Home

Perkembangan siaran televisi di negara kita baru dimulai pada tahun 1962 tatkala Indonesia menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan Pesta Olah Raga Asia. Pertelevisian ketika itu bagian proyek mercusuar selain Simpang Susun Semanggi, Monas, dan Gelanggang Olah Raga Senayan.

Boleh dibilang, dia dibangun tanpa visi jelas tentang cetak biru jaringan pertelevisian nasional di masa depan. Atau, ia ada tanpa alasan yang rasional. Pokoknya dia harus ada agar Indonesia dianggap ‘sejajar’ oleh bangsa lain.

Industri pertelevisian biasanya tumbuh pesat di negara-negara demokrasi yang menjalankan ekonomi kapitalisme. Di negara-negara ini televisi dipandang sebagai peluang bisnis. Sebaliknya, di negara-negara otoritarian, televisi cenderung dijadikan sebagai alat propaganda alih-alih ruang publik.

Sampai tahun 1989 Indonesia memiliki sebuah stasiun televisi saja. Lantas kapitalisme kroni ciptaan Orde Baru tiba-tiba tumbuh pesat pada awal 80-an sampai 90-an. Ini menyebabkan distribusi kemakmuran timpang: segelintir kroni penguasa memperoleh 90 peratus pendapatan negara.

Modal yang tertumpuk di satu kelompok inilah akhirnya disalurkan untuk membangun stasiun televisi swasta. Itupun didirikan tanpa suprastruktur pendukung seperti regulasi tentang penyiaran. Regulasi dibuat kemudian justru setelah stasiun televisi swasta berdiri (Sunardian Wirodono, 2005).

Dalam konteks inilah jurnalisme televisi nasional berkembang. Tradisi pemberitaan televisi sendiri sebenarnya sudah muncul pada tahun 1978 melalui Dunia Dalam Berita yang diproduksi TVRI. Akan tetapi, warta berita televisi sebagai sebuah bisnis informasi baru muncul pada era 1990-an sejalan dengan pertumbuhan stasiun televisi swasta.

Liputan 6 SCTV, misalnya, mengudara pada tahun 1996. Pengelola bilik berita (newsroom) Liputan 6 berasal dari media cetak. Tanpa pengalaman di dunia pemberitaan televisi, kebanyakan mereka bekerja sambil berlatih dengan situasi baru dan alat-alat yang asing (h.54).

Liputan 6 menemukan momentum untuk menjadi popular pada saat krisis ekonomi dan politik pada tahun 1998. Pada saat itu stasiun-stasiun televisi harus bertahan hidup karena pembelanjaan iklan oleh perusahaan-perusahaan nasional menurun drastis. Pendapatan televisi berkurang, sehingga pos pengeluaran harus ditekan. Produksi siaran berita merupakan jalan keluar lantaran biaya produksinya jauh lebih murah ketimbang impor film, ataupun membeli sinetron dari rumah-rumah produksi. Di sisi lain, ada kebutuhan masyarakat akan informasi tentang perkembangan situasi tanah air terkini sebagai akibat ketidakpastian ekonomi dan politik saat itu.

Hal yang menarik dari jurnalisme televisi era 1997-1998 adalah para awaknya mendukung gerakan reformasi walaupun sesungguhnya stasiun televisi swasta dikuasai oleh para pemilik modal yang dekat dengan istana.

Di Malaysia, gerakan reformasi berakhir menyedihkan. Sang pemimpin, Anwar Ibrahim, difitnah dan dipenjarakan. Sebab, media massa di negeri itu dimiliki oleh partai yang berkuasa– UMNO–dan cenderung mempertahankan status quo.

Namun, di Indonesia, gerakan reformasi bisa bergema. Salah pendorongnya adalah ekspose oleh media massa semisal televisi. Stasiun televisi menayangkan perkembangan krisis politik, ekonomi, dan sosial dari hari ke hari secara nyata. Terutama rekaman gambar dramatis peristiwa penembakan oleh aparat terhadap para mahasiswa yang berunjuk rasa 12 Mei 1998.

