Home

Buaian rezim berkuasa di negara itu kepada rakyat mereka: Malaysia teladan bagi keberhasilan sebuah negara membangun. Negara-negara lain berada di belakang. Tak perlulah mengikuti negara lain. Media massa Malaysia menjadikan angkasawan pertama Malaysia sebagai salah satu exemplar bingkai “kejayaan Malaysia” itu, selain “prestasi bangsa Melayu sejauh ini.” Pembingkaian tersebut boleh dibilang bentuk fasisme lunak.

Perhatikan propaganda pemerintah melalui Bernama berikut.

We mustn’t forget that some countries, which were doing even better than us when we achieved Merdeka, had fallen by the wayside because of poor governance and instability.”‘

Jika yang dimaksud “some countries di antaranya Indonesia, strategi othering tersebut boleh dibilang sudah kadaluarsa.

Perjuangan melawan rasuah di Indonesia dalam sembilan tahun terakhir membuahkan hasil — meskipun masih jamak pekerjaan rumah tersisa. Komisi Pemberantasan Korupsi berhasil mengungkapkan pelbagai penyelewengan. Tidak sedikit pejabat negara, mulai anggota parlemen, hakim, bupati, gubernur yang diadili dan dipenjarakan. Budaya takut menerima suap dan korup mulai muncul. Tidak mungkin fenomena ini terjadi di Malaysia saat ini karena pengawasan masyarakat sipil terhadap kekuasaan begitu lemah dan korupsi adalah bagian integral sistem negara itu.

Bernama, misalnya, takkan berani mengangkat kasus korupsi tingkat tinggi yang diungkapkan Anwar Ibrahim. Anwar berhasil mempertunjukkan kepada rakyat lewat Youtube video skandal sistem peradilan di Malaysia yang melibatkan hakim agung. Dalam video itu seorang pengacara berkata kepada sang hakim ada saudagar perjudian bersedia membayar “asalkan Anwar dan kawan-kawannya dipenjarakan.”

Media massa arus utama semacam Bernama sekadar menjadi corong penguasa untuk membantah. Namun, fakta bahwa aksi unjuk rasa dua ribu pengacara di jalan-jalan Putra Jaya mengecam skandal tersebut menunjukkan bahwa tidak semua rakyat Malaysia dapat menerima kebohongan penguasa. Dua ribu pengunjuk rasa, untuk ukuran Malaysia itu kejadian luar biasa.

Istri Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail, juga menungkapkan penyelewengan dana bagi korban tsunami sejumlah 9,84 juta ringgit.

Pada pokoknya, di tengah propaganda ramai dan gencar tentang kejayaan Malaysia, negara itu sesungguhnya semakin mengarah ke budaya korup. Presiden Transaparansi Internasioal Malaysia Tunku Aziz Ibrahim berkata:

“Selama bertahun-tahun saya melibatkan diri dalam perjuangan membanteras korupsi baik di Malaysia mahupun di peringkat antarabangsa, saya hanya menggunakan istilah sistem korupsi, di bahagian dunia sebelah sini, kepada jiran kita Indonesia dan Filipina. Hari ini kita (rakyat Malaysia) sudah sampai ke tahap yang sama dengan mereka, dan daripada segala petunjuk yang ada kita memang kalah kepada mereka.”

Tambahnya lagi:

“Sejak tiga tahun yang lalu, di halaman kita sendiri (Malaysia) keadaan sudah berantakan, dan pelbagai cara menunjukkan betapa amalan korupsi sudah menjadi satu cara hidup, sehingga saya selesa mengatakan bahawa selagi tidak ada kesanggupan dan kesungguhan kepimpinan yang lebih teguh dan perkasa untuk membanteras korupsi secara berani, Malaysia akan terus bergelumang dengan stigma sebuah negara yang membangunkan perilaku rakyat yang tidak beretika, ataupun secara lebih kasar lagi eloklah saya katakan, korupsi sudah menjadi satu kesenian yang halus di mana orang politik dan pegawai perkhidmatan awam saling berlumba dan beradu-domba antara satu sama lain untuk mengumpulkan kekayaan yang di luar imaginasi kita.”

Biasanya pejabat yang berkuasa berkelit dengan berkata, “Jangan membesar-besarkan,”. atau “Jangan permalukan diri sendiri.”

* * *

Semua fakta itu mempertegas dan meyakinkan bahwa dalam banyak aspek Indonesia punya potensi yang jauh lebih cerah, lebih jaya daripada Malaysia. Capaian derajat demokrasi dan hak-hak asasi manusia yang semakin matang ini telah meninggalkan Malaysia yang tidak beranjak jauh dalam sepuluh tahun terakhir.

