Home

Disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, boleh jadi ada sekelompok orang di antara kita yang tengah merasakan kenaikan pendapatan beberapa kali lipat jika dibanding dengan beberapa tahun sebelumnya.

Kemungkinan besar, kelompok ini dekat dengan penguasa dan menikmati aliran modal asing yang ramai masuk. Mereka kosmopolit, berpendidian tinggi, mempunyai jaringan global yang luas, dan banyak berinteraksi dengan para pengambil kebijakan. Bahkan mungkin sebagian mereka menentukan atau mempengaruhi kebijakan itu sendiri. Bisa juga mereka pekerja kerah putih di perusahaan-perusahaan asing atau perusahaan-perusahaan lokal yang bermitra dengan perusahaan asing yang padat modal. Dari tahun ke tahun mereka semakin makmur seiring dengan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi. Mereka memiliki banyak uang untuk modal usaha, tabungan, dan investasi. Tiada hambatan keuangan buat berwisata di pelosok negeri, atau berkali-kali ke negara-negara rantau setiap musim liburan. Mereka juga mampu menyekolahkan putra-putri mereka ke luar negeri. Baku mutu hidup mereka tinggi.

Kelompok kedua adalah masyarakat yang berpenghasilan menengah, melebihi ambang angka inflasi tahunan. Paling tidak, ada kenaikan pendapatan barang sepuluh sampai dua puluh persen. Selama bijak mengelola keuangan, mereka bisa hidup cukup dan mampu menabung, meskipun kadang-kadang tabungan habis tersisih untuk rumah, pendidikan anak, hari raya, atau wisata rohani.

Mereka bekerja sebagai pegawai pemerintah, pegawai swasta perusahaan lokal, atau pengusaha kecil-menengah. Mereka mengeluh jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar, tarif listrik, air, jalan tol, dan kebutuhan umum lain. Tapi, toh pada akhirnya mereka menerima juga.

Kelompok ketiga adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang takmampu mengejar angka inflasi. Setiap rupiah kenaikan harga mencekik leher mereka. Setiap hari mereka pusing memikirkan bagaimana cara mendapatkan tambahan uang agar asap dapur terus mengepul, agar si bayi dapat minum susu bergizi, agar anak-anak mereka bisa tetap bersekolah di tengah semakin mahalnya biaya pendidikan. Takjarang mereka meminta si sulung yang baru lulus sekolah menengah supaya langsung bekerja. Takjarang pula sang anak putus sekolah tatkala berada di bangku sekolah dasar. Tapi sang anak sendiri sulit memperoleh kerja di tengah jutaan pengangguran yang bertambah ratusan ribu setiap tahun.

Gali lubang tutup lubang terpaksa mereka lakukan. Mereka bisa bernapas sedikit lega jika menerima tunjangan hari raya. Mereka pekerja yang mengandalkan kemampuan fisik. Bisa buruh pabrik, bisa juga petani. Setiap mendengar pengumuman kenaikan harga, muka mereka merah padam, lantaran merasa tertipu janji-janji kampanye. “Kalau harga terus-menerus naik, kami akan berbuat rusuh,” kata mereka, memendam amarah.

Kelompok keempat adalah kelompok miskin. Sehari mereka makan, besok kelaparan. Tidak punya tempat tinggal, ataupun kalau ada, itu taklayak disebut sebagai rumah. Hidup bersempit-sempitan dengan beberapa anggota keluarga, kerabat atau kawan, di rumah tripleks yang sempit tanpa air bersih. Mandi, cuci, dan buang air mereka kerjakan di sungai yang kotor, bau, dan berlimbah. Lantaran sanitasi buruk, pelbagai penyakit seperti radang paru-paru, tuberkolosis, tifus, disentri, diare, menjadi bagian hidup sehari-hari. Namun, mereka taksanggup berobat, karena rumah-rumah sakit taksudi melayani mereka.

Di antara mereka mati dini dengan menyedihkan. Anak-anak mereka kurus kering karena kurang gizi. Sebagian bayi-bayi atau anak balita mereka terkena busung lapar menangis, merengek minta susu, sedangkan sang ibu sudah kehabisan air mata untuk bersedih. Jangankan bersekolah, anak-anak mereka yang pucat karena kurang darah, dan terbakar akibat terik matahari terpaksa mereka suruh meminta-minta. Di kota mereka kelompok terusir, dianggap sampah masyarakat atau merusak keindahan kota. Tapi mereka takmampu lagi pulang kampung, karena takpunya uang….

Dua kelompok terakhir adalah kelompok yang paling semakin menderita dengan kebijakan pemerintah yang pro-pasar bebas. Pertumbuhan dikejar, angka-angka ekonomi makro memukau, tapi pemerataan tertinggal. Orang kaya semakin sejahtera, orang miskin semakin sengasara.

Bayangkanlah sebuah piramida. Kelompok ketiga dan keempat berjumlah lebih dari separuh penduduk negeri dan menempati struktur paling bawah. Kelompok makmur berada di puncak, sedangkan kelas menengah di antaranya. Di negara yang ekonominya mapan, kelas menengah dominan karena kekayaan negara menyebar merata.

* * *

Pada tahun 1928, para pemuda dari pelosok negeri berkumpul mengimajinasikan sebuah masyarakat Hindia Timur di masa depan yang mempunyai bahasa, dan wilayah, serta penduduk yang bernama “Indonesia.”