Pada masa itu semua stasiun televisi swasta membingkai pemberitaan bahwa “rakyat menginginkan perubahan atas kemapanan.” Artinya, di tengah cengkraman kepentingan kapitalisme dan kekuasaan yang mempengaruhi kandungan tayangan secara kuat, awak televisi masih mempunyai idealisme, atau kegelisahan moral akan realitas sosial di sekitar mereka. Di sisi lain, stasiun televisi sendiri didesak oleh tokoh-tokoh pembangkang agar mendukung gerakan reformasi. Apalagi setelah korban jiwa berjatuhan, takada alasan lagi untuk menghindarinya.

Pertarungan moral antara idealisme dan pragmatisme para jurnalisme televisi tergambar pada periode ini. Liputan 6, misalnya, mencoba mengangkat isu yang sangat peka kala itu: suksesi. Melalui siaran wawancara langsung, ia menghadirkan Sarwono Kusumatmaja, seorang tokoh kritis yang bersimpati pada mahasiswa. Dalam wawancara nyata Sarwono dengan blak-blakan membuat perumpamaan Suharto dengan “gigi yang harus dicabut.”

Pieter Gontha–sang pemilik yang dekat dengan Cendana–dan Sumita Tobing–direktur pemberitaan–langsung meminta produser acara Don Bosco Selamun agar menghentikan wawancara. Pieter Gontha sendiri ditegur oleh sejumlah pejabat berwenang. Begitu juga, Don Bosco Selamun, akhirnya dikenai skorsing. Akan tetapi, pemberitaan ini memicu rasa simpati stasiun televisi lain yang kemudian juga mengekspose, atau membingkai berita yang mendelegitmasi kekuasaan. Misalnya pernyataan elit-elit politik reformis yang menuntut agar Suharto mundur. (h.66-72).

Pascalengsernya Suharto, Liputan 6 beberapa kali mengangkat peristiwa yang menimbulkan kontraversi, atau sensasi, sebagai komoditas yang bernilai jual tinggi. Di antaranya kekerasan di kampus STPDN, tertembaknya pemimpin militer Gerakan Aceh Merdeka Abdullah Syafe’i, dan kekerasan di kampus Universitas Muslim Indonesia.

Pada dasarnya fenomena Liputan 6 memperlihatkan bahwa jurnalisme televisi kita tengah berkembang dan semakin mepertunjukkan bentuknya. Terlihat ada keinginan awak jurnalisme televisi untuk menjadikan pemberitaan televisi sebagai ruang publik yang memediasi kepentingan masyarakat dengan penguasa.

Akan tetapi, secara umum, kandungan buku ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ‘puji-pujian’ terhadap Liputan 6. Ia seolah menempatkan Liputan 6 sebagai salah satu contoh keberhasilan ruang publik sejati. Tentu saja, itu lebih karena buku ini dicetak untuk merayakan keberhasilan Liputan 6 mengudara selama satu dasawarasa. Bukan sebuah karya ilmiah.

Para tim redaksi LP3S yang merancang buku ini, sebagai contoh, tidak mengkritik posisi Liputan 6 ketika prestise SCTV–dan stasiun-stasiun televisi swasta lain di Jakarta–sebagai ‘stasiun televisi nasional’ terancam. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kala itu mengumumkan rancangan regulasi yang mengakhiri monopoli siaran oleh stasiun televisi swasta Jakarta di seluruh negeri. Liputan 6 saat itu justru cenderung menjadi corong pemilik modal yang khawatir bahwa pemberian ruang bagi stasiusn televisi daerah bisa memangkas pendapatan iklan mereka (karena khalayak mereka berkurang atau semakin terbatas).

Tanpa malu-malu Liputan 6 pada saat itu membatasi wawancara pada narasumber-narasumber yang melegtimasi posisinya. Anggota KPI Ade Armando, umpamanya, tidak dipilih sebagai narasumber wawancara hidup lantaran pernyataan-pernyataannya bertentangan dengan kepentingan bisnis SCTV. Tentu saja bukan hanya SCTV, keinginan merajai pangsa iklan nasional menjadi ambisi hampir semua stasiun televisi di Jakarta.

Jadi, klaim buku ini bahwa Liputan 6 telah mewakili kepentingan publik, harus kita sikapi dengan hati-hati. Sebab, toh pada kenyataannya, kepentingan bisnis mereka masih dominan. Atau pendek kata, pada masa mendatang, Liputan 6 masih harus menunjukkan dengan tegas siapa yang ia representasikan sesungguhnya: publik, atau kepentingan sekolompok orang yang berkuasa dan bermodal?

