8, (tapi kaset) jam 7 baru sampai (di studio). Padahal proses (penyuntingan) itu masih harus berjalan.

Tetap ada pertimbangan gambar ini punya nilai jual atau tidak?

Iya, nggak semua berita yang dibawa teman-teman itu bisa naik (tayang). Karena space (jatah slot lama tayang) kami ‘kan sedikit.

Apa saja kriteria sebuah berita dapat diangkat?

Kita berbicara televisi, bicara audio visual. Nonsens sebuah berita bisa menarik kalau gambarnya nggak kuat. Jadi, intinya ada yang menarik dan ada yang penting. Kalau yang menarik ya secara visual kayak kerusuhan, bentrokan. Tapi, ‘kan ada juga isu yang penting seperti pengumuman kenaikan BBM (bahan bakar minyak).Secara visual nggak menarik. Tapi, itu penting, itu perlu juga kami sampaikan.

Selama teman-teman (menjalani) proses liputan, produser, koordinator liputan dan (koordinator liputan) daerah (melakukan) meeting. Apa isi berita (—–)? Nah, nanti produser minta masukan dari koordinator liputan. “Anak buah lo belanjanya hari ini apa saja?”

(Titik) sentralnya di rapat itu. Kami ‘kan punya durasi 30 menit. (Setelah) dipotong iklan durasinya (menjadi) 21 menit.

Bagaimana seorang editor gambar menyelaraskan kebutuhan gambar yang layak jual dengan kode etik?

Mereka punya standar ‘kan. Itu termasuk (syarat) kualifikasi seleksi mereka juga. Mereka harus tahu mana yang boleh dan nggak boleh.

Tapi siapa yang paling bertanggung jawab terhadap hasil keseluruhan penayangan berita?

Produser. Kesalahan apapun larinya ke produser. Dia penanggung jawab program ‘kan.

Apakah keberadaan KPI, mengganggu atau menghambat kerja praktisi media? Sejauhmana pedoman perilaku penyiaran itu bisa memberikan ruang bagi para praktisi penyiaran memberitakan peristiwa?

Latar belakang pendirian KPI ‘kan berangkat dari kegelisahan masyarakat terhadap tayangan TV. Saya setuju (tayangan) itu harus dibatasi (kode etik).

Misalnya, ketika Indosiar bikin “Patroli,” Semua (stasiun televisi) membuat tayangan kriminal. Semua jor-joran menjual adegan-adegan kekerasan. Itu harus dibatasi. Nah, semangat (kami) sama (dengan KPI).

Saya (pribadi) mendukung. Dari hasil diskusi dengan teman-teman (sejawat di perusaaan penyiaran lain terungkap bahwa) mereka setuju. Mereka sih nggak merasa dibatasi. Cuma (sayangnya) KPI menjadi tukang semprit saja, menjadi wasit saja. Padahal, kami ingin KPI (berperan) lebih jauh daripada itu. (Misalnya) KPI mengedukasi (kami) tentang standar yang baik dan tidak. Tapi, sampai sekarang belum.

Apakah ada kecenderungan para praktisi media penyiaran menganggap bahwa tayangan-tayangan semacam (kekerasan) itu justru menjual?

(Dulu kami) berlomba-lomba menjual penggeberekan, misalnya (program berita) kriminal. (Atau,) kalau ada berita bentrokan. Tapi, ke sini (semakin lama semakin) ada perkembangan. Tahun 2004, misalnya, orang-orang mulai jenuh. Itu bisa kelihatan (kalau) yang menjadi parameter para praktisi TV adalah rating dan share program.

Jadi, ukuran keberhasilannya itu ya?

Sejauh ini secara kuantitatif ukuran keberhasilannya itu. Tapi, ada juga ukuran kualitatifnya. Misalnya SCTV. Secara rating dia lebih rendah daripada RCTI. “Liputan 6 Petang” dan “Seputar Indonesia” jam tayangnya sama, (yaitu pukul) setengah enam. (Rating) “Seputar Indonesia” bisa 3,5; “Liputan 6″ 2,9. Tapi yang mempengaruhi opini publik adalah “Liputan 6.” Yang lebih punya akses ke penentu kebijakan adalah “Liputan 6″ alih-alih “Seputar Indonesia.”