Boleh dibilang gagasan “Indonesia” adalah gambaran tentang sebuah kompromi karena setiap suku atau golongan, mengorbankan posisi masing-masing. Konsep “Indonesia,” misalnya, memilih bahasa Melayu, bukan bahasa Jawa yang jumlah penuturnya mayoritas. Konsep ini pula mengandung konsekuensi bahwa suku yang mendiami daerah subur dan kaya sumber daya alam berbagi dengan daerah yang gersang dan miskin. Suku atau pemeluk agama yang sebelumnya mayoritas di daerah tertentu, misalnya, serta-merta menjadi minoritas dalam konsep wilayah “Indonesia.”

Jadi, generasi muda saat itu mengatasi kepentingan daerah, suku, kelompok atau golongan masing-masing. Mungkin mereka bersatu lantaran identifikasi terhadap Pemerintah Hindia Belanda sebagai musuh bersama. Tapi, setidaknya, pengorbanan demi kebangsaan itu berbuah. Lihatlah sekarang. Sedikit banyak, imajinasi para pemuda pada 79 tahun silam itu telah menjadi kenyataan.

* * *

Saat ini musuh bersama rakyat adalah segala macam yang merusak gambaran Indonesia yang makmur dan beradab. Orde Baru memang memberikan penghidupan yang baik, tapi mereka memasung kebebasan. Pada tahun 1999, rakyat memutuskan mengambil jalan kebebasan, karena yakin, kebebasan bakal menggiring mereka pada kemakmuran. Demokrasi yang mapan kelak menghasilkan sebuah struktur yang produktif dan efisien.

Penyelewengan, penyalahgunaan kekuasaan, perlakuan semena-mena oleh aparat kekuasaan, egoisme golongan, pembedaan rasial, ketimpangan sosial, mengacaukan gambaran ideal tentang Indonesia di masa depan. Tetapi, sesungguhnya saat ini sudah terdapat banyak saluran tersedia buat meluruskannya. Semua bergantung kepada sampai sejauh mana kita ingin berperan, atau berkorban.

Paling tidak, mulailah dengan membantu menyokong — mungkin ada kerabat terdekat kita sendiri, misalnya, yang masih semaput karena bergelut dengan kemelaratan?


Baca Juga
Ya, Ekonomi Indonesia Makin Cerah!

Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3): Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis

Iklan

14 thoughts on “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Musuh Bersama

  1. diulangi kerna tadi salah ngetiknya…

    sebenarnya doeloe orang2 di nusantara ini bekerjasama berjuang untuk menghalau penjajah yang kebetulannya sama – belanda dan inggris.

    anda bilang – Pada tahun 1928, para pemuda dari pelosok negeri berkumpul mengimajinasikan sebuah masyarakat Hindia Timur di masa depan yang mempunyai bahasa, dan wilayah, serta penduduk yang bernama “Indonesia.”

    saya jawab – pernyataan anda itu sebenarnya satu kesalahan yang nyata tetapi dimungkiri kerna nasionalisme. 😀

    anda bilang – Konsep “Indonesia,” misalnya, memilih bahasa Melayu, bukan bahasa Jawa yang jumlah penuturnya mayoritas.

    saya jawab – hehehe. salah lagi. anda jawa ya? penutur bahasa jawa itu bukan mayoritas. bahasa melayu itu yang bener2 mayoritas. bahasa melayu pernah menjadi lingua franca sejak doeloeeeee lagee.

    anda bilang – Tapi, setidaknya, pengorbanan demi kebangsaan itu berbuah. Lihatlah sekarang. Sedikit banyak, imajinasi para pemuda pada 79 tahun silam itu telah menjadi kenyataan. <

    saya jawab – ya ialah bagi orang jawa. kalo bagi orang aceh, maluku, kalimantan, sulawesi gimana? menjadi kenyataan masih tetep dijajah!?

    udahan doeloe yaaak

  2. @ Wajan Sakti
    Terima kasih atas tanggapan Anda,

    anda bilang – Pada tahun 1928, para pemuda dari pelosok negeri berkumpul mengimajinasikan sebuah masyarakat Hindia Timur di masa depan yang mempunyai bahasa, dan wilayah, serta penduduk yang bernama “Indonesia.”
    saya jawab – pernyataan anda itu sebenarnya satu kesalahan yang nyata tetapi dimungkiri kerna nasionalisme.

    Mungkin Anda punya versi lain yang bisa dibagi kepada khalayak pembaca?

    anda bilang – Konsep “Indonesia,” misalnya, memilih bahasa Melayu, bukan bahasa Jawa yang jumlah penuturnya mayoritas.
    saya jawab – hehehe. salah lagi. anda jawa ya? penutur bahasa jawa itu bukan mayoritas. bahasa melayu itu yang bener2 mayoritas. bahasa melayu pernah menjadi lingua franca sejak doeloeeeee lagee.

    Bahasa Melayu memang lingua franca. Tapi bukan serta merta ia bahasa ditutur oleh mayoritas penduduk. Faktanya di Hindia Belanda, populasi penduduk Jawa merupakan yang terbesar, sampai-sampai pemerintah kolonial membuat proyek transmigrasi, memindahkan penduduk Jawa ke luar Jawa seperti di Lampung. Selain itu, tidak semua kelompok masyarakat dapat berbahasa Melayu, hanya kelompok tertentu saja yang kosmopolit, misalnya pedagang.

    anda bilang – Tapi, setidaknya, pengorbanan demi kebangsaan itu berbuah. Lihatlah sekarang. Sedikit banyak, imajinasi para pemuda pada 79 tahun silam itu telah menjadi kenyataan.
    saya jawab – ya ialah bagi orang jawa. kalo bagi orang aceh, maluku, kalimantan, sulawesi gimana? menjadi kenyataan masih tetep dijajah!?