Sejuta persoalan pasca-Deklarasi Kemerdekaan 1945 justru menjadikan pengalaman Indonesia semakin kukuh, berkualitas dan lengkap. Indonesia telah memenangi perjuangan bersenjata, mengatasi perdebatan ideologis dan pemberontakan daerah, melewati konflik sipil, isoloasi, bencana alam yang dahsyat, krisis politik, ekonomi, sosial yang parah. Indonesia juga pernah menjalani sistem diktaktor sipil, militer, maupun demokrasi liberal sekaligus dalam rentang waktu kurang dari tiga perempat abad.

Mungkin belum semua persoalan diselesaikan, tapi bertahannya Indonesia sebagai sebuah negara — yang ketika menyatakan kemerdekaan pada tahun 1945 diperkirakan takkan berusia lebih dari sepuluh tahun — merupakan berkah Tuhan selain kemampuan rakyat beradaptasi dan bekerja keras.

Pada tahun 2005, National Intelligence Council’s (NIC’s), organ Pemerintah Amerika Serikat, memaklumatkan kajian “Rising Powers: The Changing Geopolitical Landscape 2020” yang meramalkan bahwa pada tahun 2020 Indonesia bersama Tiongkok, India, Afrika Selatan dan Brazilia akan menjadi negara-negara dengan pengaruh yang semakin meningkat.

Namun, tentu saja ramalan itu bisa menjadi kenyataan dengan syarat bahwa reformasi terkawal dengan benar. Pada saatnya, jika struktur politik, ekonomi, sosial budaya telah mapan, Indonesia bakal melesat meninggalkan negara-negara rantau di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga
Ya, Ekonomi Indonesia Makin Cerah!

Baca Sebelumnya
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3): Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 2/3): Indonesia Negara Bebas, Malaysia Negara yang Mengekang

Informasi Lain
Rasuah di Malaysia

Iklan

24 thoughts on “Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 3/3): Indonesia Menuju Perbaikan; Malaysia, Kerusakan

  1. Mengapa Indonesia suka membandingkan diri ama Malaysia? Kenapa Indonesia sering menghina Malaysia? Apa ga bisa membangun kepercayaan diri tanpa menghina orang lain?

    Di Malaysia kami lebih suka nyebut negara jiran atau negara asing sebagai statement kerna kami tidak suka menjelekin atau kelihatannya seperti menjelekin negara orang lain.

    Bukan soal siapa lebih bagus. Tapi soal akhlak bertetangga dan bersaudara, sikap Indonesia sangat jelek. Di mana akhlak anda? Saya bertanya secara umum bukan secara individu.

    Sekian.

  2. @Admin
    Terima kasih atas tanggapan Anda. Perasaan Anda sekarang sama halnya dengan perasaan kebanyakan orang Indonesia pada era Orde Baru yang gusar dengan orang asing yang mengungkapkan fakta yang bertentangan dengan propganda pemerintah. Pada saatnya Anda akan menerima pendedahan ini sebagai fakta sejarah.

  3. Hehe, selamat menjelek-jelek sesama leluhur sendiri, pantas juga moyangku dulu hijrah ke Malaysia dulu-dulu. Kalau tidak mungkin aku sekarang datang mengemis ke Malaysia. (PATI)

    Mungkin Junarto bisa ke mari mengajar orang Malaysia untuk membentuk Good Governance, atau bisa membantu Pak Anwar untuk menjayakan Reformasi. Orang-orang Malaysia mengharapkan orang yang bijak pandai macam Pak Junarto ini untuk mengubah hala tuju sosial dan politiknya.

    Jangan lupa Pasporrnya dulu dong, jangan datang sini tanpa dokumen. Kartu penduduk yang bisa dibeli dijalanan, bisa dibikin dengan bayaran Rp 30.000 tidak bisa dipake lewat sini. Orang Malaysia agak konyol, kami pakai Kad Pengenalan Bermutu Tinggi, semua pakai sistem komputer canggih, sulit untuk dibikin oleh anak2 jalanan, semuanya kami buat kerana kami bangsa yang bodoh berbanding Indonesia.

    Kami tak pandai OTHERING macam artikel saudara Junarto, kami tahu memajukan negara kami, kami bodoh, kami tahu, sebab itulah kami mengupah pekerja Indonesia yang jauh super-cerdik dari kami.
    Kami bayar super-visor kami ditapak projek Rp8 juta, tapi dengan Rp6 juta kami bisa mengambil pekerja indonesia dekat 10 orang.

