Home

Malaysia tak habis pikir dengan sikap Indonesia yang mempertikai Lagu “Rasa Sayange” yang menjadi lagu tema kampanye parawisata mereka. Mereka bersikeras “Rasa Sayang” adalah lagu rakyat Nusantara. Buat mereka, sikap Indonesia emosional karena membesar-besarkan masalah kecil. “Indonesia telah hilang rasa sayang serumpun,” kata mereka.

Perkara lagu Rasa Sayange (atau Rasa Sayang) memperkuat anggapan bahwa hubungan Indonesia dengan Malaysia saat ini bermasalah. Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas pernah mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dengan Malaysia memendam bom waktu.

Rakyat Malaysia pada umumnya menganggap pekerja Indonesia bodoh, takterdidik, dan akar kejahatan di negara mereka meskipun faktanya delapan puluh persen penjenayah orang Malaysia sendiri. Betapa parah stereotip orang Malaysia terhadap Indonesia bisa dilihat di Malaysia Forum atau Indonesia Froum.

Di pihak lain, orang Indonesia menganggap Malaysia “orang kaya baru yang sombong,” lantaran memperlakukan warga Indonesia dengan semena-mena, kejam, kasar, biadab. Tidak hanya terhadap buruh migran, penghinaan juga dilakukan terhadap olahragawan yang diundang resmi, wisatawan, bahkan warga yang menunjukkan paspor diplomat sekalipun. Xenofobia seolah berulang tatkala tentara, polis, dan anggota Rela berhadap-hadapan dengan orang Indonesia. Itulah akar yang membangkitkan sentimen anti-Malaysia.

“Sepanjang stereotip ini berlaku, hubungan kedua negara akan tegang,” kata Ali Alatas.

* * *

Pada saat memperingati Tahun Emas Kemerdekaan Malaysia, Bernama menurunkan tajuk berjudul “Look How Far We’ve Come”. Isinya puja-puji atas capaian ekonomi Malaysia.

“Lihatlah, betapa jauh capaian kita,” tulis kantor berita negeri seberang itu: Pendapatan per kapita kotor meningkat 26 kali semenjak merdeka pada tahun 1957, perbandingan jumlah fasilitas sosial terhadap banyak penduduk meningkat, pendidikan dan sumber daya manusia semakin berkualitas.

Dengan percaya diri Bernama menulis, pada tahun 2010 jumlah penduduk Malaysia yang berada di bawah garis kemiskinan akan tinggal 2,8 peratus, sedangkan akar kemiskinan akan lenyap pada tahun itu juga. “Kita layak menghargai capaian kita,” tulis Bernama.

* * *

Pada pertengahan tahun 1998, Indonesia mulai menghadapi segudang persoalan. Bak pesawat terbang yang menukik jatuh, sistem moneter Indonesia merosot tajam. Adegan-adegan selanjutnya berganti dengan cepat: Presiden Suharto mundur. Indonesia mengalami kekacauan politik, ekonomi, sosial, budaya. Kerusuhan rasial membakar Jakarta dan Solo akibat makar tangan-tangan jahat. Maluku. Kalimantan, Sulawesi, menghadapi benturan fisik antarpuak. Timor Timur lepas. Papua bergejolak. Pengaruh dan kekuasan gerakan pemisahan daerah Gerakan Aceh Merdeka di Serambi Mekkah menguat. Islam radikal menyebarkan teror di Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Indonesia diperkirakan runtuh dalam jangka taklama sebagaimana Yugoslavia. Ini masa ujian yang berat pasca Perang Kemerdekaan 1945-1949, ataupun pembangunan berencana yang damai 1969-1997.

Akan tetapi, Indonesia bangsa yang cepat belajar. Proses reformasi konstitusional dijalankan dengan baik oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan kini Susilo Bambang Yudhoyono.

Konsep “Negara Kesatuan Republik Indonesia” didefinsikan ulang. Tahanan politik dibebaskan. Undang-undang dasar yang dahulu sakral diamandemen berkali-kali. Hubungan antara pusat dengan daerah direvisi. Daerah memperoleh kemandirian yang luas. Ada penyetaraan etnis. Ada pelembagaan demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Kebebasan berbicara dan media massa bukan lagi sekadar slogan.