    Apakah Anda punya data yang memperkuat pernyataan Anda?

  3. banyak buktinya. tapi harus cari sendiri ya. saya beri hints aja ya. yang terkenal aja;

    1. GAM di aceh
    2. RMS di maluku
    3. Kahar Muzakkar di sulawesi

    anda bilang – Faktanya di Hindia Belanda, populasi penduduk Jawa merupakan yang terbesar, sampai-sampai pemerintah kolonial membuat proyek transmigrasi, memindahkan penduduk Jawa ke luar Jawa seperti di Lampung. Selain itu, tidak semua kelompok masyarakat dapat berbahasa Melayu, hanya kelompok tertentu saja yang kosmopolit, misalnya pedagang.

    saya bilang – Sukarno belajar dari Belanda. Perkara yang sama juga dilakukan oleh pemerintah Filipina di Mindanao. Jawa itu penjajah!

    jika kiblat nasionalisme anda adalah republik indonesia, saya pula nasionalis tanahair.

  4. @daengmatajang

    banyak buktinya. tapi harus cari sendiri ya. saya beri hints aja ya. yang terkenal aja;

    1. GAM di aceh
    2. RMS di maluku
    3. Kahar Muzakkar di sulawesi

    Pada tahun 2005, Lembaga Survei Indonesia menemukan bahwa 76 persen orang Aceh bangga sebagai warga negara Indonesia dan bersedia berjuang atas nama negara Indonesia. (Jika ada pembaca yang tertarik dengan file hasil penelitian resmi LSI ini, silahkan kirim permintaan ke junartoimamprakoso@gmail.com). Survei ini dilakukan ketika terjadi konflik bersenjata.

    Kahar Muzakar memberontak terhadap pemerintah Sukarno, tapi bukan bermaksud mendirikan Negara Sulawasi. Dia menggabungkan laskarnya dengan Tentara Islam Indonesia yang bernaung di bawah Negara Islam Indonesia (yang wilayahnya adalah Republik Indonesia). Pemberontakan di daerah lebih kepada ekspresi ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah pusat (yang memang bias).

    Sebenarnya ukuran paling gampang apakah rakyat di sebuah daerah pro-republik atau tidak, adalah partisipasi pada saat pemilihan umum. Pada tahun 2004, umpamanya, secara umum partisipasi di seluruh wilayah Indonesia lebih daripada 70 persen, termasuk Maluku. Itu artinya dukungan legal formal yang sukar dibantah, Bung.

    Jangan lupa di Malaysia, pemberontakan di Sabah dan Serawak diselesaikan dengan tangan besi, dengan bantuan tentara Inggris.

    saya bilang – Sukarno belajar dari Belanda. Perkara yang sama juga dilakukan oleh pemerintah Filipina di Mindanao. Jawa itu penjajah!

    Di daerah seperti Kalimantan, umpamanya, justru pemerintah daerah setempat meminta para transmigran didatangkan untuk membangun wilayah mereka, karena penduduk, atau tenaga kerja langka sedangkan tanah mereka begitu luas. Tentu saja, mereka punya kriteria tertentu terhadap para calon transmigran.

    Tapi perpindahan penduduk juga bisa terjadi karena hukum permintaan dan penawaran. Hal yang wajar saja.

    Kalau Anda pernah ke Indonesia, Anda pasti akan menemukan orang Padang di pelbagai kota. Tentu saja, tidak serta merta kita mengatakan bahwa orang Padang penjajah ‘kan?

    jika kiblat nasionalisme anda adalah republik indonesia, saya pula nasionalis tanahair.

    Silahkan saja Pak. Tapi saya lihat perbedaan antara nasionalisme Indonesia dengan Malaysia adalah, orang Malaysia sengaja abai terhadap kekurangan pada sistem negaranya, menjurus ke chauvinisme. Fakta-fakta yang nyata malah dianggap sebagai penghinaan. Sayang sekali.

  5. fakta survei anda ialah tahun 2004 dan 2005. nkri dibentuk kapan? 1945 bukan? luaaamaaa banget atuh jarak surveinya. banyak rakyat udah bosan peranglah. sampai mereka ga mikir mau diperintah ama siapa, asal damai, asal mangan, asal hidup!

    jika ditanya ama rakyat kecil, mau tinggal di malaysia apa mau tinggal di indonesia, boleh bawa keluarga sih semuanya… tau apa jawabannya? 😀

    rakyat kecil mau aman agar bisa hidup tenteram, bisa makan, bisa pakai, bisa kerja, bisa kawen, bisa macam2 lagilah. ga perduli siapa yang memerintah. malah kalau ditanya rakyat kecil, mana lebih makmur antara jamannya soeharto apa jaman reformasi sekarang… jawabnya udah pasti… jelek2nya suharto, saya masih mampu beli beras buat makan keluarga.

    daripada kamu sibuk ngurusin soal nasionalisme kamu, mending kamu ngebantu rakyat yang kena musibah lapindo. itu lebih jelas dan kamu sendiri bisa ke sana. tulislah blog2 yang dapat membantu mereka.

    salam senyum 😀

  6. Sejarah hitam bentuk Malaysia

    Sukarno tentang keras idea penggabungan Sarawak, Sabah dan Brunei dengan Persekutuan Tanah Melayu hingga cetus konfrontasi

    “SEMOGA konfrontasi tidak akan berulang lagi,” demikian harapan Pensyarah Fakulti Bahasa, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Dr Talib Samat tatkala mengenangkan keadaan kucar-kacir lagi meresahkan ketika berlakunya era konfrontasi antara Malaysia dan Indonesia dari 1962 hingga 1966.