Judul Buku: Jurnalisme Liputan 6: Antara Peristiwa dan Ruang Publik; Penulis: Tim Redaksi LP3S; Penyunting: Maruto M.D.; Pengantar: Iskandar Siahaan; Tebal: 240 halaman; Penerbit: PT Pustaka LP3S Indonesia; Tahun: 2006

Iklan

11 thoughts on “Liputan 6 SCTV Memihak Siapa?

  1. Jakarta, 6 November 2007.

    Junarto Imam Prakoso yang baik,

    Saya suka membaca ulasan Anda. Judul yang Anda pakai reflektif. Setiap warga memang harus senantiasa kritis bertanya: siapa yang dibela atau pada siapa media pers berpihak? Hanya saja, saya kira, jawaban atas pertanyaan itu tidak ditentukan semata oleh para wartawannya. Di sana ada faktor regulasi pemerintah, kepentingan modal, dan tekanan publik. Masing-masing faktor itu juga masih bisa dikuliti untuk mendapatkan kekuatan inti penggerak arah keberpihakan itu. Misalnya, faktor wartawan. Mereka ini pun tidak tunggal dan menetap. Ada banyak kepentingan dan cara pandang pada mereka terhadap berita. Dan, itu dinamis sifatnya sesuai perkembangan situasi. Faktor tekanan publik, kepentingan modal, regulasi pemerintah, bahkan kepentingan elite politik berpengaruh pun bisa dikita urai lebih jauh.

    Kepada siapa Liputan 6 SCTV berpihak? Jawabannya pun bisa begitu beragam dan dinamis. Kami sebagai praktisi, wartawan, inginnya berpihak pada kepentingan dan harapan publik. Apa kami berhasil? Itulah sebabnya ketika itu kami memilih tidak menuliskan sendiri buku tentang sepuluh tahun (dasawarsa) Liputan 6 SCTV. Kebetulan saya merancang dan memilih pihak yang pantas menulis, perlu saya informasikan bahwa tim redaksi LP3ES sudah terkenal dengan reputasinya sebagai LSM yang kritis. Dalam proses penulisan, ketika draf dikirimkan, justru saya meminta agar tulisan jangan terlalu banyak puja-puji. Kami justru butuh kritik dan makian agar jurnalis Liputan 6 SCTV “terkejut” bekerja lebih baik lagi.

    Tapi, begitulah hasilnya. Apa hendak dikata. Kami juga tidak bisa mendikte dan memaksakan kehendak kami. Jika Anda baca pengantar yang saya tulis, jelas di situ ada harapan untuk mendapatkan pandangan yang kritis.

    Jadi, ulasan Anda saya kira memang tepat. Saya pun merasakan itu. Terimakasih dan maju terus dan tetap semangat.

    Iskandar Siahaan
    Kepala Litbang Liputan 6 SCTV.

  2. Saudara Junarto,

    Anwar Ibrahim mungkin sosok ketua reformasi di Malaysia bagi kebanyakan “orang terpelajar” di Indonesia. Beliau juga banyak pendukungnya di Malaysia. Anwar Ibrahim kelihatannya sebagai pejuang reformasi tulen di Malaysia, terutamanya dari sudut pandang gaya demokrasi Amerika dan kebanyakan orang di luar Malaysia.

    Itu pendapat sebagian orang. Bagi diri saya tidak begitu. Saya juga pendukung reformasi. Mahathir bukanlah baik sangat. Badawi juga bukan baik sangat. Tapi bagi saya, setakat ini, Anwar lebih jelek dari mereka berdua.

    Saya malah menganggap Anwar Ibrahim itu punya potensi dikategorikan sebagai pengkhianat negara! Apa kerna dia punya masalah ama Mahathir lantas mau dijualnya Malaysia kepada Amerika? Masalah ama lawan politik ya masalah ama lawan politik lah tapi jangan sampai mengkhianati tanah tumpah darah sendiri. Ini menyangkut seluruh rakyat! Ini pendapat saya aja, pendapat orang lain mungkin lain pula.