Makanya, kalau kita bicara aspek kuantitatif larinya ke urusan iklan. Urusannya sales, marketing, penjualan iklan dan segala macam. Nah, itu yang disayangkan. Parameter satu-satunya yang dipakai para pemasang iklan ya cuma rating. Analisis mereka sederhana saja. “Program ini banyak ditonton orang, jadi saya pasang iklan di sini saja.”

Terbaca tidak, rating suatu berita meningkat, misalnya, ketika produser menayangkan berita-berita tertentu atau jenis-jenis tertentu. Apakah selalu berita kekerasan ratingnya lebih tinggi?

Nggak harus kekeraan. Bergantung kepada tingkat keingintahuan publik. Program (—–) kami biasanya ratingnya cuma 1. Tapi, pekan ini 1,4. Kami menganalisis karena gempa Pangandaraan dan kami live dari sana. Jadi, semua informasi diikuti penonton terus-menerus. (Pukul) setengah enam (orang) ‘nonton Liputan 6, mungkin jam 6 ‘nonton Metro. Itu bisa dianalisis.

Untuk menunjukkan aspek nilai berita, magnitude, atau daya tarik, apakah selalu kamerawan punya pertimbangan-pertimbangan tertentu? Misalnya pada kasus gempa.

Itu lebih (merupakan pekerjaan) produser. Contoh. Teman-teman reporter dan kamerawan (melakukan) liputan. Reporter (kemudian) menulis naskah seperti ini. (Naskah) itu sering sekali dirombak habis, diambil angle lain. Misalnya berita statement SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) bahwa penanggulangan korban sudah berjalan. Produser bisa jadi nggak mau (angle) itu. Dia ingin mencari statement yang bisa lebih menjual menurut dia. Dan itu nggak seragam (di antara) saya dan produser yang lain. (Titik) sentralnya rapat proyeksi itu. Kami berdebat, mengapa (liputan) ini harus tayang.

Magnitude, proximity itu penting juga. Jadi, lagi-lagi karena urusan bisnis. Larinya ke rating lagi. Karena rating Nielsen (mengambil) respondennya 67 persen lebih — kalau saya nggak salah — di Jakarta dan sekitarnya, otomatis kami mencari berita yang magnitudenya kuat di sini. Tapi, (bisa juga), misalnya, Gempa Pangandaraan. Meskipun jauh (dari Jakarta), pengaruhnya kuat.

Kembali ke soal rapat redaksi. Apakah pernah dalam rapat redaksi, sebuah usulan tidak dapat diterima meskipun sudah mencapai mufakat. Misalnya karena faktor nonredaksional semacam tekanan dari pemilik modal?

Kami, misalnya, dilarang memberitakan demo-demo berhubungan dengan mantan-mantan penguasa. Atau, bahkan ada agenda titipan dari korporat. Misalnya kemarin (grup media kami) bekerja sama dengan Badan Metereologi dan Geofisika tentang informasi gempa. Informasi itu ‘kan nggak menarik, terlalu lokal, terlalu berbau bisnis. Secara nilai berita nggak menarik. Tapi, karena ada instruksi dari bos….

Jalur tekanan itu dari mana atau melalui siapa? Apakah disuarakan dalam rapat redaksi secara terbuka, atau tertutup dari garis komando tertentu?

Jadi, peserta rapat redaksi (adalah) produser, koordinator liputan, koordinator daerah, dan produser eksekutif, serta asisten produser. Tekanan-tekanan itu datangnya dari informasi. Biasanya produser eksekutif ditelepon oleh pemimpin redaksi. “Tolong berita (grup media) kita ditayangkan,” atau “tolong berita tentang (—–*) ditayangkan.”

(*Narasumber menyebut nama salah satu unit usaha kelompok konglomerasi nasional yang bergerak dalam bidang telekomunikasi).