    Beliau yang melakukan kajian mengenai kehidupan masyarakat ketika era konfrontasi khususnya di Felda Tenang di Labis, Segamat, Johor, pada tahun lalu, sayu ketika mendengar sendiri pengakuan penduduk betapa susah dan seksanya kehidupan pada zaman itu.

    “Perintah berkurung dilaksanakan malah penduduk tidak berani keluar merayau ke mana-mana kerana khuatir ditembak askar Indonesia yang menceroboh,” katanya yang merekodkan semua kajian itu dalam novel sejarahnya, ‘Tenang Dalam Gelora’.

    Lebih memilukan, kejadian konfrontasi yang membayangi pembentukan Malaysia pada 16 September 1963 itu turut mencetuskan kekacauan serta pertempuran sehingga membabitkan kehilangan ramai nyawa termasuk di kalangan tentera Malaysia.

    “Kemuncak konfrontasi Malaysia dan Indonesia bermula kira-kira jam 10 pagi pada 20 Januari 1963 apabila Menteri Luar Indonesia, Dr Subandrio mengisytiharkan menerusi media negara itu mengenai pendirian mereka untuk bermusuhan dengan negara kita,” katanya sebelum memulakan kisah konfrontasi yang kini sudah lebih 40 tahun berlalu.

    Dengan berslogankan ‘Ganyang Malaysia’, Presiden Indonesia ketika itu, Sukarno menentang keras idea penggabungan Sarawak, Sabah dan Brunei dengan Persekutuan Tanah Melayu bagi membentuk Malaysia pada 1961 sekali gus menjadi punca konfrontasi.

    Sukarno yang dipengaruhi anasir hasutan Parti Komunis Indonesia (PKI) juga lantang menyuarakan bahawa Malaysia hanyalah boneka British dan penggabungan itu akan menambahkan kekuatan British di rantau Nusantara seterusnya dikhuatiri mengancam kemerdekaan Indonesia.

    Ketika British berhasrat menggabungkan Sabah ke dalam Malaysia, polemik semakin meruncing apabila Filipina turut menuntut hak penguasaan ke atas Sabah dengan alasan negeri itu pernah memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kepulauan Sulu, suatu ketika dulu.

    Hasrat penggabungan itu bukanlah semudah cadangan di atas kertas, tentangan demi tentangan diberikan tidak saja oleh Indonesia dan Filipina tetapi juga di Brunei apabila Tentera Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Disember 1962.

    Mereka cuba menangkap Sultan Brunei, menguasai ladang minyak dan penduduk Eropah lain di negara itu. Sultan bagaimanapun berjaya lolos dan meminta pertolongan British.

    Pasukan British termasuk askar Gurkha dari Singapura kemudian tiba untuk membantu dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan di Brunei berakhir.

    Perang Indonesia terhadap Malaysia secara rasminya bermula selepas pengisytiharan ‘konfrontasi’ oleh Dr Subandrio pada 20 Januari 1963. Pada 12 April, tentera sukarelawan Indonesia mulai menceroboh Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda, mencetuskan huru-hara dan mensabotaj.

    Pada 27 Julai, Sukarno dengan lantangnya memekik supaya Indonesia ‘mengganyang Malaysia’ menyebabkan pencerobohan terus berlaku dan pertempuran bersenjata mula menggegarkan bumi Malaysia. Tembakan saling berbalas dan darah tumpah ke bumi.

    Ketika ketegangan masih memuncak, Malaysia secara rasminya dibentuk pada 16 September 1963. Sabah dan Sarawak menyertai Persekutuan Tanah Melayu sekali gus membentuk Malaysia tetapi Brunei menolak penggabungan itu manakala Singapura bertindak keluar dari gagasan negara itu tidak lama kemudian.

    Meskipun Filipina tidak turut serta dalam peperangan, mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.

    Ketegangan berterusan antara kedua-dua belah pihak yang dipisahkan Selat Melaka itu. Bangunan Kedutaan Britain di Jakarta dibakar penduduk yang merusuh. Ratusan perusuh menyerbu kedutaan Singapura di Jakarta selain rumah diplomat Singapura.

    Bagaimanapun, berbanding Indonesia, Malaysia lebih mengambil sikap defensif apabila tidak menyerang balas sebaliknya hanya menahan dan mencegah kemasukan tentera Indonesia daripada terus menceroboh negara ini. Usaha tentera Malaysia itu turut dibantu tentera British dan Australia.

    Di sepanjang perbatasan Kalimantan, peperangan berterusan dengan askar Indonesia terus cuba menduduki Sarawak dan Sabah tetapi dibalas dengan tembakan tanpa henti oleh tentera Malaysia.

    Pada 1964, Indonesia kembali mencatur strategi. Sebilangan pasukan askar elit Indonesia diseludup masuk untuk menyerang wilayah tertentu di Semenanjung Malaysia.

    Bagaimanapun, 16 askar perisik Indonesia itu ditangkap di Johor pada Ogos tahun itu. Pencerobohan dan penyusupan masuk ke Semenanjung Malaysia menerusi jalan laut menyebabkan peperangan turut berlaku di kawasan perairan Selat Melaka.