    Kalau kamu pengen tau, yang bikin akta bagi menghalang aspirasi mahasiswa itu Anwar Ibrahim lho. Yang mau “menjual” Malaysia kepada Amerika waktu krismon dulu, juga Anwar. Pikir Anwar suci dari KKN?

    Yang membebaskan Anwar dari penjara itu siapa? Badawi tau! Kini dia menentang Badawi terang-terangan. Apa dia ga boleh menggunakan cara yang lebih baik dari itu dalam “memperjuangkan kebenaran”?

    Kalau ditelusuri perjalanan politik Anwar, secara pribadi saya beranggapan orang ini sama atau lebih berbahaya dari Mahathir atau Badawi.

    Bagi diri saya, Malaysia ketandusan pemimpin sejati. Kami mencari tokoh seperti Tun Dr Ismail, seorang yang pintar, berilmu, berwibawa dan bersih. Salah-satu penyebabnya ketandusan pemimpin ialah “pembunuhan” pembenihan pemimpin pada peringkat mahasiswa yang dilakukan oleh saudara Anwar Ibrahim.

    Yang dinamakan politik dan gimana sifatnya majoriti orang politik ya begitu. Namun begitu, saya masih menghormati pemimpin2 saya itu. Jelek2nya mereka, mereka pernah memimpin negara saya dan pernah membuat kebaikan. Saya bukannya bangga. Tidak perlu bangga-banggaan atau rasa terhina juga. Sekadar satu pengakuan saja.

    Saya akui Indonesia lebih demokratis, malah bagi kami, Indonesia terlalu demokratis dalam beberapa perkara. Tapi seperti majoriti rakyat Malaysia yang lain, kami ga terlalu menyanjungi demokrasi. Kami memandang demokrasi itu sebagai satu elemen, bukan sebagai satu perkara yang terlalu pokok. Kebanyakan rakyat kami menganggap yang paling utama ialah keamanan bermasyakat, beragama dan berekonomi.

    Saya pernah mengidolakan Mahathir, Badawi dan juga Anwar. Kini saya tidak mengidolakan siapa2 lagi kecuali yang mulia Rasulullah SAW.

    Oh iya, sebelum mengakhiri, saya ingin menegaskan bahawa saya juga berterima kasih kepada pemimpin2 saya itu, Mahathir, Badawi dan juga Anwar. Mereka manusia biasa. Ada baik dan ada jeleknya. Itu hakikat yang kebanyakkan dari kami pegangi.

    Semoga Malaysia dan Indonesia aman2 dan berjaya! Insya’allah! Amin.

    Sekian. Terima kasih.

  3. sia[a bilang kita hanya mengurusi dan menghargai politik. orang indoensia sudah capek dgn politik.

    demokrasi hanya berkaitan dengan distribusi dan pengambilan keputusan yg lebih baik dalam bidang politik, tapi tidak berkaitan erat dengan kemajuan ekonomi.

    malah yg signifikan buat ekonomi itu yg ini nih …

    Nah, ini dia contohnya yg melestarikan budaya indonesia di Malaysia. Cerdik betul anak neh …..

    Tarian demi tarian Malaysia tampil. Saya mencoba menikmati, namun selalu dengan perasaan ganjil. Saya sudah menyaksikan tari saman, tari piring,
    tarian bambu gila, dan tarian dayak. Saat mendengar ”dinding badinding ooo.. dinding badinding… ” berkumandang, saya tak kuat lagi.

    ”Apakah kita sedang pulang kampung?” bisik saya kepada Imanuddin Razak di sebelah. Redaktur *The Jakarta Post* itu tersenyum. Ia orang Minang. Tentu lebih akrab dengan tarian-tarian itu, walau sudah dilabeli ”Malaysian Cultural Show”.

    Acara berakhir dengan tepuk tangan panjang pengunjung restoran. Tamu-tamu berdiri. Orang-orang Inggris, Belgia, Prancis, Arab Saudi, Thailand, dan Uni Emirat Arab menyerbu panggung. Mereka berfoto bersama para penari. Luar biasa. Restoran dengan menu rendang yang enak itu menyajikan hiburan dengan cara yang memikat dan profesional.