Menginjak tahun kesepuluh, pranata-pranata masyarakat madani bermekaran dan posisinya semakin kuat. Seluruh struktur politik, ekonomi, sosial, dan budaya melakukan swakritik dan perbaikan diri sehingga struktur saat ini menjadi terbuka, lentur, dan dewasa. Keikutsertaan rakyat dalam struktur meningkat dan meluas.

Pemilihan presiden secara langsung berlaku mulai tahun 2004. Boleh dibilang, demokrasi Indonesia pada tahun ini sudah lebih matang daripada pertengahan 1999. Demokrasi semakin diperkukuh dengan pemilihan kepala daerah secara langsung.

Memang pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan lebih lambat daripada sejumlah negara rantau di Asia Timur dan Tenggara yang juga menghadapi krisis. Namun, itulah biaya yang terpaksa dipikul, lantaran Indonesia harus memperbaiki tidak saja struktur ekonomi, tapi juga struktur politik, sosial, dan budaya.

Atas capaian ini, International Association of Political Consultant (IAPC) berencana menganugerahkan penghargaan Democracy Medal Award kepada Indonesia dalam konferensi dunia mereka di Bali 12-14 November. IPAC adalah organisasi antarbangsa yang bermaksud mempromosikan demokrasi di seluruh dunia. Ini pengakuan masyarakat internasional kepada seluruh rakyat Indonesia yang berhasil mengembangkan dan melaksanakan struktur demokrasi dengan baik.

Sebaliknya, krisis 1998 tidak menyebabkan Malaysia melakukan perubahan terhadap struktur politiknya. Gerakan reformasi di Malaysia gagal. Mengapa?

* * *

Meskipun tidak lagi dijajah Inggris, Malaysia melanjutkan dan dan mengembangkan undang-undang anti-subversi rezim kolonial yang represif dan birokrasi yang sangat kuat. Ini berkaitan dengan hasrat puak Melayu memonopoli kekuasaan untuk menghadapi minoritas etnis Tionghoa (35 persen) dan India (10 persen) (Anderson, 1998, dalam Haryanto dan Mandal: 2004: 7). Pranata-pranata sosial-politik Malaysia tersekat menurut garis etnis. Sampai hari ini, misalnya, bumiputera menjadi anak emas, kelompok kesayangan dalam menikmati peluang modernisasi.

Sebaliknya, di Indonesia pasca 1998, suku Tionghoa mendapatkan pengakuan konstitusional secara politik, sosial, dan budaya. Identitas budaya Tionghoa yang sebelumnya terlarang, umpamanya, kini boleh dipraktikkan kembali. Barongsai — boneka naga raksasa — misalnya, sudah menjadi tradisi dalam perayaan nasional dan daerah, yang ditarikan oleh pelbagai suku, tidak hanya Tionghoa.

Media cetak dan stasiun televisi berbahasa Mandarin tidak melulu berbicara tentang masalah komunitas secara eksklusif, tapi juga kebangsaan. Tidak seperti di Malaysia, puak Tionghoa di Indonesia adaptif, patriotis, dan berbicara dan berperilaku sebagaimana suku-suku lain.

“Saya takpernah melihat mahasiswa-mahasiswa Melayu berbaur dengan mahasiswa-mahasiswa Tionghoa seperti di Indonesia,” seorang kawan bertutur tentang hubungan antaretnis di perguruan tinggi di Malaysia.

Hubungan antarentnis di Malaysia jauh lebih rentan konflik lantaran pemingggiran etnis non-Melayu di Malaysia. Mereka merasa mendapat peran sebagai warga negara kelas dua. “Nasionalisme” di Malaysia bermakna nasionalisme demi kepentingan Melayu.

Melayu berarti Muslim. Di luar itu non-Muslim. Secara serta-merta politik Malaysia pun meminggirkan agama-agama lain, padahal Islam di negara itu hanya dianut 55 peratus penduduk. Politik diskriminasi ini abai terhadap fakta bahwa di Sabah dan Serawak Muslim hanyalah minoritas. Ia juga abai terhadap realitas bahwa Malaysia seharusnya menjadi negara multikultur yang adil.

Philip Bowring, jurnalis Boston Globe menulis:

Malaysia may have a lot to learn from Indonesia, where some elements of anti-immigrant bias against the Chinese minority remain but where the vague national ideology, pancasila, embraces all religions and underwrites (except in Aceh Province) a secular system.