Saya yakin itu bukan dari dia (pemimpin redaksi). Dia juga pasti ditelepon board of directors.

Jadi di atasnya pemimpin redaksi itu adalah direktur. Mereka yang mempunyai saham.

Kurang lebih begitu.

Berita-berita apa yang dilarang tayang?

Demo anti-Suharto…

Sebuah stasiun televisi, misalnya, punya rekaman lengkap kejadian TNI memukuli Farid Fakih. Cuma karena Karni Ilyas ditelepon langsung Syafrie Samsudin…. Hal-hal semacam ini sudah biasa terjadi (jika media berhadap-hadapan dengan) penguasa dan militer.

Apakah ada kecenderungan penayangan berita itu dirahkan untuk mendelegitimasi lawan bisnis pemilik modal?

(Narsumber mengisahkan contoh, bos besar pemilik grup media tempat dia bernaung pernah terjegal isu skandal).

Tapi repot juga, dilematis. Memberitakan tidak sesuai dengan keinginan ini… ya tewas…

Apakah ada keinginan melawan?

Bukan melawan, tapi menyiasati. Oke itu agenda titipan. Tapi, (tujuan) pesan kami (adalah) tetap mengedukasi masyarakat, bahwa permasalahannya begini. Kami tetap (memberikan) dua versi. Versi lawan ditayangkan juga. Biar publik menilai. Walaupun pada beberapa kasus pernah (kami) disetir juga kali ya, diarahkan seperti ini (agar memberitakan dengan kemasan pesan tertentu). Contoh (lain), supaya tersosialisasi, teks berjalan ditayangkan berulang-ulang di semua program bahwa direktur utama (—–) tidak terlibat dalam kasus ini.

Bagaimana menyiasatinya supaya pengemasannya bisa terlihat wajar?

Agak sulit, terutama untuk penonton yang well-informed. Tapi kalau publik umum mereka nggak mengerti apa-apa. Itu bukan berita yang menarik sebenarnya. Itu hanya kewajiban (dari perusahaan kami) saja. Kami punya keyakinan bahwa berita-berita semacam itu tidak akan ditonton orang.

Musuh pengelola televisi cuma satu: remote control. Orang ‘nonton, tapi nggak (ada acara) menarik, tinggal balik (ke acara lain). Kekuasaan penonton besar ‘kan.

Jadi kembali ke pesan sponsor tadi, apakah pesan itu dikemas dengan standar jurnalistik?

Iya dong, cover both side, masalahnya apa.

Jika ada tayangan berita atau apapun yang tidak menyenangkan pihak direksi, pemilik modal, apakah ada sanksi yang menimbulkan efek jera?

Yaaa dikeluarkan….

Pertanyaan terakhir, apakah kekuasaan pemilik modal sangat dominan?

Sangat dominan.

Seberapa dominan?

Relatif. Kalau menurut saya sangat dominan. Kami harus mereduksi idealisme kami. Kami ‘kan punya standar, secara visual yang bagus itu seperti ini. Berita yang bagus itu begini. Tapi karena pertimbangan pemilik modal tadi, (berita itu) nggak bisa ditayangkan.

Tapi item berita ‘kan banyak. Bisa kami siasati bagian-bagian lain. Banyak orang, misalnya, mengkritik, kami menjual tangisan. Tapi, dengan (cara) itu kami ingin menunjukkan kepada publik ini lho penderitaan korban-korban gempa yang sampai dia menangis belum mendapat bantuan apa-apa. Dengan begitu kami berharap mucnul gelombang simpati dengan pengumpulan dana. Solidaritas, dan segala macam (tanggapan).

