Home

Artikel saya bertajuk “Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia” sama sekali tidak menggunakan pendekatan ekonomi. Namun, jika kita merujuk beberapa anlisis ekonomi, orang Indonesia bisa dengan yakin berkata, “Ya, masa depan ekonomi Indonesia cerah!”

Purbaya Yudhi Sadewa, misalnya, mengatakan bahwa ekonomi nasional memang melambat pasca kenaikan harga bahan bakar minyak pada bulan Oktober 2005. Namun, ekonomi membaik semenjak April 2006. “Angka Coincident Economic Index (CEI) meningkat sejak April 2006,” tulisnya.

CEI adalah indeks yang disusun Danareksa Research Institute (DRI) untuk mendedah, menangkap keadaan ekonomi secara menyeluruh. Indikator indeks adalah data penjualan mobil, konsumsi semen, penjualan ritel, impor, dan laju pertumbuhan uang riil.

Pemulihan ekonomi, tambah Purbaya, terlihat dari angka Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) — juga disusun DRI — yang terus meningkat. Nilai IKK secara tidak langsung berhubungan dengan kemampuan belanja rumah tangga. Peningkatan belanja rumah tangga yang ditandai nilai IKK, “Mendorong perusahaan-perusahaan menggalakkan kegiatan produksi dan investasi,” jelasnya.

Bahkan menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Indonesia masuk dalam pasar yang bertumbuh dengan pesat (emerging market) di Asia setelah Tiongkok (10 persen), India (8,4 persen) dan Vietnam (8 persen). Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2007 adalah 6 persen, atau melaju dibanding tahun 2006 (5,5 persen). Tahun 2008, menurut IMF, Indonesia akan bertumbuh 6,3 persen.

Laporan IMF yang ditulis oleh Christopher Crowe menyimpulkan bahwa:

Kerentanan Indonesia terhadap krisis keuangan lain yang boleh jadi muncul sewaktu-waktu telah berkurang.

Kebijakan-kebijakan yang kuat telah memampukan Indonesia mengatasi badai ekonomi apapun.

Menurut Crowe, secara umum Indonesia berhasil mengurangi kerawanan keuangan dan makroekonomi mulai tahun kesepuluh tahun semenjak krisis. Crowe juga menyebutkan bahwa terdapat aliran modal yang cukup besar masuk Indonesia sampai bulan Mei tahun 2007. Meskipun bulan-bulan berikutnya modal mengalir keluar disebabkan oleh guncangan pasar global, program reformasi keuangan dan makroekonomi Indonesia berhasil mengatasinya.

Ketua Yayasan Indonesia Forum, Chairul Tanjung, mengatakan bahwa saat ini Indonesia berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah. Posisi ini akan bertahan hingga tahun 2015. Namun, dalam proses industrialisasi, tambahnya, Indonesia bisa menjadi negara berpenghasilan besar.

Menurut Chairul, jika per tahun pertumbuhan ekonomi riil rata-rata 7,62 persen, laju inflasi 4,95 persen, sedangkan pertumbuhan penduduk 1,12 persen, pada tahun 2030, dengan jumlah penduduk 285 juta jiwa, pendapatan domestik kotor Indonesia bisa mencapai US$5,1 triliun. Dengan tingkat per kapita US$18.000 per tahun, ujarnya, “Pada kala itu Indonesia akan berada pada posisi kelima ekonomi terbesar setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat dan Uni Eropa.”

Baca Juga
Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Musuh Bersama

Iklan

23 thoughts on “Ya, Ekonomi Indonesia Makin Cerah!

  1. Beras import, gula impor, harga minya titik tertinggi kita malah mengalama produksi titik terendah.

    Mungkin bisa dibahas yg real2.. banyak negara secara politik gak terlalu bebas, tapi rakyatnya makmur. Yah, contoh negara2 tetangga lah.. spore, malaysia.

    Anyway, emang harus tetap semangat dan positif terus 🙂

  2. Saya percaya, sangat percaya. bahkan tanpa membaca artikel bro Junarto tentang Indonesia & Malaysia.
    Kita, Indonesia, sudah melewati banyak sekali cobaan dan Tuhan memberkati perjuangan kita, kita masih utuh sebangai NKRI sampai detik ini adalah bukti tak terbantahkan.

    Me-manage satu negara multi kultur tidak lah segampang wancana, berjuta problem datang terus menerus tapi toh kita bisa lewatin.

    negara tetangga boleh menulis apa aja tentang kita, tapi seandainya mereka ngalamin hal serupa, belum tentu mereka masih bisa utuh sebagai negara.

    Saya warga Negara RI keturunan Tiongkok, tapi bangga ber KTP Indonesia. Dan dengan sejujurnya, meski ditawarin, saya akan pikir 1000x buat pindah ke Singapore apalagi Malaysia.

    Kita masih negara berkembang, jadi wajar saja banyak masalah disegala sektor yang perlu pembenahan. tak ada negara yang plek merdeka langsung maju.

    Dalam pendapatku, Malaysia sekarang hampir sama keadaannya seperti kita saat Orde Baru (ekonomi pesat, etc, etc).
    Dengan kata lain, evlolusi kita sebagai bangsa sudah satu tahapan lebih maju.

    Negara yang mengekang kebebasan bersuara, suatu saat akan tertinggal, gmana mau maju terus kalo kepentingan bangsa hanya dipikir oleh segelintir orang? Kemajuan Bangsa, ya miliki semua rakyatnya.. kudu dipiikirin sama2.

    YA!! Indonesia punya potensi untuk melesat.

  3. Saya warga Negara RI keturunan Tiongkok, tapi bangga ber KTP Indonesia. Dan dengan sejujurnya, meski ditawarin, saya akan pikir 1000x buat pindah ke Singapore apalagi Malaysia.