    Pada 17 Ogos, pasukan terjun payung Indonesia mendarat di pantai Johor dan menyusup ke dalam hutan bagi membentuk pasukan gerila. Pada 9 September 1964, sekali lagi pasukan terjun payung tentera negara asing itu didaratkan di Labis, Johor.

    Bagaimanapun, kebanyakan tentera Indonesia yang mendarat di perbatasan Johor-Melaka berjaya ditangkap pasukan tentera Malaysia atau terbunuh.

    ‘Pertempuran politik’ turut tercetus apabila Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB). Sebagai protes, Sukarno mengumumkan pengeluaran Indonesia dari PBB dan cuba membentuk Persidangan Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces) atau Conefo sebagai alternatif.

    Selepas peperangan berterusan itu mengorbankan ramai nyawa, konfrontasi Malaysia-Indonesia berakhir selepas pemerintahan Sukarno digantikan dengan presiden baru iaitu Suharto menjelang akhir 1965.

    Pada 28 Mei 1966, di sebuah persidangan di Bangkok, Thailand; Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir pada Jun dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Ogos dan dirasmikan dua hari kemudian.

    Serah diri selepas bersembunyi 21 hari

    TIGA pesawat Hercules C130 berlepas meninggalkan Jakarta pada 9 September 1964 menuju ke daerah Labis, Segamat, Johor bersama puluhan tentera elit berpayung terjun Indonesia.

    Bagaimanapun, tanpa diduga, dalam perjalanan itu, sebuah daripada tiga pesawat berkenaan menghadapi masalah dan akhirnya terjunam ke dalam perairan Selat Melaka sehingga mengorbankan nyawa anggota tentera yang bukan sedikit jumlahnya.

    Dua pesawat lain bagaimanapun meneruskan penerbangan mereka bagi menjayakan operasi sulit itu. Pesawat itu mula memasuki kawasan Labis ketika malam mula menjelma. Hujan lebat pada petang menyebabkan kabus menyelubungi ruang udara Labis.

    Sebaik sampai di koordinat yang diyakini selamat, 96 pasukan tentera elit Indonesia itu membuka pintu pesawat dan terjun melayang di udara. Sebaik memastikan jarak ketinggian yang sesuai, mereka menarik alat kawalan dan payung terjun di belakang terbuka. Mereka melayang dengan selamat.

    Itulah sebahagian daripada episod drama konfrontasi Malaysia-Indonesia yang melanda negara dari 1962 hingga 1966 – 96 tentera elit Indonesia digugurkan pesawat dengan payung terjun untuk menyusup masuk ke Johor bagi memulakan serangan gerila.

    Penulis novel sejarah, Dr Talib Samat, berkata berdasarkan kajiannya, operasi rahsia itu turut mendapat bantuan 16 rakyat Malaysia berketurunan Cina termasuk dari Parti Komunis Malaya (PKM) dan dua pelajar Melayu yang membelot untuk menjadi penunjuk arah kepada pasukan berkenaan ketika mendarat di Johor.

    “Sebenarnya ada sebab tertentu mengapa Indonesia memilih untuk menggugurkan tentera payung terjunnya di kawasan Segamat dan Batu Pahat. Ini disebabkan ramai penduduk di kawasan itu adalah berketurunan Jawa yang memiliki dialek percakapan dan budaya menyerupai tentera Indonesia.

    “Dengan persamaan budaya dan dialek percakapan itu, mereka berharap dapat mengaburi mata pihak berkuasa dengan menyamar sebagai penduduk tempatan ketika melakukan operasi dan serangan berkenaan,” katanya yang juga pensyarah Fakulti Bahasa, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI).

    Beliau berkata, sebaik berita pendaratan pasukan askar berpayung terjun Indonesia itu tersebar, penduduk di kawasan itu berada dalam ketakutan dan perintah berkurung dilaksanakan. Kawalan dan pemantauan daripada tentera Malaysia selain pasukan sukarela juga diperketatkan.

    “Penduduk hidup dalam ketakutan, mereka tidak berani keluar untuk menoreh getah kerana khuatir ditangkap atau ditembak tentera Indonesia,” katanya.

    Dr Talib bagaimanapun berkata, pasukan tentera Indonesia itu sebenarnya sudah ‘ditipu’ Sukarno dan pemerintah Indonesia kononnya mereka perlu menyerang Malaysia bagi menghalau British yang sudah lama menganiaya penduduk Melayu di Malaysia sehingga menyebabkan saudara serumpun mereka itu hidup melarat dan miskin.

    “Akan tetapi, sebaik mendarat di Johor, mereka melihat yang penduduk hidup aman dan senang menyebabkan mereka mula merasakan yang maklumat diberikan pemerintah Indonesia sebelum itu tidak tepat,” katanya.

    Menyoroti kejadian pencerobohan 96 tentera Indonesia di Felda Tenang, Dr Talib berkata, sebaik mendarat, kumpulan askar berkenaan mula ‘hilang arah’ dan hampir kebuluran di dalam hutan.

    “Mereka terpaksa bersembunyi selama 21 hari di dalam hutan dan mencuri tanaman penduduk tempatan kerana kebuluran. Selepas itu, lantaran tidak sanggup lagi kebuluran, mereka akhirnya menyerah diri.