Berlanjut ke:
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 2/3): Indonesia Negara Bebas, Malaysia Negara yang Mengekang
Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 3/3): Indonesia Menuju Perbaikan; Malaysia, Kerusakan

Iklan

52 thoughts on “Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia (Bagian 1/3): Indonesia Sebenar-benar Asia yang Multikultur dan Demokratis

  1. Aneh juga Malaysia. Sebagai negara Muslim, mereka menjalankan kehidupan yang menjaga jarak dan tidak berbaur dengan Non-Muslim. Meski kehidupan ke-Islam-an di Indonesia tidak sebaik di Malaysia, namun dalam bertoleransi kita masih lebih baik. Sebab, bagaimana Islam akan dilihat baik kalau ia adalah sesuatu yang menjaga jarak?

  2. entah ini stereotip atau bukan..dan tentu saja ini penilaian yang sangat mudah dituduh subyektif..tapi sejauh observasi saya..justru teman-teman saya di Indonesia, khususnya di kota-kota besar macam Jakarta, yang sering menertawakan perilaku orang Malay di sekitar mereka (tinggal di Indon) yang rada udik..

    padahal mereka itu (si orang2 Malay) bukan pekerja2 kasar kayak TKI2 kita yang ke sana loohhh

    tapi bagaimanapun juga saya nggak percaya stereotip. Orang Indonesia harus buktikan dirinya sebagai bangsa paling plural dan toleran di muka bumi ini..

    Mumpung lebaran..Maaf buat saudara2 di negeri seberang

  3. Di ITB pun mahasiswa International Class-nya yang rata2 dari Malaysia terlihat terlalu meng-eksklusifkan diri, mereka jarang berbaur dengan orang Indonesia yang ganteng-ganteng ini.

    Beda kalo sama mahasiswa bule, bule tuh baik2 bahkan gak malu2 kalo nanya lokasi ruangan ke mahasiswa pribumi, Ya walaupun agak susah komunikasi pake bahasa si bule tersebut :mrgreen:

  4. Saya memang nggak begitu mengamati sejarah Tionghoa di Malaysia, tapi mungkin saya yakin kalau di Malaysia juga ada skenario minoritas perantara seperti yang ada di Indonesia, di mana warga keturunan Yionghoa (seperti saya) dijadikan sebagai sapi perah penguasa dan kambing hitam jika ada gejolak massa. Tapi di sini saya lihat, ada pengaplikasian yang berebda. Jika di Indonesia dulunya dijadikan sapi perah dan kambing hitam, mungkin saja tidak begitu di Malaysia. Namun tetap saja ada skenario minoritas perantara. 😉

  5. Menurut saya, salah satu faktor penting yang membuat Cina di Indonesia berbeda dengan Cina Malaysia adalah karena budaya Jawa yang lentur. Ada seorang teman keturunan Cina yang demikian kagumnya terhadap budaya Jawa, katanya Budha masuk ke Jawa jadilah Budha Jawa, Hindu masuk jadilah Hindu Jawa, Islam masuk dan jadilah Islam Jawa, Cina masuk Jawa jadilah Cina Jawa. Coba kita perhatikan, sebagian besar orang Cina yang tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur berbicara sehari-hari dalam bahasa Jawa, bahkan dengan logat yang sangat kental. Hanya karena politik devide-et-impera penjajah Belanda dan dilanjutkan oleh rezim Orde Baru, tercipta sekat antara masyarakat Cina dan pribumi yang mudah-mudahan akan semakin luntur dalam zaman demokrasi seperti ini.

    Mas Junarto, saya setuju bahwa Indonesia di masa mendatang akan lebih berjaya daripada Malaysia karena Indonesia telah memiliki fondasi sosial budaya yang lebih baik

  6. “What’s your yard-stick?” apa tolok ukur yang saudara pakae untuk mengatakan Indonesia lebih berjaya dari Malaysia? Bukti rakyat Indonesia terpaksa membanjiri Malaysia juga menunjukkan kegagalan pemerintah Indonesia untuk meyediakan job oppotunities di Indonesia.Kalu ramai warga Indoneseia datang ke Malaysia gayak pengemis (beggar) ramae warga Malaysia ke Indonesia sebagai Warisita, ini namanya Indonesia lebih teruk dari Malaysia.