    Same here, baginda. 😀

    Benar, negara ini punya potensi. Sekarang masalahnya adalah bagaimana me-manage potensi itu agar tetap berada di jalan yang ‘seharusnya’. 🙂

  4. @legolaslivein9th
    Di bawah saya kutipkan artikel Kompas yang berimbang (ada laporan BPS dan ada kritik oposisi).
    Jumlah penduduk miskin banyak, tapi berkurang (meskipun masih banyak 🙂 )
    Poinnya ada perbaikan boz…

    Selasa, 03 Juli 2007

    Jumlah Penduduk Miskin Berkurang

    *Dirasakan Tak Sesuai dengan Realitas

    Jakarta, Kompas – Jumlah penduduk miskin pada Maret 2007 berkurang 2,13 juta orang dibandingkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2006. Padahal, garis kemiskinan naik lebih tinggi. Artinya, pendapatan penduduk yang sebelumnya miskin meningkat lebih tinggi dari kenaikan garis kemiskinan dan inflasi.

    Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta, Senin (2/7), mengumumkan, 37,17 juta orang atau 16,58 persen dari 224,328 juta penduduk Indonesia tergolong miskin.

    Dengan demikian, jumlah penduduk miskin diperhitungkan berkurang dibandingkan bulan Maret 2006 yang tercatat sebesar 39,30 juta orang atau 17,75 persen dari total penduduk.

    Perhitungan kemiskinan tersebut dilakukan BPS berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi yang dilakukan pada Maret 2006 dan Maret 2007.

    Penduduk dikategorikan miskin jika rata-rata pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah garis kemiskinan.

    Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Sosial Arizal Ahnaf menjelaskan, garis kemiskinan pada Maret 2007 ditetapkan senilai Rp 166.697 per kapita per bulan.

    Garis kemiskinan tersebut naik 9,67 persen dibandingkan garis kemiskinan pada Maret 2006 yang tercatat senilai Rp 151.997 per kapita per bulan.

    Jumlah penduduk miskin amat dipengaruhi oleh perubahan garis kemiskinan dan perubahan pendapatan. Menurut Arizal, pengurangan jumlah penduduk miskin pada saat garis kemiskinan naik lebih tinggi menunjukkan pendapatan meningkat lebih tinggi dari kenaikan garis kemiskinan tersebut.

    “Saya kira ada (penduduk miskin) yang berhasil memanfaatkan peluang naiknya uang beredar di masyarakat dengan adanya BLT (bantuan langsung tunai) tahun 2006 untuk kegiatan produktif sehingga sekarang tidak tergolong miskin lagi,” ujar Arizal.

    Arizal mengakui, BPS tidak memiliki data yang mencerminkan peningkatan pendapatan tersebut. Dia juga menyebutkan, upah buruh secara riil pada periode Maret 2006-Maret 2007 tidak mengalami kenaikan meskipun nilai tukar petani pada periode itu meningkat dari 101 menjadi 109.

    “Kami memang tidak punya data pendapatan yang lebih bisa dicatat pengeluarannya. Jadi diasumsikan terjadi peningkatan pendapatan jika konsumsi (pengeluaran) meningkat,” ujarnya.

    Ekonom dari Tim Indonesia Bangkit Hendri Saparini menilai, turunnya angka kemiskinan tidak bisa dipercaya karena kenyataan daya beli masyarakat, nilai tukar petani, dan upah buruh justru turun. BLT juga sudah dihentikan, sedangkan bantuan tunai bersyarat belum dimulai.

    *Sulit dipercaya

    Pemerintah juga tidak berhasil menstabilkan harga kebutuhan pokok sehingga beban masyarakat meningkat.

    Anggota Komisi XI DPR Drajad H Wibowo juga meyakini penurunan angka kemiskinan itu sulit dipercaya, apalagi di tengah mahalnya harga kebutuhan sembilan bahan pokok, seperti minyak goreng.

    “Seperti halnya data penggangguran, data kemiskinan jauh bertentangan dengan realitas di masyarakat. Politisasi statistik saat ini benar-benar parah,” ujar Drajad menyesalkan.

    Mengenai kenaikan pendapatan rakyat miskin, Drajad juga berpendapat hal tersebut hampir tidak bisa dipercaya. “Dari mana sumber kenaikan itu? Tanpa ada lapangan kerja yang riil tidak mungkin pendapatan rakyat miskin naik,” ujarnya.

    Sementara itu, Menko Perekonomian Boediono berpendapat, BPS merupakan lembaga yang terdiri dari orang-orang profesional yang merekam kejadian nyata di lapangan.

    “Saya selalu melihat teman-teman di BPS itu orang-orang yang profesional kok,” ujar Boediono. (DAY/TAV)

  5. Kita semua senang merasakan demokrasi di Indonesia yang berkembang dengan baik, yang juga diakui oleh masyarakat internasional seperti terlihat dari Democracy Index 2006 yang dikeluarkan oleh The Economist Intelligence Unit yang menempatkan Indonesia di peringkat 65, lebih tinggi kalau dibandingkan dengan peringkat Malaysia (81) dan Singapore (84). Untuk lengkapnya bisa dilihat di http://www.economist.com/media/pdf/DEMOCRACY_INDEX_2007_v3.pdf. Indonesia juga mendapatkan penghargaan Democracy Medal dari IAPC yang akan disampaikan dalam konferensi mereka bulan depan di Bali.

    Namun menurut saya, demokrasi di Indonesia masih dalam kondisi rawan, belum stabil dan harus sama-sama kita jaga dengan baik-baik. Musuh utama demokrasi kita adalah upaya yang masih terus ada untuk mengadu domba sesama anak bangsa dalam urusan agama, angka kemiskinan yang masih tinggi serta korupsi dengan berbagai bentuknya. Indonesia masih menduduki peringkat kedua negara paling korup di Asia bersama Thailand dalam survei terakhir yang dilakukan oleh PERC, walaupun diberi catatan sudah ada perbaikan.

  6. Indonesia Terima Penghargaan Medali Demokrasi
    Kamis, 11 Oktober 2007 | 20:52 WIB

    TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia menerima penghargaan Medali Demokrasi dari International Association of Political Consultants (IAPC). “Ini merupakan pengakuan masyarakat internasional bahwa Indonesia memang negara demokratik,” kata Ketua IAPC Pri Sulistio dalam konferensi pers di Kantor Presiden.

    Indonesia, kata Pri, dinilai berhasil mengembangkan dan melaksanakan sistem demokrasi dengan baik. Indikatornya, lanjut dia, adalah dari Pelaksanaan Pemilu 2004 yang dilalui tanpa gangguan apapun. “Ini suatu prestasi yang besar,” kata Pri.