    “Ketika itu, terdapat majlis bacaan Yasin dan tahlil diadakan di sebuah rumah di Felda Tenang dan pasukan tentera itu menyerah diri kepada penduduk pada majlis berkenaan sebelum diserahkan kepada pihak berkuasa,” katanya.

    FAKTA: Konfrontasi Malaysia-Indonesia

    # Berlaku apabila Indonesia menentang hasrat penggabungan Sabah dan Sarawak ke dalam Malaysia.

    # Pertempuran antara tentera Malaysia dan Indonesia berlaku di Sabah, Sarawak, Johor, Melaka dan Perak. Antara pertempuran tragik dipercayai berlaku di Kalabakan, Sabah apabila ramai tentera Malaysia ditembak mati ketika sedang bersolat.

    # Konfrontasi berakhir selepas kira-kira empat tahun apabila Sukarno digantikan oleh Suharto sebagai Presiden Indonesia.

  7. Pada tahun 1928, para pemuda dari pelosok negeri berkumpul mengimajinasikan sebuah masyarakat Hindia Timur di masa depan yang mempunyai bahasa, dan wilayah, serta penduduk yang bernama “Indonesia.”

    Pada tahun 2007, para blogger dari pelosok negeri berkumpul di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/10/28/sumpah-pemuda-nusantara/
    mengimajinasikan sebuah masyarakat Asia Tenggara di masa depan yang mempunyai bahasa, dan wilayah, serta penduduk yang bernama “Nusantara.”

  8. fakta survei anda ialah tahun 2004 dan 2005. nkri dibentuk kapan? 1945 bukan? luaaamaaa banget atuh jarak surveinya. banyak rakyat udah bosan peranglah. sampai mereka ga mikir mau diperintah ama siapa, asal damai, asal mangan, asal hidup!

    Survei itu saya kutip untuk membantah pernyataan Anda bahwa nasionalisme milik orang Jawa saja.

    jika ditanya ama rakyat kecil, mau tinggal di malaysia apa mau tinggal di indonesia, boleh bawa keluarga sih semuanya… tau apa jawabannya? ditanya rakyat kecil, mana lebih makmur antara jamannya soeharto apa jaman reformasi sekarang… jawabnya udah pasti… jelek2nya suharto, saya masih mampu beli beras buat makan keluarga.

    Untuk bertahan hidup, bisa jadi itu prioritas awal. Selanjutnya, pasti orang akan memilih kebebasan. Tanpa kebebasan, kemakmuran tak berarti apa-apa. Ini pengalaman Indonesia era Orde Baru, ketika banyak orang ditangkap karena sikap oposisi. Mungkin Anda juga bisa berkaca pada Malaysia sekarang.

    daripada kamu sibuk ngurusin soal nasionalisme kamu, mending kamu ngebantu rakyat yang kena musibah lapindo. itu lebih jelas dan kamu sendiri bisa ke sana. tulislah blog2 yang dapat membantu mereka.

    Wah Indonesia negara bebas, saya bisa menulis apa saja yang saya suka. Blog ini ‘kan nantinya tidak hanya membahas satu masalah saja.
    Berbeda dengan di Malaysia, blog di Indonesia bukanlah ancaman terhadap rezim yang berkuasa.

  9. Wajan sakti, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 4:52 pm bilang:
    sebenarnya doeloe orang2 di nusantara ini bekerjasama berjuang untuk menghalau penjajah yang kebetulannya sama – belanda dan inggris.

    anda bilang – Pada tahun 1928, para pemuda dari pelosok negeri berkumpul mengimajinasikan sebuah masyarakat Hindia Timur di masa depan yang mempunyai bahasa, dan wilayah, serta penduduk yang bernama “Indonesia.”

    saya jawab – pernyataan anda itu sebenarnya satu kesalahan yang nyata tetapi dimungkiri kerna nasionalisme. 😀

    anda bilang – Konsep “Indonesia,” misalnya, memilih bahasa Melayu, bukan bahasa Jawa yang jumlah penuturnya mayoritas.

    saya jawab – hehehe. salah lagi. anda jawa ya? penutur bahasa jawa itu bukan mayoritas. bahasa melayu itu yang bener2 mayoritas. bahasa melayu pernah menjadi lingua franca sejak doeloeeeee lagee.

    Komentar sayanyah:
    Miturut sayanyah penutur bahasa jawa iku memang majoritas di nusantara dari dulu. laaaah jumlah-é paling boaaanyak.
    Bahasa mlayu jadih lingua franca lamtaran dah kadung popiler dipaké para pedagang antar pulao nyang kagiatan-é lebèh banyak di wilayah deket-deket pantai ajah. Orang deket pantai kutika iku lebèh cepet dapetken inpormasi. Lamtaran iku jadi …. kosmopolit (minjem istilah mas Jun).

    Wajan sakti, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 4:52 pm bilang:

    anda bilang – Tapi, setidaknya, pengorbanan demi kebangsaan itu berbuah. Lihatlah sekarang. Sedikit banyak, imajinasi para pemuda pada 79 tahun silam itu telah menjadi kenyataan. <

    saya jawab – ya ialah bagi orang jawa. kalo bagi orang aceh, maluku, kalimantan, sulawesi gimana? menjadi kenyataan masih tetep dijajah!?

    Komentar sayanyah:
    Menungsah nyang kurang punyah kasadaran (consciousness) slalu soka menjajah. Nggak posing dianyah orang manah. Orang Mlayu nyang kurang punyah kasadaran jugah soka menjajah. Iku dah pesti. Pokok-é samowa suku bangsa atawa orang, nyang kurang punyah kasadaran (consciousness dan conscience) soka menjajah. Samowa !!!