    Gaji Dorsen di Malaysia RM4,000 purata (9.5 juta Rp) tapi kami tahu Dosen di Indonesia yang berkelulusan sama mungkin 1 juta Rp, sebab itu kami di Malaysia ini konyol, bayar rakyat sendiri mahal. Selamat datang ke Malaysia yang Pak Junarto, lihat sendiri nescya Pk Junarto rasan ingin mengemis kerja di sini.

    Pak Junarto lepas ini boleh berkhayal jadi dosen di Malaysia yak.

  4. Terlepas dari berbagai situasi positif yang sudah kita miliki di Indonesia saat ini, menurut saya tetap saja ada aspek yang perlu kita tiru dari Malaysia atau Singapura yaitu dalam hal kedisiplinan dan kebersihan.

    Bangsa kita terkenal dengan istilah bangsa yang suka dengan “jam karet” dan tidak pandai memelihara kebersihan fasilitas umum seperti toilet umum di bandara, stasiun kereta api atau terminal bis. Kita lihat di airport Changi Singapura walaupun usianya sudah cukup tua tapi masih sangat terawat dan bersih. Bangsa kita juga tidak suka dengan antri dan suka serobot seperti misalnya kalau mau naik taksi di bandara atau antri naik bis, siapa yang nekad nyerobot dialah yang dapat kesempatan terlebih dulu. Kendaraan-kendaraan umum juga berhenti seenaknya di setiap tempat, tidak di halte.

    Hal-hal yang kita pandang negatif, yah tentu jangan kita tiru tapi kalau memang ada hal-hal yang positif dan berguna bagi kemajuan dan perkembangan bangsa kita, ya juga jangan segan dan malu untuk kita tiru di sini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar baik dari pengalaman diri sendiri maupun dari bangsa-bangsa lain.

    MAJULAH INDONESIA KU !!

  5. @ Mohd (4)
    Dengan tulisan ini saya sekadar mendedahkan, katakanlah, sudut pandang lain yang mungkin berbeda dengan bagaimana kebanyakan orang Malaysia dan orang Indonesia memandang Malaysia saat ini. Misalnya, menjadi dosen di Malaysia mungkin boleh jadi lebih sejahtera daripada di Indonesia, tapi selama tiada kebebasan akademis, apalah artinya?
    (catatan redaksi buat pembaca Indonesia: PATI = Pendatang Tanpa Izin atau Pendatang Haram).

    @Mohd (5)
    Terima kasih atas sarannya. Jangan khawatir. Tidak pernah saya menutup kemungkinan untuk mengangkat skandal-skdandal di Indonesia, karena itu untuk menjadi pelajaran baik untuk kami di Indonesia maupun rekan-rekan di Malaysia.

  6. Saya terkesan mendengar/membaca komentar dari Bung Donald Luther, wasit karate Indonesia yang babak belur dihajar oleh polisi Malaysia dan juga Atase Pendidikan kedubes Indonesia di Malaysia yang istrinya terkena razia dan sempat ditangkap oleh RELA karena dicurigai sebagai pendatang haram. Beliau berkata bahwa kita memang pantas marah karena perlakuan yang tidak senonoh oleh oknum aparat keamanan Malaysia dan itu mungkin hanyalah sepenggal kecil dari kasus yang berhasil diexpose karena mereka berdua kebetulan punya akses untuk membuka kasus ini kepada publik. Kasus-kasus lain-lainnya yang menimpa saudara-saudara sebangsa kemungkinan banyak yang lebih parah lagi.

    Tapi di luar kemarahan kita, menurut beliau berdua, yang penting kita sebagai bangsa harus melakukan introspeksi diri kenapa kita diperlakukan seperti itu oleh bangsa tetangga untuk kemudian melakukan perbaikan yang serius dan konkrit supaya kita kembali bisa menjadi bangsa besar yang tangguh dan disegani seperti yang pernah ditunjukkan oleh nenek moyang kita di masa lalu pada zaman Majapahit dan Sriwijaya.

    MAJULAH INDONESIA KU !!

  7. wah… berapa juta orang indonesia di Malayisa, yang legal saja sudah lebih satu juta, yang illegal ? apa yang mereka buat di Malaysia? bekerja ? atau menmjadi maling ?