    Selain itu indikator lainnya, kata Pri, adalah banyaknya perbaikan yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. “Seperti kebebasan pers diperlakukan. Jadi proses transformasi ini dinilai berjalan dengan baik,” kata Pri.

    Menurut dia, seleksi penganugerahan ini ketat. “Banyak pihak yang memonitor demokrasi di Indonesia dan menganggap Indonesia sangat pantas untuk mendapatkan award,” katanya.

    Penghargaan ini akan diberikan di Konferensi Dunia ke-40 yang akan diadakan pada 12-14 November 2007 di Nusa Dua, bali.

  7. RP ‘most corrupt’ in Asia — PERC

    ‘It’s bad and has been bad all along’

    By Cyril Bonabente
    Inquirer, Agence France-Presse
    Last updated 01:53am (Mla time) 03/14/2007

    MANILA, Philippines — Despite the much-publicized efforts by the Arroyo administration to curb corruption, foreign businessmen perceive the Philippines to be the most corrupt economy among 13 countries and territories across Asia.

    The Philippines replaced Indonesia as the country with “the distinction of being perceived in the worst light this year,” the Hong Kong-based Political and Economic Risk Consultancy said Tuesday in a summary of its survey that was made available to Agence France Presse (AFP).

    PERC, which provides advice to private firms and governments, polled 1,476 expatriate businessmen in the region in January and February. Of the total, more than 100 were based in the Philippines.

    The survey also found some countries were failing properly to tackle corruption.

    In a grading system with zero as the best possible score and 10 the worst, the Philippines got 9.40, worsening sharply from its grade of 7.80 last year. Indonesia had been deemed Asia’s most corrupt country in 2006.

    PERC said it had not noted a worsening in the actual situation in the Philippines despite its deteriorating score.

    “It is bad and has been bad all along. People are just growing tired of the inaction and insincerity of leading officials when they promise to fight corruption,” it said.

    When asked by PERC to assess how serious the corruption problem in the public sector was, Philippine-based foreign entrepreneurs gave an average score of nine.

    Private sector good

    Perceived corruption in the private sector was not as bad, however.

    Aside from asking the expatriates to grade corruption in the public and private sectors, PERC had them assess the effectiveness of the judiciary in fighting corruption and the tolerance of average citizens toward corruption.

    In a phone interview from Hong Kong, PERC managing director Robert Broadfoot said: “Respondents gave the private sector a score of 4.15, which is quite good.”

    The interviewees were mostly Western businessmen and were in the trading, banking and manufacturing industries.

    When PERC noticed the discrepancy between the distrust levels for the public and private sectors, it asked other expatriates, “major” Filipino businessmen and universities to explain why the respondents gave the public sector a bad rating, Broadfoot said.
    Estrada trial, raps vs Arroyo

    “Cited were unresolved cases like the corruption trial of deposed President Joseph Estrada. The case has been dragging on for years. Then there’s the opposition’s [corruption and electoral fraud] charges against President (Gloria) Macapagal-Arroyo,” Broadfoot told the Philippine Daily Inquirer.

    Estrada was put on trial for plunder after he was ousted in 2001. He was charged with plunder for allegedly amassing some P4 billion in payoffs from illegal gambling operations, tobacco tax kickbacks and commissions.

    Calls from various sectors, including the Church, that Ms Arroyo be investigated for allegedly cheating in the 2004 presidential election remain unheeded after impeachment complaints against her were defeated in the House of Representatives twice — in 2005 and 2006.

    Inappropriate to compare

    Broadfoot said credible corruption trials could convince businessmen that the Philippines was serious about fighting corruption.

    The PERC managing director, however, said it might be inappropriate to compare the Philippines’ corruption rating with that of other Asian countries.

    “The Philippines’ score was based only on interviews of expatriates in the country. [PERC] did not ask a single group of expatriates to give scores to all Asian countries,” he said.

    Broadfoot said it would be better to compare the Philippines’ current corruption rating with its previous scores.

    Singapore and Hong Kong were seen as the cleanest economies, while China, Indonesia and Vietnam posted improvements, said PERC.

    Thai junta

    The perception of corruption in Thailand worsened, with the military junta now in power after last September’s coup seen as being little better than the government it ousted.

    Thailand and Indonesia, both with a grade of 8.03, shared the spot as Asia’s second most corrupt nations.

    The junta that ousted Thaksin Shinawatra as Thailand’s prime minister last year promised to fight corruption “but there is no reason to be confident that its behavior will be any cleaner,” PERC said.

    On Indonesia, PERC said President Susilo Bambang Yudhoyono’s campaign to crack down on corruption had “produced some positive results, but he is still swimming against the current.”

    The rankings of the 13 economies put Malaysia in the middle, marginally worse than last year.

    “One of the big disappointments for many Malaysians is that Prime Minister Abdullah Ahmad Badawi has not been able or willing to follow through effectively with his campaign promise to reduce corruption,” PERC said.

    Media censorship in China

    China and Vietnam bettered their scores, but PERC said that the improved perception was because corruption was not being discussed openly.

    “The media in both China and Vietnam are subject to tight censorship. The only bad news the governments want published is news that they see fit for public consumption,” it said.

    China was the seventh most corrupt nation, according to the survey, up two places from last year. Vietnam was in 10th place out of 13, also up two places.

    India was in ninth place. PERC said the Indian government must accelerate reforms, warning that corruption could limit companies’ expansion plans.

    Singapore again just beat regional rival Hong Kong as the cleanest economy, although the latter posted a sharp improvement from its image in 2006.

    This may have resulted from a perception that “the differences between Hong Kong and (mainland) China are even starker now,” Broadfoot said.

    Singapore is becoming increasingly vulnerable to corruption elsewhere, the PERC report said, citing the soured investment by Temasek Holdings, a state-linked investment firm, in Thai telecom giant Shin Corp.

    The tax-free sale of Shin Corp. to Temasek by the Thaksin family fueled the political crisis that led to the military taking power in Thailand.

    Another problem, according to the report, is that foreigners “who have profited from corruption elsewhere in Asia sometimes seek a haven for their ill-gotten gains” in Singapore, where rich Indonesian families hold massive assets.