    Guae pernah ke Indonesia, melihat sendiri “rumah kotak” di Indonesia, anak gelandangan, dan ibu yang mengusung anak di traffic light, pasca 10 tahun Reformasi Indonesia, minggu lepas. Aku katakan fenomena ini tidak ada di Malaysia. Apasih kalau itu tolok ukur, Malaysia jauh meninggalkan Indonesia dong.

    Anda bisa sahaja berkhayal, menulis, bercererita dan perasan sendiri anda maju dan lebih bagus.
    Tapi realitasnya tidak bisa dipungkiri oleh orang yang berakal…
    Nanti orang akan katakan anda ini Konyol.

    RoslanK
    Warga Malaysia, Leluhurku dari Malang.

  7. Bung Roslan, kalau hanya diukur dari kemakmuran seperti income per capita, saat ini memang betul bahwa Malaysia lebih “makmur” dari Indonesia. Tapi yang ingin disampaikan oleh Bung Yunarto adalah lebih dalam dari sekedar kemakmuran yang Bung Roslan maksudkan.

    Indonesia telah mulai kembali ke “track” yang benar setelah lebih dari 30 tahun dibelenggu oleh rezim otoriter orde baru, dimana pada saat itu terlihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hebat namun rupanya keropos.

    Saat ini, walau masih banyak orang miskin di Indonesia, tapi kita merasakan dampak yang sangat positif hasil dari reformasi utamanya adalah kebebasan berekspresi dan kebebasan pers. Kita lihat kalau 10 tahun lalu, musik Indonesia dikuasai oleh musik barat, sekarang musik Indonesia telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Anak-anak muda, dari kalangan bawah hingga atas sangat menyukai musik anak negeri. Lihat saja, pemusik-pemusik Indonesia seperti Kris Dayanti, Ruth Sahanaya, Titi DJ, Melly Goeslaw, Peterpan, Samsons, Dewa, Padi, Slank, Letto selalu menghiasi acara-acara musik di TV, radio dan pentas musik bahkan merambah sampai ke Malaysia, Singapore dan Brunei. Demikian pula film Indonesia mulai menggeliat walaupun masih belum sehebat musik Indonesia. Produk seni lokal seperti batik dan kuliner juga sudah terlihat kemajuan yang luar biasa. Kita bisa lihat outlet-outlet batik seperti Danarhadi, Batik Keris, Iwan Tirta sudah mulai berdiri sejajar dengan produk-produk fashion kelas dunia di mal-mal utama di kota-kota besar. Restoran-restoran bernuansa Indonesia kelas papan atas juga banyak bertaburan dan diminati kalangan atas seperti Kembang Goela, Warung Daun, Tiga Nyonya dan bersaing dengan resto kelas dunia.

    Kita juga lihat kebebasan pers yang luar biasa. Kritik kepada presiden dan pejabat pemerintah sudah menjadi makanan sehari-hari di surat kabar, radio dan TV. Pemikiran-pemikiran intelektual agama yang progresif juga bukan merupakan hal-hal yang tabu lagi untuk diperdebatkan di surat kabar, TV dan internet antara lain bisa dilihat di website nya Islam Liberal di http://www.islamlib.com.

    Pekerjaan rumah kita masih banyak, itu memang betul, pak Roslan utamanya adalah pengentasan kemiskinan dan korupsi. Juga betul bahwa para pekerja kasar dari Indonesia masih banyak yang harus bekerja di luar negeri dan sebagian diperlakukan dengan tidak manusiawi antara lain di Malaysia dan Arab Saudi. Karena korupsi dari oknum aparat Indonesia dan kolusi dengan cukong Malaysia, hutan Indonesia juga masih terus dijarah dalam skala besar-besaran.

    Namun di balik semua kekurangan itu, saya orang Indonesia yang keturunan Cina dan beragama Kristen bangga menjadi bangsa Indonesia, bangga memiliki tanah air Indonesia dan bangga memiliki bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Air mata saya menetes setiap kali lagu kebanggsaan Indonesia Raya terdengar.

    JAYALAH INDONESIA KU !!