  8. Salam,

    look like just another Malaysia’s bashing post from another Indonesian. Oklah kalau macam inilah persepsi ‘Abang Besar’ kita, nampaknya kenalah kerajaan Malaysia buat beberapa perkara.
    Pertama-tamanya, sudah sampai masanya Kerajaan Malaysia menghentikan dasar Prosper thy Neighbournya iaitu polisi memakmurkan jiran yang telah dipelopori oleh Dr Mahathir untuk memastikan kejayaan ekonomi turut dirasai oleh jiranya (dalam hal ini siapa lagi kalau bukan Indonesia). Dasar inilah asas kepada kemasukan TKI dan pelajar Indonesia ke Malaysia dari awal 90an. Pada masa itu kerajaan percaya dengan memakmurkan jiran, kemakmuran itu akan kembali pulang ke Malaysia. Satu polisi yang Indonesia tak akan rasa dari jiran-jiran beliau yang lain seperti Australia dan Singapura.

    Kalau inilah sumber duri dalam daging kita maka sudah sampai masanya kita menghentikan pengambilan TKI dari Indonesia. kes juri karate seperti Donald, lagu rasa sayang dan lain-lain bukanlah satu isu yang besar jika bukan kerana isu TKI. Dengan menghentikan ‘root- cause’ masalah ini maka insya-Allah segala masalah lain akan selesai. Jangan bimbang tenaga kerja dari Vietnam dan Nepal lebih murah, kalau pembantu rumah rasanya-rasanya Orang-orang Muslim dari Selatan Filipina mampu mengisi kekosangan yang bakal ditinggalkan oleh TKI Indonesia.

    Buat pengetahuan penulis laman blog ini, kalau Malaysia menggunakan asas yang sama yang dibangkitkan oleh Indonesia dalam kes Rasa Sayang ini keatas negara jiran yang lain terutamanya Singapura, we will easily definitely make billions from it….tolonglah berhenti memalukan kedua-dua negara untuk isu seremeh isu Lagu Rasa Sayang.

    sekian….

    P.S: pergi ke Monas dan disekitar setesen Gambir dan jemputlah datang ke Malaysia melalui stesen Sentral terus ke Dataran Merdeka..jika saudara terfikir untuk menulis satu post yang sama seperti ini di masa yang akan datang.

  9. Mihael “D.B.” Ellinsworth Berkata:
    Oktober 22nd, 2007 pada 1:56 pm

    Tanpa dinyana, anda sudah menjelek – jelekkan bangsa sendiri dengan argumen anda.

    Sekian. 😀

    =============

    itu namanya penulisan bentuk sakarstik (Englishya Sarcastic), dalam bahasa indonesia mungkin tempelak, ianya mengeluarkan kata2 dalam bentuk perli, sebagai contoh;
    “Kartu penduduk yang bisa dibeli dijalanan, bisa dibikin dengan bayaran Rp 30.000 tidak bisa dipake lewat sini. Orang Malaysia agak konyol, kami pakai Kad Pengenalan Bermutu Tinggi, semua pakai sistem komputer canggih, sulit untuk dibikin oleh anak2 jalanan, semuanya kami buat kerana kami bangsa yang bodoh berbanding Indonesia.”

    Untuk menunjukkan kartu penduduk indonesia senang sekali diciplak, sama ada melalui rasuah pejabat atau pengakuan ketua RPT, tidak ada sistematika dalam proses pembikinan. Sedangkan kartu Malaysia sukar ditiru, beberapa TKI cuba menirunya, tetapi bila mereka ke Registration Office, mereka di tangkap kerana teknologi biometrik, gak ada sapa-sapa bisa lolos macam kartu penduduk indonesia.

    RoslanK

  10. # Hati Nurani Berkata:
    Oktober 21st, 2007 pada 6:26 am

    Saya terkesan mendengar/membaca komentar dari Bung Donald Luther, wasit karate Indonesia yang babak belur dihajar oleh polisi Malaysia dan juga Atase Pendidikan kedubes Indonesia di Malaysia yang istrinya terkena razia dan sempat ditangkap oleh RELA karena dicurigai sebagai pendatang haram. Beliau berkata bahwa kita memang pantas marah karena perlakuan yang tidak senonoh oleh oknum aparat keamanan Malaysia dan itu mungkin hanyalah sepenggal kecil dari kasus yang berhasil diexpose karena mereka berdua kebetulan punya akses untuk membuka kasus ini kepada publik. Kasus-kasus lain-lainnya yang menimpa saudara-saudara sebangsa kemungkinan banyak yang lebih parah lagi.