Iklan

17 thoughts on “Berita Tak Sesuai Keinginan Bos Besar? Tewaslah Saya…

  1. Sip informasinya sangat berharga, terutama cara kerja di dapur stasiun televisi… Sayangnya kekuasaan masih membatasinya…

    Semoga sang produser yang sampean wawancarai, mau mbuat buku yang menceritakan “borok” stasiun TV. Mungkin di akhir kariernya kali ya… supaya gak “tewas” oleh bos besar 😀

  2. setuju dg mas Alief. Bikin buku, tp jgn sekarang ya? :mrgreen:
    ternyata lika liku pertelevisian rumit juga ya dan lagi2 masalah kekuasaan! Fiuhhh!

  3. @ banbego, alief, landy, irwan
    FYI, produser yang saya wawancara ini perlu dibujuk supaya perbincangan kami bisa diangkat. Naskahnya saya kasih dia dulu ke dia supaya bisa disensor sebelum diposting. Maklumlah…. 😀

  4. sepakat. betul kata narasumber mas itu. saya juga dulu wartawan. dan ketika berita yang saya liput berseberangan dengan keinginan “para dewa” di atas (padahal redaktur saya sudah antusias!), didroplah berita saya. sekaligus bikin ngedrop mental kami (saya dan redaktur).

    Saya waktu itu ngomong dengan nada kesal sama redaktur, “Katanya kebebasan pers? Tapi kok bisa terbantai sama hierarki perusahaan sendiri? Sama aja bohong dong! Toh bahan yang saya dapat ini bukan rekayasa!”
    Redaktur saya, yang juga kelihatan jengkel (tapi ditahan-tahan) menjawab, “Mempertahankan idealisme memang sulit, Nin! Biar begitu, kamu harus tetap jadi wartawan yang lurus..”

    Wah, saya jadi kangen sama para redaktur saya dulu: Pak Heru Suprantio, Pak Chairil Makmun, dan Pak Sarluhut Napitupulu. Salam kompak, bos!

  5. saya setuju bgt yg dikatakan narasumber mas junarto. kenapa? karena media massa juga industri. saya juga berkecimpung di media massa, terkadang tekanan pemilik (pemegang saham) memang ada, tapi intensitasnya bisa dihitung dgn jari. artinya, kalo bicara prosentase, terlalu kecil dibandingkan dgn agenda masyarakat yg bisa kami perjuangkan.

    ambil contoh, kasus STPDN. Kalau media massa tidak gencar memberitakan, bisa jadi praktek premanisme msh semarak di sana. saya kira, di situlah idealisme berbicara. kita juga berpikir, bagaimana kalo yg jadi korban seperti Cliff Muntu itu adik, kakak, saudara kita. Naluri kemanusiaan seperti itu juga kerap muncul di ruang redaksi. Jadi tidak melulu bicara soal rating, iklan, sales, dan sebagainya.

    saya bukan membela profesi, tapi masih banyak celah untuk memperjuangkan idealisme. sori mas junarto, saya kok agak “terganggu” dengan judul yg mas pilih, agak tendensius gitu. prakteknya tidak seseram yang anda kira kok. Kita gak bakal ditembak kok, kalo gak nayangin atau memuat berita itu hehe…

    yg pasti msh ada proses diskusi atau debat. bahkan (menurut teman saya di sebuah televisi) terkadang berita seperti itu juga bisa di-drop, jika durasi sudah tidak mencukupi. krn televisi juga industri, tentu berita yg punya news value lebih besar akan mendapat prioritas, dibanding agenda korporasi yg kepentingannya terlalu sempit.

    sekedar urun rembuk.

    NB: blog-nya bagus, salam kenal dari saya

  6. Wah, ternyata sebelum sebuah berita nyampe ke mata pemirsa, terlebih dulu mengalami proses yg panjang dan ribet banget ya..
    Terimakasih untuk ilmunya.. 😛

  7. Sama juga terjadi di Amrik. Bisnis media adalah bisnis perspektif. Politisir ini dan itu adalah makanan sehari2. Bahayanya adalah media mogul yang menguasai mayoritas media dunia. Good job dengan blog ini.

  8. Berita di media pada akhirnya adalah sebuah realitas kedua yang tidak sepenuhnya sama dengan realitas pertama (sesungguhnya). Realitas kedua yang dibentuk oleh pihak media sendiri menurut sudut pandang mereka. Bisa jadi sebuah realitas akan diberitakan berbeda (dan memberi penafsiran yang berbeda pula) antara satu media dengan media yang lain.