    Wajan sakti, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 4:52 pm bilang:
    anda bilang – Tapi, setidaknya, pengorbanan demi kebangsaan itu berbuah. Lihatlah sekarang. Sedikit banyak, imajinasi para pemuda pada 79 tahun silam itu telah menjadi kenyataan.
    saya jawab – ya ialah bagi orang jawa. kalo bagi orang aceh, maluku, kalimantan, sulawesi gimana? menjadi kenyataan masih tetep dijajah!?

    Komentar sayanyah:
    iku pranyataan emosional. Minoritas cepet skali mrasa dijajah (miskipun ada kalané prasa-an iku bisa bener jugah. Tapi nggak slalu). Iku di sluruh donia loh.

    —-

    Daengmatajang, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 9:04 pm bilang:

    banyak buktinya. tapi harus cari sendiri ya. saya beri hints aja ya. yang terkenal aja;

    1. GAM di aceh
    2. RMS di maluku
    3. Kahar Muzakkar di sulawesi

    Komentar saynayah:
    PRRI jugah ? D.I. di Jawa Barat ? Grakan negara Pasundan ?

    Daengmatajang, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 9:04 pm bilang:
    anda bilang – Faktanya di Hindia Belanda, populasi penduduk Jawa merupakan yang terbesar, sampai-sampai pemerintah kolonial membuat proyek transmigrasi, memindahkan penduduk Jawa ke luar Jawa seperti di Lampung. Selain itu, tidak semua kelompok masyarakat dapat berbahasa Melayu, hanya kelompok tertentu saja yang kosmopolit, misalnya pedagang.
    saya bilang – Sukarno belajar dari Belanda. Perkara yang sama juga dilakukan oleh pemerintah Filipina di Mindanao. Jawa itu penjajah!

    Komentar sayanyah:
    iku pendapet emosional. Brabahaya. Samowa orang (umum-é dari masarakat mèskin dan korang terpelajar) soka mraktekken KKN. Iku nimbulken kesan “jadi penjajah”.
    Jadi su’al-é bokan jadi penjajah, tapi … praktek KKN.
    Iku nyang kudu ditumpas, lamtaran implikasi-é jadi kayak njajah ajah.

    Daengmatajang, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 9:04 pm bilang:
    jika kiblat nasionalisme anda adalah republik indonesia, saya pula nasionalis tanahair.

    Komentar sayanyah:
    Miturut pendapet sayanyah iku bokan kiblat, tapi iku adalah sarana atawa kandara-an-é mituju kiblat: nagri aman makmur.
    Nasionalisme iku perlok banget sebagei tameng terhadep serangan (baca: gangguwan) kakuwatan luwar. Kalu dah kuwat, nasionalisme iku nggak lagih perlok digembar gemborké. Nasionalisme iku kudu didasarin nilaè-nilaè obyektip. Iku nggak aken ngganggu sapa-sapah, malah nimbulken kakaguman samowa pèhak.

    Sakbetul-e panggunaan nasionalisme di Ngèndonesah nggak banyak bèdah sama panggunaan Islam oleh orang Malaysia buwat tameng terhadep kakuwasaan orang-orang China nyang memang di Malaysia lebèh tinggi kamakmuran (jugah rata-rata tingkat sophistikasi-é dibanding orang Mlayu).

    Laaah …. di Malaysia gimanah menjabarken nasionalisme ? Sussa banget. Sistem kamasrakatan-é kudu digenti kayak sistim Amrika dulu. Mao nggak orang Malaysia ?
    Saynyah kirah kok ya nggak loh.

    Jadi nggak usah ngiri samah semanget nasionalisme satu nagri nyang memang semanget iku feasible.
    Maap, kalu sayanyah klèru. Tulung dibenerin. Kalu sayanyah bener tamtu perlok ditrima.

    Daengmatajang, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 10:22 pm bilang:

    fakta survei anda ialah tahun 2004 dan 2005. nkri dibentuk kapan? 1945 bukan? luaaamaaa banget atuh jarak surveinya. banyak rakyat udah bosan peranglah. sampai mereka ga mikir mau diperintah ama siapa, asal damai, asal mangan, asal hidup!

    jika ditanya ama rakyat kecil, mau tinggal di malaysia apa mau tinggal di indonesia, boleh bawa keluarga sih semuanya… tau apa jawabannya? 😀

    Komentar sayanyah:
    Orang Ngèndonesah (kecuwali sebagèan kicil ajah) pesti milih teteb tinggal di Ngèndonesah (lamtaran iku jadi boaaanyak buaaanget). Orang Ngèndonesah sanget cinta nagri-é mlebihin kacinta-an padah materi. Iku umum-é loh. Kacuwali slalu adah di manah-manah. Mambicaraken kakacuwalian adalah pakerjaan bodog.

    Daengmatajang, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 10:22 pm bilang:

    rakyat kecil mau aman agar bisa hidup tenteram, bisa makan, bisa pakai, bisa kerja, bisa kawen, bisa macam2 lagilah. ga perduli siapa yang memerintah.

    Komentar sayanyah:
    Iku kayak-é mentalitas orang Malaysia, lamtaran iku bisa dijajah orang China dan kalangan aristokrat baè. Buwat orang Ngèndonesah sapah nyang memerèntah iku sanget penting: kudu bangsa dèwèk.
    Tapi sayanyah nggak yakin apah buwat rahayat kicil pribumi di Maleysiya jugah nggak penting sapah nyang memrèntah.