    Siapakah Saloma yang menjadi nama restoran itu? Ia bintang film terkenal Malaysia … dan … ia asal Indonesia. Saloma adalah istri P Ramlee. Siapakah P Ramlee? Ia biduan terkenal Malaysia … dan … juga asal Indonesia. Nama depannya adalah Puteh. Nama Aceh.

  4. @ papabonbon

    sia[a bilang kita hanya mengurusi dan menghargai politik. orang indoensia sudah capek dgn politik.
    demokrasi hanya berkaitan dengan distribusi dan pengambilan keputusan yg lebih baik dalam bidang politik, tapi tidak berkaitan erat dengan kemajuan ekonomi.

    Saya setuju. Benar, yang diinginkan rakyat pascareformasi politik adalah penguatan ekonomi seluruh rakyat.

  5. hmm.. memang penguasa media adalah penguasa wacana yang dikonsumsi masyarakat, ia bisa mengubah pemahaman masyarakat ke arah yang diinginkannya (blia masyarakat tidak kritis).

  6. weh……. ulasan yang menarik……

    hidup penuh dengan kepentingan dan keinginan… sebenarnya seberapa cerdaskah kita bisa memanage keinginan dan kepentingan tersebut….
    media masa menurut saya, termasuk SCTV di dalamnya pasti mempunyai kepentingan juga… yang penting seberpa jujurkan mereka bisa mempertahankan kepentingan mereka? dan sudahkah kepentingan itu berpihak kepada masyarakat?
    menurut saya…. pasti “orang” lebih mementingkan “kepentingan/misi” nya dari pada kepentingan orang lian…

    cau

  7. Sekarang ini media juga masih di setir oleh beberapa golongan politik tertentu.
    Saat kunjungan Megawati di Brebes beberapa waktu lalu, terjadi keributan yang tidak mengenakan karena ucapan Bu Mega pada seorang pengunjung. Disitu ada beberapa wartawan baik dari SCTV, Trans, Metro dan lain sebagainya. Saya yakin kalau para wartawan tersebut meliput dan menulis kejadian tersebut.
    Tapi anehnya tidak ada satupun media yang berani menayangkan kejadian tersebut.

    Terima Kasih

  8. Liputan 6 memihak siapa? hehehehe 🙂 pertanyaannya gampang tapi susah dijawab……

    Pada jaman Karni Ilyas, siaran berita SCTV jadi trend setter dan leader. Liputan 6 jadi ikon. Suksesnya Liputan 6, tak lepas dari faktor Karni Ilyas (ini menurut saya pribadi lho, mohon maaf kalo gak ada yang setuju). Saat Karni memimpin, nyaris tak ada satu pun acara berita dari stasiun tv lain yang mampu menyamai atau menyaingi Liputan 6.

    Tapi, coba sekarang lihat. Sepeninggal Karni, adakah Liputan 6 menggebrak jagat pemberitaan Nasional? orang sekarang lebih suka menyaksikan TV Magazinenya Trans TV, Fakta-nya ANTV, atau Metro Realitasnya Metro TV.

    Karni eksodus ke ANTV, jaringan tv milik Ical ini langsung meroket dengan live event penembakan Dr Azahari di Malang…..

    Back to the topic, Liputan 6 SCTV menurut saya, telah menjelma menjadi sebuah legenda. Siapa yang dipihakinya? kalo dulu kelas menengah yang merupakan agen reformasi, demokrasi, dan transformasi, kini Liputan 6 cenderung memihak kepentingan pemodal (mohon maaf apabila ada yang tersinggung). Faktor Rosiana Silalahi, yang menurut saya hanya bagus as a journalist yang punya banyak relasi dan tidak bagus as a leader, sedikit banyak mempengaruhi haluan Liputan 6.

    Liputan 6 menjadi keropos, ditinggalkan SDM-SDMnya yang potensial….. (ini sekadar opini pribadi, sekali lagi)….

  9. lam kenal bos..

    saya termasuk penggemar setia liputan 6 sampai sekarang.

    yang saya rasakan adalah berkurangnya ketajaman analisa dalam setiap pemberitaan..

    entah kenapa hal itu bisa saya rasakan.

    Hanya saja, memang sepeninggal eyang karni, liputan 6 lama2 seperti lepas jati dirinya sebagai acara berita paling tajam.

    tapi ini yang saya rasakan lo…

    salam

Komentar ditutup.