    Indonesia pleased

    Indonesia was pleased that its image had improved.

    “I think there is enough basis for that rating, because there have now been a lot of anticorruption policies put in place,” said Teten Masduki, chair of Indonesia Corruption Watch.

    He said reforms were beginning to yield results within the government, including in curbing corrupt practices and promoting transparency.

    “Of course we are happy,” said Johan S.P. Budi, spokesperson for Indonesia’s National Anti-Corruption Committee.

    “At least it shows the seriousness of the government in its efforts to improve its image and in curbing corruption,” he said.

    Conflicts of interest

    Somchai Jitsuchon, director of macroeconomics at the Thailand Development Research Institute, said he was not surprised by the findings, which related mainly to the Thaksin era.

    “Circumstantial evidence has clearly shown that there is no improvement in terms of policy corruption, while emerging conflicts of interest got worse during Thaksin’s government,” Somchai told AFP.

    He said policies endorsed during Thaksin’s administration overwhelmingly benefited certain business groups, especially those owned by Thaksin himself.

    “Given the limited tenure of this interim government, the chance of corruption rising further is minimal. But it doesn’t mean all these bureaucrats would not become corrupt if they had a chance,” Somchai said.

    Copyright 2007 Inquirer, Agence France-Presse. All rights reserved. This material may not be published, broadcast, rewritten or redistributed.

  8. @ Hati Nurani
    Terima kasih data-datanya. Mudah-mudahan orang Indonesia semakin percaya diri dan semangat. Dan moga-moga data-data ini bisa menjadi cambuk buat Indonesia (dan Malaysia) untuk menjadi lebih baik lagi.

  9. # Charvye Berkata:
    Oktober 22nd, 2007 pada 6:08 pm

    Saya percaya, sangat percaya. bahkan tanpa membaca artikel bro Junarto tentang Indonesia & Malaysia.
    Kita, Indonesia, sudah melewati banyak sekali cobaan dan Tuhan memberkati perjuangan kita, kita masih utuh sebangai NKRI sampai detik ini adalah bukti tak terbantahkan.

    Me-manage satu negara multi kultur tidak lah segampang wancana, berjuta problem datang terus menerus tapi toh kita bisa lewatin.

    negara tetangga boleh menulis apa aja tentang kita, tapi seandainya mereka ngalamin hal serupa, belum tentu mereka masih bisa utuh sebagai negara.

    Saya warga Negara RI keturunan Tiongkok, tapi bangga ber KTP Indonesia. Dan dengan sejujurnya, meski ditawarin, saya akan pikir 1000x buat pindah ke Singapore apalagi Malaysia.

    Kita masih negara berkembang, jadi wajar saja banyak masalah disegala sektor yang perlu pembenahan. tak ada negara yang plek merdeka langsung maju.

    Dalam pendapatku, Malaysia sekarang hampir sama keadaannya seperti kita saat Orde Baru (ekonomi pesat, etc, etc).
    Dengan kata lain, evlolusi kita sebagai bangsa sudah satu tahapan lebih maju.

    Negara yang mengekang kebebasan bersuara, suatu saat akan tertinggal, gmana mau maju terus kalo kepentingan bangsa hanya dipikir oleh segelintir orang? Kemajuan Bangsa, ya miliki semua rakyatnya.. kudu dipiikirin sama2.

    YA!! Indonesia punya potensi untuk melesat.

    =======================

    Bicara memang senang dong, lihat sahaja sejensis yang berasal dari Tiogkok, di Malaysia dan Singapura sendiri, secara umumnya mereka lebih suka berhijrah ke Australia, AS dan Eropah. Bila s’pura mengalami krisi ekonomi mereka cepat2 lari ke Australia, yah kalau anda berfikiran hidup di Singapura itu lebih baik hidup di Indonesia, sedanagkan Cina singapura sekarang sudah mau lari dong. Ini makna cara berfikir Mas masih dalam level bawah cina Spora dan Malaysia. Mungkin ini akibat pendidikan nasional Indonesia, bukannya sifat Cina dan budaya kinerja kaum Cina.

    Mungkin Spura adalah tempat transit yang bagus untuk kaum Cina yang korupsi di Indonesia, sehigga beberapa korupter Cina dari Indonesia terselamat dalam kasus Krisis Rupiah Dollar (Spora tidak ada undang-undang ekstradisi dengan Indonesia). Setelah bangsa Indonesia (aka Jawa) ditipu oleh Cina Konglomerat melarikan kekayaan orang Indonesia, alih2 dapat suaka di Spora.

    Mungkin anda ini hanya orang dari tiongkok yang biasa-biasa aja, bukannya ukuran kepada Cina yang lain . Aku sering berbisnes ke Indonesia, aku tahu siapa rakan bisnes aku diJakarta. Mungkin orang Jawa bisa pegang slogan pemerintahan sahaja lagu rasa sayange, mitos Indonesia bangsa kuat, tapi ekonominya pada siapa yah? Lihat saja bila negara kena krisis ekonomi, bangsa mana yang cepat2 melarikan diri ke negara luar, bukankan bangsa cina?

    Roslank

  10. @ Roslank

    Maaf sebelumnya kalo saya berpendapat bahwa posting anda diatas telah menunjukkan kepada kita kualitasnya intelektual anda yang rendah.

    Ketika anda nulis saat krisis orang2 cina pada lari keluar, apakah anda bermaksud mengatakan bahwa SEMUA orang Indonesia Tiongkok kabur??

    Kalo anda coba mau pakai otak sedikit lagi saja, maka saya yakin anda akan kepikiran bahwa hanya segelintir persen yang lari keluar. Masih banyak yang setia dan bangga bernegara bertanah air di Indonesia.

    Membaca postingan anda, saca tersenyum kecil karena secara tidak langsung anda sudah menunjukkan level intelektualitas anda.

    saya mengakui kalo nasionalisme saya terhadap Indonesia termasuk tinggi, dan postingan anda berbau sepertinya anda iri pada kenyataan ini. apakah orang tiongkok di Malaysia tidak bangga bertanah air malaysia? kalo jawabnya YA, saya sudah tau alasannya.

    saya bicara fakta sedangkan anda bicara kosong.
    tak ada gunanya perdebatan ini dilanjutkan, kita tidak akan ketemu di satu titik.