  8. mas junarto dan saudara “hati nurani” saya setuju dengan pendapat anda berdua, bahwa sangat banyak kemajuan yang bersifat fundamental dalam bangsa indonesia. Terutama demokrasi, kebebasan ekspresi, pers, budaya, politik dan lainnya. memang secara ekonomi 10 tahun terakhir indonesia tertinggal dari beberapa negara tetangga, tapi saya percaya bahwa dengan fundamental demokrasi yang sedang kita bangun sekarang akan menjadi landasan kuat bagi kemakmuran kedepan.
    Indonesia negara besar, dengan kekeyaan alam dan budaya yang luar biasa.

  9. kalo mau bangga ama diri sendiri ya boleh2 aja. tapi jangan jadikan orang lain kambing hitamnya. jangan menghina orang lain. ga etis banget!

    bagus juga indonesia lebih makmur dari malaysia. agar tiada ladi busung lapar. agar warga yang tersiksa kerna lumpur lapindo bisa terbela. ahhh banyak banget masalah yg harus diselesaikan.

    bosen ngomong ahhh.

  10. Saudara Anggrek, menurut saya kondisi psikologis bangsa Indonesia saat ini secara umum memang sedang jengkel dengan Malaysia karena kasus terbitnya secara sepihak peta wilayah Malaysia, claim Malaysia terhadap beberapa pulau & wilayah laut yang selama ini dianggap sebagai milik Indonesia, perasaan tidak adil terhadap kasus Ligitan/Sipadan yang dimenangkan untuk Malaysia oleh Mahkamah Internasional dengan alasan karena Malaysia de facto sudah masuk di situ dan melakukan konservasi alam, pencurian kayu dari hutan Kalimantan secara besar-besaran oleh cukong Malaysia yang berkolusi dengan oknum aparat Indonesia, klaim Malaysia terhadap perairan Ambalat yang kaya akan minyak serta perlakuan kasar terhadap TKI yang bekerja di Malaysia.

    Banyak orang Indonesia melihat bahwa perilaku Malaysia seperti di atas dilakukan secara intensif pada saat-saat Indonesia dalam kondisi susah & lemah karena krisis ekonomi yang sangat parah sejak tahun 1998 disertai dengan peralihan dari rezim otoriter orde baru ke era demokrasi.

    Dari sudut kepentingan nasional Malaysia, mungkin sah-sah saja untuk melakukan hal-hal seperti tersebut di atas apalagi itu terjadi dengan keterlibatan dan dukungan oknum aparat & orang Indonesia tapi sebagai tetangga dekat yang katanya “saudara serumpun” kebanyakan orang Indonesia berharap hal-hal tersebut tidak dilakukan oleh Malaysia pada saat Indonesia dalam keadaan susah & lemah. Banyak orang Indonesia menilai bahwa Malaysia “mengambil kesempatan dalam kesempitan”, seperti halnya John Howard, PM Australia yang mengambil kesempatan dimana Indonesia dalam kondisi lemah untuk memerdekakan Timor Timur.

    Namun akhirnya, bangsa Indonesia harus berintrospeksi diri bahwa dalam hubungan internasional antar bangsa, memang tidak ada istilah negara sahabat yang abadi bahkan dari bangsa serumpun pun, yang ada adalah kepentingan nasional masing-masing negara sehingga bangsa Indonesia harus bangkit, bersatu padu dan segera berbenah diri untuk bisa maju dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Jangan lagi kita mau diadu domba karena masalah suku, agama, etnis. Korupsi, hukum, militer, pendidikan, pengelolaan mineral, hutan dan laut harus mendapatkan prioritas utama untuk segera kita benahi.

    Fondasi bangsa ini sudah benar yaitu dasar negara kebangsaan yang menaungi segenap komponen bangsa Indonesia yang sangat majemuk yaitu PANCASILA termasuk demokrasi sebagai salah satu pilar utamanya.

    MAJULAH INDONESIA KU !!

  11. anggrek berkata:

    kalo mau bangga ama diri sendiri ya boleh2 aja. tapi jangan jadikan orang lain kambing hitamnya. jangan menghina orang lain. ga etis banget!

    bagus juga indonesia lebih makmur dari malaysia. agar tiada ladi busung lapar. agar warga yang tersiksa kerna lumpur lapindo bisa terbela. ahhh banyak banget masalah yg harus diselesaikan.

    bosen ngomong ahhh”

    @ Anggrek
    Yang saya permasalahkan adalah perbandingan sistem secara mendasar, bukan kasus-kasus permukaan. Pokok argumen saya adalah sistem Indonesia yang baru (setelah melewati masa transisi yang sulit) telah beradaptasi dan bergerak jauh lebih baik ketimbang Malaysia pada saat ini.