    Miturut pandengan sayanyah cuman buat orang-orang Cina baè nyang nggak penting sapah nyang memrèntah.

    Daengmatajang, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 10:22 pm bilang:

    malah kalau ditanya rakyat kecil, mana lebih makmur antara jamannya soeharto apa jaman reformasi sekarang… jawabnya udah pasti… jelek2nya suharto, saya masih mampu beli beras buat makan keluarga.

    Komentar sayanyah:
    Iku kapastian orang nyang kurang loas pandangan-é. Jawaban nyang skarang lebi cenderung padah: dulu jaman suharto cuman nyang kaya ajah bisah beli mubil atawa montor atawa kompiter. Skarang ampir samowa bisa bli mubil, montor, kompiter dan handphone. Nggak perlok terlalu koaaaya lagih.
    Mèmang siiiik, nyang mèskin misik jugah banyak.

    Daengmatajang, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 10:22 pm bilang:
    daripada kamu sibuk ngurusin soal nasionalisme kamu, mending kamu ngebantu rakyat yang kena musibah lapindo. itu lebih jelas dan kamu sendiri bisa ke sana. tulislah blog2 yang dapat membantu mereka.

    Komentar sayanyah:
    Orang nyang sibuk ngurusin soal nasionalisme dah pesti soka ngebantu. Iku pesti. Kacuwali kalu dianyah cuman berambisi jadi tokoh pulitik kelas kambing ajah. Kasibukan ngurusin soal nasionalisme di wawasan nyang rawan keamanan dan kastabilan, adalah kagiatan sanget baèk. Kalu nggak, pesti dilindas sama roda-roda kakowasaan modal godèk ajah. Liat ajah Melaysiya !

    —-

    Man kapak, di/pada Oktober 27th, 2007 pada 10:38 pm bilang:

    “SEMOGA konfrontasi tidak akan berulang lagi,” demikian harapan Pensyarah Fakulti Bahasa, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Dr Talib Samat tatkala mengenangkan keadaan kucar-kacir lagi meresahkan ketika berlakunya era konfrontasi antara Malaysia dan Indonesia dari 1962 hingga 1966.

    Komentar sayanyah:
    Iku tergantung. Kalu negara-negara nyang berbatasan bekembang jadi kakuwatan-kakuwatan pengganggu dan mengganggu, maka teteb aken timbul kamongkinan konprontasi. Iku berlaku unipersil. Di sluruh donia. Kamongkinan konprontasi iku cuman aken ilang kalu adah saling hurmat manghurmati. Slalu adah konsultasi, nggak sok, nggak merendahken satu sama laèn.

    Dasar timbul-é Konprontasi adalah rasa nggak aman Ngèndonesah, kalu Malaysia iku jadi boneka-é Barat baè. Kutika iku Ngèndonesah (nyang prenah jadi pamerkas gerakan “nggak memihak” (ènget konperensi Asia-Aprika) sanget kuwatir panjajahan (delm bentuk baru: kapitalisme dan neo imperialisme) akan jadiken wawasan Nusantara dan sakitar-é kombali dalem kakowasaan Barat sahingga sosio kultural, security dan evolusi bangsa aken terganggu lagih. Kutika iku Ngèndonesah berpendapet Malaya, Singapura, Sabah, Serawah dan Brunèi, bakalan jadi togok baè dari kakuwatan kapitalisme murni.

    —-

    M Shodiq Mustika, di/pada Oktober 28th, 2007 pada 4:55 am bilang:
    Pada tahun 1928, para pemuda dari pelosok negeri berkumpul mengimajinasikan sebuah masyarakat Hindia Timur di masa depan yang mempunyai bahasa, dan wilayah, serta penduduk yang bernama “Indonesia.”

    Pada tahun 2007, para blogger dari pelosok negeri berkumpul di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/10/28/sumpah-pemuda-nusantara/
    mengimajinasikan sebuah masyarakat Asia Tenggara di masa depan yang mempunyai bahasa, dan wilayah, serta penduduk yang bernama “Nusantara.”

    Komentar sayanyah:
    Lalu bahasa-é jadi bahasa gaul kayak nyang dipaké di TèPè skarang inih ajah ? Bahasa Ngèndonesah jadi sanget mrosot atawa diprosotin (trutama mlaluwi TèPè dan majalan popiler) ? Dan dijadiken bahasa Nusantara ?

  10. Mas jun, hati2 sama komentar orang yg mengaku nicknya daengmatajang. Saya pernah baca komentar yg persis sama di beberapa paragrafnya di forum lain. Komentarnya tuh selalu sinis dan ngejelek2in Indonesia. Saya curiga dia sebetulnya orang Malaysia.
    Kadang lucu juga kalo liat orang2 Malaysia berkomentar, karena kalo mereka jelek2in Indonesia yg mereka sebut selalu kasus2 yg udah lamaaa banget. Kayaknya berita TV mereka tentang Indonesia itu udah jadul banget. Mereka nggak tau kalo kondisi politik dan sosial Indonesia udah banyak berubah.

    BTW, aku suka tulisannya Mas Jun yg positive thinking tentang kondisi di tanah air tapi tetap selalu mengingatkan bahwa kita masih banyak kekurangan yg perlu diperbaiki. Keep up the good work, bro.

    Emma
    orang bukan Jawa yg tidak pernah merasa dijajah oleh Jawa.

Komentar ditutup.