    Sekian dari saya.

  11. Nampaknya orang-orang Indonesia ini suka berfalsafah lah kiranya, waduh saya dituduh tidak intelektual bila menguak sedikit fakta tentang indonesia. katanya bangsa indonesia cintakan indonesia dan banyak lagi. Duss, ilmu penampilan penulisan pula ingin dibahas, kalau menulis kasar kiranya wataknya kasar dan kejam macam Oknum Malaysia.

    Baiklah bapak Mihael “D.B.” Ellinsworth dan Charvye, apakah saudara ini betul cintakan Indonesia dan bangga menjadi anak indonesia?
    Tapi keterampilan anda tidak, anda lebih suka mengunakkan nama asing cuba lihat nama anda

    Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Charvye

    “saya mengakui kalo nasionalisme saya terhadap Indonesia termasuk tinggi, dan postingan anda berbau sepertinya anda iri pada kenyataan ini”

    Ini bukan nama indonesia, apakah saudara ini bangsa yang inferior kerana tidak memakai nama Jawa, nama Indonesia. Apakah pengakuan di atas bukti hipokrasi saudara cintakan Indonesia?

    Kalau sekadar ingin menunjukkan kesalahan orang lain itukan senang, memperkatakan orang lain tidak intelektual itu senang dong. Namun untuk mengusung identiti dengan memakai nama sebenar Indonesia itu yang sulit sebenarnya untuk anda, apakah itu jatidiri anda? atau anda ngak punya jati diri sendiri.

    Kok nama Indonesiapun mau diGANYANG dengan nama orang Barat. Anda patut malu pada diri sendiri dong, memperkatakan patriotik indonesia dan nasionalis indonesia, tapi mengusung identiti tak karuan.

    ini faktanya….apa Orde Baru telah menghilangkan identiti orang indonesia? Kalau tanya sama saya, saya katakan mereka sebenarnya inferior dengan John, Micheal, Lemming dll sebab itu mereka suka berselidung disebalik nama bangsa lain, kemudian merasa superior.

    Sekian dari Saya

    RoslanK
    (tidak pernah merasa inferior dng nama Melayuku)

  12. Bung Roslan, Indonesia adalah sebuah bangsa yang unik karena terbentuk dari hasil pengaruh budaya lokal dengan berbagai budaya besar seperti Hindu/Budha (India), Islam (Arab), Cina dan Barat.

    Nama-nama seperti David, Michael, Robert, John kebetulan merupakan pengaruh dari barat dan nama-nama semacam ini di Indonesia tidak hanya digunakan oleh orang Indonesia keturunan Cina tapi juga oleh orang Indonesia dari suku Batak, Jawa, Maluku, Papua, Minahasa, Dayak, Nusa Tenggara dll.

    Kalau orang Melayu di Malaysia kan, nama-nama mereka umumnya diambilkan dari Arab. Yang saya dengar, hampir tidak mungkin menemukan orang Melayu di Malaysia yang bukan beragama Islam sehingga kita bisa maklum kalau nama-nama orang Melayu di Malaysia umumnya hanya bernuansa Arab sehingga Bung Roslan mungkin merasa bahwa nama-nama tersebut adalah nama “asli” Melayu. Apakah nama-nama yang populer di Malaysia seperti Mahathir Muhammad, Tun Abdul Rahman, Ahmad Badawi, Anwar Ibrahim, Azizah. Sitti Nurhalisa adalah nama-nama “asli” dari Malaysia, Bung ? Saya kira nama-nama tersebut juga “diimpor” dari negeri Arab.

    Indonesia agak berbeda dengan Malaysia. Walaupun Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas orang Indonesia, namun orang Indonesia bebas memilih agama yang mau kami anut dan kita bisa menemukan dengan mudah orang “bumi putra” Indonesia yang beragama Islam, Kristen, Budha, Hindu bahkan kepercayaan lokal. Mereka bebas memilih agama dan kepercayaan mereka, sehingga wajarlah kalau kebetulan mereka beragama Islam, namanya bernuansa Arab, kalau mereka beragama Kristen, namanya bernuansa barat dst. Di Indonesia kami bebas memilih agama kami. Bagaimana di Malaysia, Bung Roslan ? Apakah di Malaysia juga ada kebebasan bagi orang Melayu untuk memilih agama mereka ?

    Kita lihat, beberapa pahlawan Indonesia yang namanya berbau barat seperti Yosafat Sudarso (dikenal dengan nama Yos Sudarso) dan Yohannes Leimena (dikenal dengan nama Pak Yo) – mereka sungguh nasionalis dan mereka berjuang melawan penjajah Barat.

    Jadi janganlah melihat dengan kaca mata sempit bahwa kalau nama kita berbau asing kemudian dianggap tidaklah nasionalis. Nama Bung Roslan (Mohd) sendiri saya kira berbau “asing” yaitu dari “Arab”, apakah kemudian dengan mudah saya menyimpulkan bahwa anda bukanlah seorang nasionalis Malaysia karena nama Anda yang kebetulan berbau Arab ?

    Nelson Mandela, semua orang tahu bahwa beliau adalah nasionalis besar dari Afrika Selatan yang sangat gigih melawan penjajah Barat. Beliau kebetulan menggunakan nama Barat, apakah kemudian Anda menyimpulkan bahwa beliau tidak nasionalis, Bung?

    Memang ada berbagai pemikiran dan kritik seperti dari tokoh seperti Gus Gur tentang “pribumisasi” agama. Menurut beliau, menjadi Kristen tidaklah perlu “menjadi” orang barat dan menjadi Muslim tidaklah perlu “menjadi” orang Arab. Beliau memberikan contoh dengan memberi nama cucu pertama beliau dengan nama “Parakitri” yang agak unik karena sebagai tokoh agama Islam, umumnya nama yang digunakan adalah nama-nama bernuansa Islam.

    Semoga bisa menjadi bahan pencerahan, Bung !