    Tapi di luar kemarahan kita, menurut beliau berdua, yang penting kita sebagai bangsa harus melakukan introspeksi diri kenapa kita diperlakukan seperti itu oleh bangsa tetangga untuk kemudian melakukan perbaikan yang serius dan konkrit supaya kita kembali bisa menjadi bangsa besar yang tangguh dan disegani seperti yang pernah ditunjukkan oleh nenek moyang kita di masa lalu pada zaman Majapahit dan Sriwijaya.

    MAJULAH INDONESIA KU !!
    =======================
    Cuba tanya kepada isteri pegawai pendidikan itu, adakah dia membawa passporr diplomatikanya semasa ditangkap? apa dokumen perjalanan yang di bawanya, Saya mendengar cerita sumber yang benar dari Malaysia, bahawa dia memang tidak membawa dokumen aslinya. Toh kalau gitu, jangan salahkan oknum Malaysia. Salahkan diri sendiri dong, kalau ditangkap tanpa dokumen, kalaupun ianya Gobenor di Indonesia, tidak bermakna di Malaysia dia Gabenor. Kalau ada diplomatik imuniti, bawa dokumennya jangan berfikir cara orang Indonesia semasa berada di Malaysia.

    Di Malaysia kalau penduduknya sendiri tidak membawa Kartu penduduk (Identity Card) akan dikenakan compound, kalau memandu tanpa membawa lesen akan di compound. Itulah satu perkara yang warga indonesia tidak faham, kemana-mana di Malaysia kami perlukan identiti card. Anda bisa sahaja menulis panjang bercerita tentang kekejaman Oknum Malaysia, bisa saja menghantam kekejaman Oknum Malaysia lewat internet atau blog seperti ini. Satu aja yang anda tidak bisa, iaitu mengambil sumber berita dan cerita yang benar dari pihak lain, anda hanya bisa OTHERING. Selamat MengINRTOSPEKSI DIRI sebelum MENGINTROSPEKSI DIRI ORANG LAIN.

    Salam RoslanK
    psst Sepekan lagi aku akan ke Indonesia, siapa yang bisa aku hubungi, untuk temankan aku minum dan berborak2 bila habis tugasku.

    Sudah booking di tanggal 31-7 November 2007
    JW Marriot
    Jl Lingkar Mega Kuningan Kav
    Jakarta, ID

  11. Anda bisa sahaja menulis panjang bercerita tentang kekejaman Oknum Malaysia, bisa saja menghantam kekejaman Oknum Malaysia lewat internet atau blog seperti ini. Satu aja yang anda tidak bisa, iaitu mengambil sumber berita dan cerita yang benar dari pihak lain, anda hanya bisa OTHERING. Selamat MengINRTOSPEKSI DIRI sebelum MENGINTROSPEKSI DIRI ORANG LAIN.

    Konsep “othering” berbeda dengan komparasi. Othering (seperti yang terjadi di Malaysia) biasanya sekadar membingkai (mem-framing) kelompok (negara) sebagai unggulan yang serbasempurna, tujuannya propaganda buat mengamankan, mengekalkan keistimewaan politik-ekonomi yang berkepentingan.

    Media massa Malaysia menjelang pilihanraya 1999, misalnya, takhabis-habis melakukan politik “othering” ini dengan menafikan semua kebobrokan sistem di dalam negeri. Tujuannya, mengekalkan rezim yang berkuasa UMNO-Barisan Nasional, dan mengatasi gerakan-gerakan politik yang berseberangan.

    Bahkan sampai sekarang, setelah 50 tahun merdeka, media massa arus utama di Malaysia tidak berani mengungkapkan dengan jujur persoalan-persoalan di dalam negeri yang menyangkut isu-isu politik yang sensitif. Yang dibingkai media massa adalah keberhasilan-keberhasilan belaka. Peristiwa rasuah yang tercium, selalu dibantah dengan “Jangan membesar-besarkan, jangan mempermalukan diri sendiri.” Ini mirip situasi Indonesia era Orde Baru. Poinnya, “othering” meminggirkan wacana lain yang berbeda, bertentangan. Sampai-sampai seorang wartawan Malaysia berkata, “Kami iri dengan kebebasan pers di Indonesia.”

    Di Indonesia, sebaliknya. Kebobrokan sistem di dalam negeri justru terungkap media massa (bahkan dengan standar normalitas yang sangat tinggi) semenjak tahun 1999. Dan, artikel saya ini sekedar komparasi, ada faktor pembanding yang bisa menjadi ukuran untuk mengambil kesimpulan. Saya juga tidak menutup-nutupi kekurangan di dalam negeri yang masih menjadi pekerjaan rumah buat rakyat. Data-data bisa diakses melalui tautan yang saya sisipkan dalam artikel (warna biru, tinggal klik saja). Kalau saya melakukan othering, maka saya akan menyeleksi komentar-komentar yang masuk, misalnya dari Anda yang tidak sependapat dengan saya.