    Artikel Bung Junarto ini menyadarkan kita agar tetap kritis & tidak “menelan” begitu saja pada berita yang disampaikan media.

    Good job Bung. Salam untuk anda & narasumber anda. Keep fighting in your idealism.

  9. Menurut Saya, dalam hidup ini kita pasti sering dihadapkan pada situasi-situasi yang sulit, contohnya saja pada petikan wawancara yg Mas Junarto lakukan. Tapi toh, semua pilihan ada di tangan kita, mau mengabaikan ataukah mengikuti suara hati, dg segenap konsekuensi di belakangnya tentunya. Namun, Saya percaya bahwa dg berteguh thd idealisme yg kita yakinilah yg pada akhirnya bs membedakan kita dari manusia2 yg lain, meskipun kita harus ‘menebusnya’ dg harga yg sangat mahal. Tetaplah mjd seorang idealis.

  10. Informatif dan ‘sedikit’ investigatif hehehe, saya tak tahu apakah si Bung ini yang menyebarluaskan artikel adalah juga seorang jurnalis.

    Tapi, pernahkah Anda mencermati atau minimal menyimak acara-acara berita yang tayang di empat stasiun TV? kenapa saya batasi empat? karena ada grup media yang punya 4 stasiun dan ada juga yang dua. Kita pilah saja berita yang tayang sore hari, entah seputar indonesia, redaksi sore, reportase sore, liputan 6. Keempat acara berita itu, nyaris, hanya menjual keseragaman tema, angle berita, dan eksekusi.

    Mari kita bedah proses pencarian berita di lapangan. (proses penentuan topik kan sudah ditulis di atas dalam rapat redaksi). Dalam ranah pencarian berita, ada yang namanya forum wartawan. Para jurnalis yang gabung di dalamnya sesuai dengan desk masing-masing, ada forum wartawan istana wapres (forwapres) ada forum wartawan BI, foum wartawan kementerian perumahan rakyat (forwapera), ada forum wartawan Polda Jaya, dan lain-lain. Mereka kemudian berburu data, fakta dan narasumber.

    Seringkali, isu (topik) datang dari narasumber di mana para jurnalis ini biasa ngepos (istilah tempat sehari-hari wartawin mencari berita). Celakanya, yang terjadi kemudian adalah para jurnalis hanya puas terbekali dirinya dengan rilis atau statement nara sumber pemberi informasi tanpa ada keinginan untuk menggali lebih dalam informasi yang disampaikan. Sehingga, hasil penulisan yang tayang/dipublikasikan, mudah ditebak, seragam.

    Saya kira, kontribusi atas tergadaikannya idealisme si produser, bukan semata karena keinginan Big Boss, juga ‘kemalasan’ para jurnalisnya. Mereka nyaris memiliki angle yang sama atas satu isu. Bahkan subur praktek-praktek copy paste, hanya redaksionalnya mengalami modifikasi.

    Akhirnya, kreatifitas dan inovasi dalam menciptakan angle alternatif menjadi tumpul. Dan yang rugi adalah para pemirsa dan atau pembaca. Mereka dipaksa menyaksikan berita hasil olah ‘konspirasi’ antara narasumber pemberi informasi dan sebagian jurnalis yang malas. Ini yang saya ketahui…….

    Sekadar berbagi…..

  11. @hildalexander

    Saya kira, kontribusi atas tergadaikannya idealisme si produser, bukan semata karena keinginan Big Boss, juga ‘kemalasan’ para jurnalisnya. Mereka nyaris memiliki angle yang sama atas satu isu. Bahkan subur praktek-praktek copy paste, hanya redaksionalnya mengalami modifikasi.

    Saya setuju. Banyak faktor yang menyebabkan kualitas berita kita terdistorsi. Yang saya ungkapkan hanya salah satunya.
    😀

Komentar ditutup.