  13. FROM WIKIPEDIA :
    http://en.wikipedia.org/wiki/Malaysian_name

    MALAY NAMES

    Malay names are often drawn from ARABIC and follow some ARABIC naming customs, although some names have Malay, Javanese or Sanskrit origin. A Malay’s name consists of a personal name, which is used to address him or her in all circumstances, followed by a patronym. Malays do not use family names. For men, the patronym consists of the word bin (from Arabic بن, meaning ‘son of’) followed by his father’s personal name. Thus, if Osman has a son called Musa, Musa will be known as Musa bin Osman. For women, the patronym consists of the word binti (from Arabic بنت, meaning ‘daughter of’) followed by her father’s name. Thus, if Musa has a daughter called Aisyah, Aisyah will be known as Aisyah binti Musa. Upon marriage, a woman does not change her name, as is done in some cultures.

    Sometimes the first part of the patronym, bin or binti, is reduced to B. for men, or to Bt., Bte. or Bint. for women. This sometimes leads to it being taken as a middle initial in Western cultures. In general practice, however, most Malays omit the word bin or bint from their names. Thus, the two examples from the paragraph above would be known as Musa Osman and Aisyah Musa. When presented in this way, the second part of the name is often mistaken for a family name. However, when someone is referred to using only one name, the first name is always used, never the second (because you would be calling someone by his or her father’s name). Thus, Musa Osman is Mr Musa (or Encik Musa in Malay), and Aisyah Musa is Mrs/Ms/Miss Aisyah (or Puan/Cik Aisyah in Malay).

    Addenda to names
    Often the straightforward system of naming among Malays in complicated by addenda. This is where a double name is used in place of one. The addendum is always the first part of such double names. Addenda are easily spotted as they are drawn from a restricted pool of possible names. These addenda rarely form a complete name on their own, but are almost always followed by another personal name.

    The popular addenda in the Malay male names are:

    Muhammad / Mohammad / Mohammed (often abbreviated to Mohd., Muhd., Md. or simply M.)
    Mat (the Malay variant of Muhammad. Mat is also the casual spoken form of names ending with -mad or -mat such as Ahmad, Rahmat, Samad, etc.)
    Ahmad
    Abdul (as in Arabic, Abdul is not a complete name in itself, but, meaning ‘servant of’, must be followed by one of the 99 Names of God in the Qur’an; for example, Abdul Haqq — ‘servant of the Truth’)
    The most common addenda in the Malay female names are:

    Nor / Noor / Nur / Nurul
    Siti
    Thus, Osman may have another son called Abdul Haqq, who is known as Abdul Haqq bin Osman, or Abdul Haqq Osman. Then he, in turn, may have a daughter called Nor Mawar, who is known as Nor Mawar binti Abdul Haqq, or Nor Mawar Abdul Haqq.

    If someone has been on the Hajj, the pilgrimage to Mecca, they may be called Haji. Thus, if Musa bin Osman went on the Hajj, he could be called Haji Musa bin Osman, and his daughter Aisyah might be called Aisyah binti Haji Musa.

    Some addenda are inherited Malay titles (from the paternal side of the family). These exclusively involve the aristocrats, or even the royals, and their descendants. However, some families have these addenda even though they may not be royals or aristocrats.

    The examples of inherited addenda are:

    Raja
    Tengku
    Wan
    Nik
    Tuan
    Syed / Sharifah (for male and female, respectively)
    Meor
    Megat / Puteri (for male and female, respectively)
    Abang / Dayang (popular in Sarawak, for male and female, respectively)

    Chinese names
    Traditional Chinese names are used among Malaysian Chinese. These names are usually represented as three words, for example Foo Li Leen or Tan Ai Lin. The first name is the Chinese family name, which is passed down from a father to all his children. The two other parts of the name form an indivisible Chinese given name, which almost always contains a generation name. In Western settings, the family name is sometimes shifted to the end of the name (for example, Li Leen Foo). Some Chinese also take a Western personal name (for example, David Foo).

    Indian names
    Officially, Malaysian Indians use a patronymic naming system combining their traditional Indian names with some Malay words. A man’s name would consist of his personal name followed by the Malay phrase anak lelaki, meaning ‘son of’, and then his father’s name. A woman’s name would consist of her personal name followed by the Malay phrase anak perempuan, meaning ‘daughter of’, and then her father’s name. The Malay patronymic phrase is often abbreviated to a/l (‘son of’) or a/p (‘daughter of’) and then their father’s name. In many circumstances, the intervening Malay is omitted, and the father’s name follows immediately after a person’s given name. Following traditional practice from South India, the father’s name is sometimes abbreviated to an initial and placed before the personal name. Thus, a man called Anbuselvan whose father is called Ramanan may be called Anbuselvan anak lelaki Ramanan (formal), Anbuselvan a/l Ramanan (as on his MyKad), Anbuselvan Ramanan or R. Anbuselvan. Whereas, his daughter Mathuram would be called Mathuram anak perempuan Anbuselvan (formal), Mathuram a/p Anbuselvan (as on her MyKad), Mathuram Anbuselvan or A. Mathuram. Although not recorded officially, an Indian woman may use her husband’s personal name instead of her father’s name after marriage.

  14. Bung Roslan,

    Ketika anda sudah kehabisan alasan, anda memilih untuk menjatuhkan Bung Mihael dan Charvye dengan menyebut bahwa nama mereka pun berbau kebarat-baratan dan tidak nasionalis. Pemikiran anda sungguh picik, bung Roslan. Saya setuju dengan rekan saya Hati Nurani, bahwa nama bukanlah jaminan seseorang itu lebih nasionalis dari yang lain. Sebelum anda mengkritik nama orang lain, kenapa anda tidak menengok nama anda sendiri yang berbau Arab. Kalau kami pakai logika seperti anda berlogika, pantas dong kami mempertanyakan kenapa anda sendiri tidak pakai nama yg khas Melayu, benar Melayu yah, bukan Arab. Mungkin anda akan beralasan bahwa orang tua andalah yg memberi nama itu. Nah menurut logika anda itu berarti orang tua anda itu bukan nasionalis malaysia dong?????? hehehehe lain kali kalo kasih komentar, mikir dulu bung.

  15. Mbak emma, hummp marah nampaknya, Roslan ini mungkin juga anak idiot dalam kacamata orang Indonesia kerana banyak mengkritis cara berfikir beberapa orang yang ada dalam blog ini.

