Home

Pernah Time Europe pada edisi 24 Desember 2001 memuat judul sampul “Islam in Europe: A Changing Faith,” dengan gambar seorang wanita Muslim yang berkerudung  mengenakan busana Eropa modern.

Majalah itu menggambarkan terdapat 5 juta warga Muslim di Prancis, 3,2 juta di Jerman, 2 juta di Inggris. Jumlah mereka berambah seiring terus mengalirnya gelombang imigran Muslim ke Spanyol, Belanda, Italia, Belgia, dan kawasan Skandinavia.

Komunitas Muslim Eropa tengah membentuk karakter yang berbeda dengan negara-negara asal mereka di Asia Barat, Tengah, Selatan, Tenggara, dan Afrika Utara. Islam di Eropa berasimilasi dengan ide-ide Barat mengenai sekularisasi dan demokrasi. Dua gagasan itu sampai saat ini berbenturan dengan penafsiran tradisional sebagian Muslim.

Benturan pertama, Islam merupakan agama yang menganut humanisme kolektif, sehingga doktrin-doktrinnya merupakan moral imperative sekaligus hukum positif yang mengikat komunitas Muslim.

Benturan kedua, demokrasi yang dipercaya Barat sebagai mekanisme politik terbaik pada kenyataannya tidak pernah menjadi tradisi Muslim.

Konsep kekuasan demokratis pertama dipraktikkan masyarakat Yunani Kuno pada abad ke-6 SM. Perlu dicatat bahwa peradaban Yunani purba sangat berpengaruh dalam menyumbangkan kemajuan bagi perkembangan peradaban dunia selanjutnya, karena  peradaban inilah yang pertama-tama menghasilkan pengetahuan bercorak ilmiah.

Pada abad ke-4, Kristen menjadi agama resmi di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Gereja menutup sekolah-sekolah Yunani yang dianggap menyebarkan ajaran-ajaran kafir. Kekaisaran Romawi sendiri akhirnya runtuh pada abad ke-6 akibat serangan bangsa-bangsa barbar dan meninggalkan kekacauan sosial-politik.

Peradaban Islam yang baru lahir pada abad ke-7 berkembang merambah wilayah-wilayah kekusaan Romawi yang masih tersisa di Kekaisaran Timur seperti  Syiria, dan Mesir. Pada saat inilah Islam bersentuhan dengan Hellenisme Yunani melalui peradaban Romawi.

Akibat pengaruh Yunani, peradaban Islam menghasilkan karya-karya ilmu pengetahuan dan seni dengan gemilang, sedangkan Eropa memasuki abad kegelapan (dark ages). Peninggalan peradaban Hellenisme yang tinggi di Eropa nyaris lenyap dari kepustakaan Eropa akibat dominasi gereja terhadap masalah sosial-politik.

Namun, pada abad ke-7 inilah peradaban Barat mulai bertumbuh, terutama ketika Perang Salib mempertemukan Barat dengan Islam. Barat yang menyadari ketertinggalan mereka mempelajari Hellenisme Yunani melalui peradaban Islam Spanyol. Persentuhan itu merupakan titik awal kebangkitan Barat, sehingga muncullah renaisans, atau kelahiran kembali peradaban Yunani yang sempat “hilang.”

Pada abad ke-17 dan 18, sains dan teknologi yang berkembang pesat mempertangguh kekuatan militer Barat. Setelah melewati abad pertengahan, Barat menyimpulkan bahwa kebenaran agama bersifat eksklusif sehingga agama harus melepaskan campur tangannya terhadap persoalan-persoalan sosial-politik.

Kemampuan Barat mengembangkan sains berimplikasi bagi penemuan-penemuan baru di bidang persenjataan, sedangkan kehancuran Kekhalifahan Muslim-Spanyol membuat pertumbuhan peradaban Islam mandek. Satu-satunya Kekhalifahan Muslim yang menonjol pada mulai abad ke-13 sampai ke-16 adalah Turki Usmani. Namun, wilayah kekuasaannya akhirnya lepas bagian demi bagian ke tangan Barat, karena ekspansi mereka tak didukung dengan semangat memajukan ilmu pengetahuan.