    BTW, silahkan berpendapat apapun, asalkan santun. Tunjukkan bahwa Anda mewakili negara Malaysia yang beradab.

    Terima kasih 🙂

  12. iya.. memang lebih baik… dalam keterbukaan… sampe-2 pada nggak bisa diatur 🙂 Ingat kasus idul fitri barusan 😦

  13. iya.. lebih baik… lebih bisa ngomong sebebasnya.. lebih susah ngaturnya 🙂 inget kausus idul fitri kemarin 🙂 bisa 4 versi.. oii.. 🙂 hebatt 🙂

  14. Tuhan sedang mempersiapkan bangsa Indonesia untuk menerima berkatnya yang berlimpah, orang yang tinggi hati akan direndahkan, yang rendah hati dan terus berusaha akan ditinggikan. Bravo, aku bangga jadi bangsa Indonesia, kalaupun banyak kekurangan, ayo kita terus bahu membahu berjuang memperbaikinya. Jayalah bangsakuku, Jayalah negriku, Jayalah Indonesiaku.

  15. # Mohd Berkata:
    RoslanK
    Warga Malaysia, Leluhurku dari Malang.

    Oktober 21st, 2007 pada 2:51 am

    1) “What’s your yard-stick?” apa tolok ukur yang saudara pakae untuk mengatakan Indonesia lebih berjaya dari Malaysia? Bukti rakyat Indonesia terpaksa membanjiri Malaysia juga menunjukkan kegagalan pemerintah Indonesia untuk meyediakan job oppotunities di Indonesia.Kalu ramai warga Indoneseia datang ke Malaysia gayak pengemis (beggar) ramae warga Malaysia ke Indonesia sebagai Warisita, ini namanya Indonesia lebih teruk dari Malaysia.
    ………..
    comment :
    Berjaya adalah sebuah kata sejarah yang menyatakan bahwa suatu bangsa
    pernah dalam siklus teratas. Kita perlu menengok bahwa semua bangsa mempunyai periode naik turun. Begitu dengan Amerika, malaysia dan Indonesia. Kata-kata berjaya hanya bisa dianugerahkan oleh negara lain bukan oleh bangsa itu sendiri.

    2)Guae pernah ke Indonesia, melihat sendiri “rumah kotak” di Indonesia, anak gelandangan, dan ibu yang mengusung anak di traffic light, pasca 10 tahun Reformasi Indonesia, minggu lepas. Aku katakan fenomena ini tidak ada di Malaysia. Apasih kalau itu tolok ukur, Malaysia jauh meninggalkan Indonesia dong.

    Anda bisa sahaja berkhayal, menulis, bercererita dan perasan sendiri anda maju dan lebih bagus.
    Tapi realitasnya tidak bisa dipungkiri oleh orang yang berakal…
    Nanti orang akan katakan anda ini Konyol.

    ……………..
    Comment :
    Tolok ukur kemiskinan seseorang memang bisa dijadikan dasar harga diri suatui bangsa. Tetapi apakah hal itu, suatu yang bersifat statis. Perlu diingat nusantara adalah pemodal terbesar dalam perekonomian dunia pada pasca perang dunia I dan konon Bank Suizze telah menginventarisir keberadaan harta tersebut (coba cek dalam situs bank of suizze). Jadi yang lebih tepatnya Malysia dan Indonesia bersaudara dan saling mengingatkan agar tidak saling merugi. Bukankah kita serumpun dalam nusantara. Seperti kata Dewa 19 “Aku bukan orang Jawa, AKu bukan orang cina, AKu bukan orang sunda, aku bukan melayu tapi aku adalah orang indonesia saja atau bisa diganti deh aku orang malaysia saja”. Bhineka Tunggal Ika…ada kata yang lebih toleran dengan kata tersebut di dunia ini…Saya yakin JK Kennedy pun takluk dengan kata tersebut.