    Saya melihatkan banyak ‘bias’ dalam penulisan anda semua terhadap Malaysia, banyak tenaga muda dibuang2 hanya sekadar untuk berdemostrasi di Kedutaan Malaysia di Indonesia, sedangkan tenga muda anada semua itu kalau disalur ke bidang industri mungkin boleh menghasilkan pulangan yang lumayan.

    Saya akui nama saya Mohd Roslan, dan itu dikenal di Malaysia dan ini membawa imej Melayu Islam, jadi apa yang perlu saya perhitungkan? Adakah saya bersalah kerna memakai nama itu? yang saya persoalkan adalah nama yang dipakai adalah nama rekaan dan berselindung balik nama asing.
    Cuba lihat nama ini, adakah ini nama sebenar atau nama samaran kerana merasa inferior dengan nama jawa atau sebaliknya.

    Condro Triono-Kusdawarjo mungkin ini nama jawa tapi nama dibawah ini bukan dong. Apakah kerana takut dengan nama Jawa makan nama English yang jadi pilihan.

    Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Charvye

    Kalaupun ayah saya bukan nasionalis apa masalahnya? Tapi saya tidak malu menggunakan nama itu. Nama itu menggambarkan saya yang sebetulnya. So EMMA ini namanya apa ya- mungkin mbak marsinah, retnabugiowan.
    Sih kenapa suka berselindung dibalik nama English. Mana Indonesiamu.

    Mungkin anda tidak betah dgn sejarah Malaysia mungkin, yang perlu dilaungkan adalah GAYANG MALAYSIA, Malaysia tidak patriotik dan nasionalis. Itu yang anda bisa kumandangkan tapi anda tidak bisa menyelamat ABG-ABG, yang bisa diGANYANG OLEH ORANG MALAYSIA di LOKALISASI dan datang ke kamar hotel. Dengan Rupiah satu juga, lelaki Malaysia bisa mengayang ABG-ABG ini. Di hotel saya kelmarin, ada ABG genit2 yang menawarkan kehormatan dengan Rupiah 1 juta, ada beberapa Englishman mengambil khidmat mereka.

    Realiti ayam kampung ini satu fenomena besar dong,kerana apa, katanya tekanan ekonomi. Jadi EMMA sebagai seorang yang bijak juga perlu selamatkan dulu ABG (ayam kampung) ini. Jangan biarkan kerana ekonomi rela diri digayang.

    Mbak Emma juga kena faham, pengunjung blog ini relatifnya sedikit, jadi tidak ramai (tak sampai 100orang sehari). Mungkin ini pandangan segelintir rakyat Indonesia, bukan semacam tokoh konglomerat Indonesia yang saya temui kelmarin. Rata-ratanya berfikiran agak global tentang isu indonesia dan Malaysia, dan ada yang pernah menetap di Malaysia hampir 20 tahun. Mereka berpendapat bahawa dalam perubahan ekonomi Indonesia, untuk menghapuskana kadar kemiskinan yang membengkak, mereka perlukan transformasi sementara untuk mengurangkan kemiskin dengan mengeksport TKI, ke Sabah, Serawak, Semenanjung Malaysia, Arab, Singapura. Tapi kerana ramai TKI tidak mampu berbahasa Inggeris maka mereka lebih senang kalau ‘absorber’ itu adalah Malaysia, Brunai, Sabah dan Sarawak yang mempunyai hubungan ras dan bahasa yang tidak rumit untuk difahami.

    Anggaran kasar dari seorang ekonom, kalau ekonomi indonesia berterusan berkembang, dalam masa 15-20 tahun baru sektor kerja mencukupi di Indonesia. Jadi dengan kata lain Indonesia perlukan negara lain TKI ini mendapatkan kerja. Ini realiti yang perlu kita lihat dong.
    Ketemu saya tidak apa saya tidak pernah kejam kepada perkerja saya, cina, melayu, india, indonesia, Kerna saya waras.

    Apa EMMa sudah ke Malaysia? kalau belum mbak boleh datang dan lihatlah sendiri, bandingkan Bandara Changkering dan Bandara KLIA. Pasti anda akan dapat rasakan apa itu erti sebuah kemajuan material.

    Selamat berfikir untuk menyelamatkan Indonesia dan puterinya sekali.

    RoslanK
    Denmark.

  16. Untuk Bung Roslan

    Sya heran dengan postingan Anda, dari yang temanya berlindung di balik nama Barat mengapa jadi ke fenomena ayam kampung? Tidak konsisten.

    Sudah dijelaskan oleh Bung (mbak?) Hati Nurani bahwa nama-nama di Indonesia tidak hanya terdiri dari nama asli daerah tetapi juga nama-nama serapan dari luar seperti Arab, India, dan Barat.

    Jika menurut Anda memakai nama barat bukan tindakan nasionalis, bukankah dengan kebanggaan Bung (mbak?) Charvye dengan menyatakan dirinya bangsa Indonesia dengan etnis Tionghoa sudah cukup menunjukkan ke-nasionalisme-annya tersebut? Nama tidak menjadi persoalan karena walaupun ia bernama barat tetapi sesungguhnya ia memang seorang Indonesia yang mempunyai kebanggaan terhadap negaranya, seperti kata Shakespeare, ‘Apalah artinya sebuah nama?’ yang terpenting adalah pribadi di balik nama tersebut.

    Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, jadi saya tidak melihat poin Anda yang menyatakan bahwa ia maupun orang Indonesia lain yang memakai nama barat bukanlah seorang nasionalis sejati.

  17. Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2008 Capai 6,4 Persen

    Jakarta (ANTARA News) – Indonesia diprediksi bakal mengalami kenaikan tajam pada konsumsi domestik dan investasi pada 2008 sehingga ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih cepat dari 6,3 persen pada 2007 menjadi 6,4 persen.

    “Kami perkirakan, momentum ekonomi dan laju petumbuhan ekonomi yang tinggi, disertai dengan kenaikan investasi pemerintah bakal dapat mempertahankan prospek positif ekonomi Indonesia pada tahun depan, meskipun ada perlambatan global,” ungkap Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Joachim von Amsberg, di Jakarta, Kamis, saat menyampaikan hasil tinjauan semesteran terbaru Bank Dunia tentang ekonomi Asia Timur dan Indonesia.