    Nah, soal Anda menerima fakta ini atau tidak, itu terserah Anda.

    BTW selamat datang di Jakarta. Mudah-mudahan betah.

  12. apa yang ingin diwacanakan kejayaan indonesia dari segi filsafat idea kebebasan? Atau ingin menengok realitas sebenar ya?

    Kenapa aspek Ekonomi dan tenaga kerja mau di sembunyi terus dong. Anda cuba membuka bingkai falsafah aja. Anda sengaja mencipta medan untuk menunjukkan Indoneisa Perkasa dalam aspek filsafatnya, tetapi tidak mahu melihat realitas ekonomi. Kita beralih ke topik perbincangan, TKI yang datang ke Malaysia itu untuk apa, untuk hidup terus menerus hidup dalam negara yang penuh kebebasan Indonesia atau ingin mengelak diri dari kemiskinan? Apakah semasa mereka meninggalkan ibu pertiwi Indonesia yang kaya dengan falsafah itu, kerana Indonesia itu negara yang terkurang falsafatnya.

    Faktornya jujur dong, Ekonomi, kerana falsafat tidak bisa memberikan pangan dong, yang bisa beri makan adalah kerja dong, tak ada kerja di Indonesia, datang kerja ke Malaysia. Itu falsafah mereka yang datang sini, untuk mencari rejeki yang halal.

    Tiba2 bila bincang masalah Indonesia dan Malaysia, siapa lebih baik, maka saudara Bung Junarto terus ke filsafat kebebasan media, Kemudian menulis artikel kata manis dari ekonom Barat yang mulus untuk datang ke Indonesia kemudian dapat kontrak bisnesnya, untuk mendapat tenaga kerja yang murah nilainya. Parameter ekonomi yang dipakai adalah forecasting, bukannya yang real, jadi saudar Jjunarto sendiri mencipta mainframe yang disudutkan dalam memperkasa Indonesia, itukan nama OTHERING.

    Kalau mahu banding mari kita tengok indeks rasuah, APBN perkapita, pemalar gini (lorenz curve), kadar pengangguran, utang luar negara, peningkatan APBN/ tahun dengan Malaysia.

    RoslanK

  13. @Mohd

    Kalau mahu banding mari kita tengok indeks rasuah, APBN perkapita, pemalar gini (lorenz curve), kadar pengangguran, utang luar negara, peningkatan APBN/ tahun dengan Malaysia.

    “Angka-angka itu boleh memukau, tapi takada kesan buat rakyat,” kata Anwar Ibrahim, pemimpin Anda (Kick Andy, Metro TV Kamis 18 Oktober).

    Ekonomi mereduksi kemanusiaan dengan angka-angka belaka.

    Kalau Anda sewaktu-waktu ditangkap rezim UMNO atas nama ISA, diaibkan, dihukum dengan sistem pengadilan yang korup, lantas dipenjarakan — karena Anda berseberangan dengan penguasa — maka kemakmuran Anda itu tiada bermakna apa-apa karena dengan demikian Anda sesungguhnya belum merdeka. Anda harus melihat secara menyeluruh, karena manusia tidak sama dengan binatang yang makan dan minum saja.

    Kalau sgelintir kroni penguasa beserta keluarga diuntungkan dengan situasi ini maka rakyat Anda sesungguhnya masih terjajah, sedangkan Anda tak sadar. Jadi, sadarlah.

  14. @ Mohd

    Cuba tanya kepada isteri pegawai pendidikan itu, adakah dia membawa passporr diplomatikanya semasa ditangkap? apa dokumen perjalanan yang di bawanya, Saya mendengar cerita sumber yang benar dari Malaysia, bahawa dia memang tidak membawa dokumen aslinya. Toh kalau gitu, jangan salahkan oknum Malaysia. Salahkan diri sendiri dong, kalau ditangkap tanpa dokumen, kalaupun ianya Gobenor di Indonesia, tidak bermakna di Malaysia dia Gabenor. Kalau ada diplomatik imuniti, bawa dokumennya jangan berfikir cara orang Indonesia semasa berada di Malaysia.
    ================================================================

    Ya, beliau membawa passport diploamt beliau.
    DPR kita sudah mengajukan protes keras secara resmi ke Malaysia.