Pada awal abad ke-20, praktis sebagian besar negara-negara Muslim menjadi koloni negara-negara Barat. Maka, peradaban Barat pun mendominasi seluruh kehidupan komunitas Muslim sedunia, mulai pakaian, kalender, bahasa, seni sampai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kegusaran Muslim terhadap dominasi Barat menjadi kemarahan ketika Barat mendukung pembentukan Israel sebagai negara di tanah suci Palestina. Muslim menganggap Barat selalu bersikap mendua, misalnya mendukung rezim militer Aljazair yang membatalkan hasil pemilihan yang demokratis, atau tidak bergegas menyelamatkan etnis Muslim Bosnia dari pembantaian massal yang brutal oleh etnis Serbia.

Ketidakberdayaan atas supremasi Barat, dan keberpihakan Barat terhadap lawan-lawan Muslim melahirkan fundamentalisme Islam. Fundamentalisme Islam yang awalnya bertujuan menyatukan seluruh Muslim dunia dalam satu pemerintahan di bawah hukum Tuhan berkembang menjadi perlawanan radikal terhadap semua kekuatan asing yang dianggap mengancam eksistensi Islam.

Pada kenyataannya, gagasan itu tinggallah sebuah konstruk alih-alih realita, karena sukar dioperasionalisasikan. Persoalannya — seperti yang dihadapi Barat pada abad pertengahan — siapa yang berhak menafsirkan keinginan Tuhan jika semua orang merasa berhak? Dan kalau ada, apa ukurannya?

Bahkan sesungguhnya praktik politik islami berakhir pada Khalifah Keempat, Ali bin Abi Thalib, ketika kekuasaannya digulingkan melalui pemberontakan berdarah oleh Wangsa Umayah. Kebanyakan kekuasaan sesudah itu berpindah secara tragis. Semua bentuk negara-negara Muslim pasca-Empat Khalifah pun tidak lebih merupakan suatu aristokrasi.

Di pihak lain, Muslim Eropa modern yang sebagian besar adalah imigran, justru menemukan bahwa Barat adalah surga, tidak hanya dalam mencari nafkah tetapi juga dalam menjalankan ibadah, sehingga konsep pembagian daerah Islam (darul Islam) dan daerah perang (darul harb), menjadi tidak relevan lagi, karena justru mereka menikmati kebebasan beragama di negara Nonmuslim.

Komunitas Muslim Eropa juga sadar bahwa mereka tidak mungkin membangun ghetto-ghetto, tapi mereka harus menjadi seorang Muslim sekaligus seorang Eropa pada saat yang bersamaan. Mereka lebih suka berpikir mengenai keterwakilan politik, atau membicarakan persamaan hak alih-alih mengkonfrontasikan Islam dengan Barat.

Stereotip yang ada pada sebagian besar benak Muslim negara mereka adalah Barat bersikap angkuh, licik, sadis, berusaha menghancurkan Islam dari pelbagai macam arah ketika mereka lengah. Namun, Muslim Eropa berhasil menemukan bukti bahwa persoalannya adalah kesalahpahaman antara dua budaya yang berbeda dan mereka mampu menjembatani perbedaan itu. Sebab, mereka tidak saja memahami Islam, tapi juga Barat. Dengan demikian, mereka dapat menjelaskan Islam kepada Barat dengan perspektif Barat. Di pihak lain mereka dapat berbicara mengenai Barat kepada Muslim dunia dengan perspektif Islam.

Dengan demikian, keberadaan komunitas Muslim Eropa pada masa mendatang akan menguntungkan dua peradaban mayor dunia: Barat dan Islam. Kegagalan memahami satu sama lain berpotensi dipecahkan oleh diaspora komunitas Muslim yang baru ini.

Iklan

3 thoughts on “Muslim Eropa: Jembatan antara Islam dan Barat

Komentar ditutup.