    Joachim menambahkan, situasi makroekonomi yang kondusif akan membuka kesempatan reformasi pada sektor mikro. “Reformasi untuk memperbaiki iklim investasi akan dapat menumbuhkan investasi dengan cepat sehingga membuka lapangan kerja baru, kompetisi yang lebih terbuka, dan kenaikan pendapatan untuk menekan kemiskinan,” ujarnya.

    Sementara itu, Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia William Wallace mengingatkan, masih ada resiko penurunan mengingat situasi global yang masih bergejolak.

    “Indonesia memang dikaruniai komoditas-komoditas dengan nilai jual tinggi di pasar yang kemudian diwujudkan dalam transaksi perdagangan sehingga mendorong pertumbuhan. Namun, di sisi lain, kenaikan harga produk yang tinggi itu terkompensasi oleh perlambatan ekonomi AS, yang menyebabkan perlambatan ekonomi dunia dan inflasi yang lebih tinggi,” jelasnya.

    Dalam kesempatan itu, Bank Dunia mengungkapkan pertumbuhan ekonomi di negara-negara ekonomi baru di Asia Timur bakal mencapai 8,2 persen atau sedikit melambat dari 8,4 persen pada 2007 yang didorong oleh investasi dan konsumsi di China, meski perlambatan ekonomi AS akan mempengaruhi ekspor negara Asia Timur lainnya.

    Ekonomi China sendiri diperkirakan bakal tumbuh 10,8 persen pada 2008, Jepang tumbuh 1,8 persen, Korea tumbuh 5,1 persen, Vietnam tumbuh 8,2 persen dan Thailand tumbuh 4,6 persen.

    Ekonom Utama Bank Dunia, Vikram Nehru, mengatakan pertumbuhan cepat di Asia Timur menyebabkan penurunan tajam pada angka kemiskinan.

    Menurut catatan Bank Dunia, jumlah penduduk miskin yang hidup di bawah 2 dolar AS per hari di kawasan itu turun menjadi 27 persen dari sebelumnya 29,5 persen.

    Terkait kenaikan harga minyak dunia yang saat ini berada pada level di atas 90 dolar AS per barel, Bank Dunia juga mencatat adanya kenaikan permintaan di negara berkembang di kawasan itu 3-4 persen per tahun.

    Tinjauan itu menyebutkan, harga rata-rata 90 dolar AS per tahun pada 2008 akan memangkas 1 persen PDB di Asia Timur. (*)

    http://www.antara.co.id/arc/2007/11/15/bank-dunia-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2008-capai-6-4-persen/

  18. Perlu saya akui,hebat sekali encik Roslan kita yang satu ini.
    beberapa reply yang dibuatnya sempat membuat saya panas.

    Entah apa hebatnya yang hendak dia sampaikan,fenomena ayam kampung,TKI,economic growth dsb.

    Sudah jamak dan menjadi kebiasaan,encik – encik dan puan – puan di Malaysia membutuhkan TKI,dan sudah terjadi hubungan saling membutuhkan,ya sudah,kenapa harus ribut TKI? Atau kalau tidak suka,pulangkan saja mereka.Ganti dengan bangla,nepal,thai,filipino.selesai.

    Kalau kalau TKI itu lebih giat bekerja,tekun dan pintar,jangan salahkan mereka.

    Yang penting PATInya harus rajin disweeping oleh RELA sesuai SOP/juklak yang ada,kemudian diproses melewati hukum dan dideportasi.Saya yakin itu akan cepat,karena system kependudukan di Malaysia adalah lebih baik ( mengingat ID anda telah memakai chip,dibanding dengan KTP ala Indonesia ) selesai.

    Ayam kampung? bukankah anda sendiri yang berbicara itu ada semenjak romawi kuno,bisnis esek-esek inilah yang paling menguntungkan.Namanya juga fenomena,sudah pasti ada tauke tauke dan perempuan yang mau untung cepat.Kenapa harus ribut? berpulang dong ke nurani masing masing,mau memakai ‘service’ mereka atau tidak.

    Negara hanya pembatas/ruler dengan membuat undang-undang,Kyai/Ustadz hanya berbicara,menyampaikan.Astaghfirullah,saya baca di posting lain anda tentang adanya kyai yang membolehkan adanya lokalisasi.Dimana anda membaca ini?

    Posting lain anda berkehendak mencari ayam kampung seketika anda bertugas di Jakarta?Apa ini sudah menjadi kebiasaan anda? Apa anda tidak malu ber”nama” Mohammad Roslan? Apa anda fikir anda lebih mulia dari Charvye,Mihael,Emma?

    Teman-teman kerja saya,orang malaysia kebanyakan bertendensi ke arah racist,mereka lebih cepat & tanggap bila mengidentifikasi sebuah nama & etnis.Bahkan mereka sempat heran,Muslim Indonesia bernama Toni atau Doni.Saya jawab bahwa itu jamak sekali dan tidak perlu dipertentangkan.

    Rumah saya encik,punya tetangga,
    etnis Tionghoa,Jawa,Sunda,Ambon,Batak,Bugis..dan semua saling menjaga kerukunan.

    So what? Apa Abdullah itu lebih baik dari Toni dan kemudian masuk surga? anda pasti tidak sampai berfikir di fase ini bukan? Bagaimana nanti bila anda bertemu dengan, Bulent,Urhan,Eksioglu ( Moslem,Turkish) atau Lee,Chang,Moslem dari cina ?

    Mengingat beberapa posting anda ditulis di Pakistan,Swedia,KL.Saya pikir anda bukanlah ‘orang kampong’ yang duduk di rumah panggung sambil menikmati santapan nasi lemak.You are the one who will shift your paradigm,I believe.

    Perlu saya garisbawahi bahwa sebenarnya anda tidak mempunyai topik lain lagi yang akan membuktikan kecerdasan intelektual anda atau membela kata – kata anda.Anda sudah sebenarnya mafhum,namun mungkin anda ingin membuktikan pepatah : sekali layar berkembang,pantang membuang sauh…

    Mohon maaf penilaian saya,jayalah terus Indonesiaku!!

Komentar ditutup.