    Saya pikir RELA munking merupakan jawaban atas kekhawatiran Pemerintah malaysia atas membanjirnya orang Indonesia di sana,
    yang bilamama tidak dihentikan akan “menjajah” Malaysia suatu saat.
    masalahnya mereka tidak bisa begitu saja menghentikan arus masuk tersebut, jadi RELA mungkin adalah solusinya.

    kalo tidak bisa dihentikan dari luar ya.. diusir dari dalam.

  15. Bung Junarto, perbicangan anda dengan Bung Mohd diperhatikan banyak orang termasuk saya. Selama ini saya memperhatikan anda masih cukup berkepala dingin (meski hati mungkin panas) dalam berbalas komentar dengan bung Mohd. Tapi rasanya saya menangkap kesan suhunya mulai memanas nih. Hati-hati bung…ibarat permainan…jangan sampai ikut irama permainan lawan..hati boleh panas tapi kepala tetap musti dingin kan…

    Sampaikan saja fakta-fakta tanpa harus menyerang pribadinya..saya rasa orang-orang yang berpikir jernih akan setuju dengan komentar-komentar anda selama ini.

    Saya sendiri terus terang menahan diri untuk berkomentar hanya karena saya tidak cukup kuat untuk berkepala dingin. Saya kuatir komentar saya malah akan menambah panas suhu perbicangan ini.

    Jadi teruslah berdiskusi dengan sehat…

  16. junarto bilang – Di Indonesia, sebaliknya. Kebobrokan sistem di dalam negeri justru terungkap media massa (bahkan dengan standar normalitas yang sangat tinggi) semenjak tahun 1999.

    saya bilang – loe ngerti apa yang loe ngomong? kalo mengerti baguslah. kalau ngga, ya gue jelasin. itu maksudnya sistem pemerintahan semuanya udah bobrok! busuk udah tersebar kemana-mana tanpa kendali. hingga media massa dan rakyat harus bertindak!

    di negara lain, kalo oknum pemerintahan berbuat bobrok, yang bertindak / ngebenarin ya masih oknum pemerintahan jugalah. ini bermaksud masih ada yang baik. kalo sampai media ama rakyat yang mengungkap kebobrokan, wah udah gawat mannn… udah bobrok semuanya itu.

    tapi yang jelas, mayoritas 90% yang memegang pemerintahan sekarang ya muka2 lama juga… trus reformasinya gimana?

    media jangan sok suci. rakyat kebanyakannya polos, tapi media itu kebanyakannya kiblatnya fulus!

  17. Bung Daeng, janganlah kita terlalu pesimis. Di satu sisi harus kita akui memang masih banyak yang harus dibenahi oleh bangsa ini, utamanya adalah korupsi yang merupakan penyakit kronis bangsa ini meskipun dari pemeringkatan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional menunjukkan adanya perbaikan, tapi tetap masih jauh dari kondisi yang ideal.

    Demokrasi termasuk di dalamnya kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers memang juga masih rawan, terkadang masih suka dirongrong oleh oknum-oknum tertentu yang ingin kembali melakukan proses kontrol melalui perubahan undang-undang atau pihak-pihak tertentu yang kebablasan dalam berekspresi sehingga kita banyak membuang waktu untuk berdebat. Namun kita sudah mulai lihat hasil dari kebebasan berekspresi antara lain dari majunya industri musik nasional. Saat ini musik Indonesia telah menjadi tuan rumah di negaranya sendiri bahkan berhasil menembus cukup bagus ke negara-negara tetangga. Industri kreatif lainnya seperti TV dan film juga sudah mulai menggeliat walaupun belum sehebat musik.

    Orang-orang “lama” memang masih banyak yang bercokol baik di pemerintahan, legislatif maupun judikatif namun walaupun belum ideal betul, saya kira perilaku mereka sudah tidak lagi bisa sewenang-wenang seperti di masa lalu.

    Otonomi daerah memang dalam beberapa situasi masih menimbulkan kekrisuhan dan banyak kasus korupsi terjadi namun di sisi lain juga menelurkan beberapa cerita sukses antara lain Fadel Muhammad di Gorontalo, Fauzi Gamawan di Sumatra Barat, Rustriningsih di Kebumen. Saya yakin akan lebih banyak lagi cerita-cerita sukses semacam ini di masa mendatang.

    Semoga bisa memberikan secercah pencerahan dan menumbuhkan semangat optimisme !

  18. Kalo kebobrokannya terlihat oleh rakyat kan, rakyat jadi tau siapa/apa2 aja yg rusak, dan nanti bisa dibetulin oleh rakyat, pemerintah dan media secara bersama-sama.

    Kalo yang tau cuma satu dan orang yg menempati pemerintahan masih itu2 aja, kebobrokan akan terus merajalela dan mengakibatkan negara menjadi lemah. Akibatnya rakyat yang sengsara nantinya.

    Rakyat sekarang udah banyak berubah, Rakyat Indonesia kini sudah mulai sadar akan pentingnya kesejahteraan bagi sesama. Untuk itulah Indonesia dapat bangkit dari keterpurukan setelah beberapa waktu lalu dicekam.

  19. yang penting dalam kebangkitan yang benar kita melihat diri kita dulu dong, bahasa Administrasi, analisis SWOT, iaiatu bemula dengan kekuatan yang kita ada, kemudian dikaji kelemahan, buat analisis melihat Oputuniti dan Gangguan.

    Kebangkingkitan Indonesia tidak akan tercapai dengan memperbodohkan negara Malaysia, penduduk nya atau dengan mengGAYANG Malaysia, bahkan Indonesia akan terus terpuruk ke belakang jika masih lagi menganut fahaman kolot sebegini.

    Etos kerja dan Ideologi untuk kinerja juga mesti betul, sekadar semangat Bangsa Indonesia tidak akan mengenyangka perut orang papa dan anak2 jalanan di kota metropolitan Jakarata,

    ROslanK
    Pakistan

  20. askum,,jelas ada kebencian di hati saudara-saudara di indonesiaku yang malu melihat dirinya sendiri. Tak perlu membuka pekung untuk ditatap rakyat disini cukup membuka pekung untuk membaikkan diri sendiri….bukan mengungkit…tetapi harus anda berterima kasih atas jiran yang sentiasa kasih dan membantu anda.Amat kecewa dengan komen anda yang tak berasas dan terpedaya dengan mentaliti busuk anwar dan konconya.Mungkin ada kebenaran dan berguna kepada kami.Anda berbicara seolah-oleh masih di zaman “ganyang malaysia”..harus ada lagi kah kebencian sedemikian yang mana kita sudah melewati berberapa abad…di malaysia kami tiada masalah dengan anda…kami menerima malah mesra… tetapi setiap kebaikkan ada batasan untuk manusia yang nafsunya tak pernah puas,nafsunya terlalu dipengaruhi kesetanan…yang tak pernah bersyukur dengan nikmat yang ada. Kejayaan indonesia KONONNYA tidak harus syok sendiri selagi adanya rasuah dan segala macam kejengkilan didalam bangsa anda……….kami mengakui kekurangan kami tetapi kamu harus lebih mengakui kekurangan dan kelemahan kamu sebagai bangsa dan ummat islam yang memalukan…maaf ya kerana kamu buat saya kecewa…….dan mengubah perspektif saya sama sekali terhadap bangsa anda!!!

  21. Walaupun saya bukan rakyat indonesia tetapi saya bangga dengan indonesia kerana berusaha menghapuskan rasuah dengan bersungguh sungguh. Cuma saya masih cukup keliru dengan kenyataan kawan kawan saya yang berasal dari Indonesia…. untuk mereka mendapatkan perkerjaan di indonesia adalah terlalu sukar dan mereka perlu membayar berjuta-juta rupiah jika mahu diterima berkerja terutamanya dalam kerajaaan seperti polis, tentera, perawat dan sebagainya. Lagi malang anak miskin yang mempunyai kelulusan tinggi dari universitas yang diiktiraf kerajaan tapi tidak mempunyai uang terpaksa menggangur kerana tidak mampu mengeluarkan uang supaya diterima berkerja.

    Suatu ketika dulu… saya punya seorang kawan yang ingin berkhawin dengan seorang gadis indoensia. Ketika gadis indonesia ini mendaftarkan diri untuk berkhawin di salah satu pejabat agama islam berdekatan dengan Jakarta. Perkerja pejabat agama islam itu memberitahu… kelulusan untuk berkhawin akan diberikan setahun selepas pendaftaran dibuat…. tapi jika anda membayar sebanyak 20 juta rupiah (lebih kurang RM 4000), pendaftaran perkhawinan akan diluluskan dalam masa kurang dari seminggu jika borang telah lengkap diisi…

    Adakah komen saya ini betul atau tidak, jika tidak betul tolong perbaiki… kalau tidak betul, ini bermakna kawan kawan saya dari Indonesia bercakap bohong dan menipu saya.

Komentar ditutup.