  16. kasihan juga yah warga2 Indonesia yang disana
    tapi hidup bagaikan roda yang selalu menggelinding
    kadang di atas dan kadang di atas

    begitu juga kehidupan
    kalau sekarang ekonomi bangsa kita masih jauh di bawah perekonomian malaysia, semoga kedepan perekonomian kita semain membaik

    namun kalau kita sudah di atas, kalau boleh jangan terpeleset ke bawah
    sekarang bangsa kita disebut lebih bebas daripada malaysia yang disebut negara yang mengekang, semoga ini terus berjaya
    dan kita sebagai warga negara yang baik tidak perlu membeber-beberkan kekurangan mereka (Malaysia), nanti orang Indonesia malah disebut sebagai bangsa yang taunya cuman membeber-beberkan kekurangan negara lain

    sakit hati saya terhadap warga malaysia mungkin sama dengan sakit hati anda semua, cuman kita tidak usah membeber-beberkannya. Setinggi-tinggi tupai melompat, jatuhnya pasti ke kubangan juga

  17. saya pernah dengar cerita teman bahwa saat ini banyak keluarga Malaysia menggunakan pembantu asal Indonesia untuk mengasuh anak-anak mereka sementara kedua orang tua sibuk bekerja. Para pembantu berbicara bahasa Indonesia dengan anak-anak Malaysia tersebut, sama-sama gemar menonton sinetron Indonesia dan mendengarkan musik-musik Indonesia yang marak di Malaysia. Waktu mereka besar, jangan heran kalau kemudian mereka akan banyak memiliki budaya yang tidak banyak berbeda dengan orang-orang Indonesia. Mungkin Malaysia dan Indonesia kelak akan menjadi satu dalam naungan negara NUSANTARA

  18. 19/09/07 08:27

    Protes Artis Malaysia Atas Musik Indonesia Berlanjut

    Kuala Lumpur (ANTARA News) – Protes penyanyi Malaysia terhadap seringnya radio swasta di negeri jiran itu memutar lagu Indonesia terus berlanjut, dengan disiapkannya gugatan oleh persatuan penyanyi dan pencipta lagu Malaysia (Papita).

    Presiden Papita, M Daud Wahid, kepada koran “Berita Harian”, Selasa, mengatakan sudah menunjuk pengacara untuk membuat surat gugatan atas surat bantahan para pengusaha radio swasta.

    Sebelumnya, para pengusaha membantah tuduhan para artis Malaysia yang menyebutkan bahwa mereka lebih banyak memutar lagu-lagu penyanyi atau grup musik Indonesia dibandingkan Malaysia.

    Dalam suratnya, Papita akan menyatakan kekecewaan terhadap radio swasta yang lebih sering memutar lagu Indonesia dibandingkan lagu Malaysia.

    “Apabila memorandum itu siap, Papita akan menyerahkannya kepada Kementerian Tenaga, Air, dan Komunikasi dan ahli Parlimen supaya isu penyiaran lagu dari Indonesia yang mendapat keutamaan oleh radio swasta diberikan perhatian dengan sewajarnya,” kata M Daud Wahid sebagai dikutip harian itu.

    Daud mengatakan, untuk saat ini, Papita tidak akan membuat rundingan atau perbincangan dengan organisasi musik Indonesia.

    Ia menegaskan istilah Malaysia dan Indonesia mempunyai hubungan budaya serumpun hanyalah retorik saja, karena hal itu hanya satu konsep yang menarik di atas kertas, tetapi secara praktiknya negara Malaysia yang lebih banyak mengalah dengan karyawan seni dari negara seberang.

    Sebelumnya Papita sudah membuat MOU dengan organisasi atau persatuan Indonesia supaya mereka juga memberikan dukungan kepada para penyanyi Malaysia yang hendak mencari peluang di sana. Tapi mereka tidak berbuat apa-apa.

    “Jadi Papita sekarang akan banyak bertindak dari sini saja. Kita juga akan mendesak pemerintah, agensinya dan stesen radio dan TV supaya tidak mudah membawa penyanyi dari Indonesia,” kata dia. (*)

  19. lagu “rasa sayange” dicuri dijadiin lagu iklan pariwisata mah biasa. yang luar biasa lagu kebangsaan malaysia adalah lagu penyanyi indonesia di tahun sekitar 40-50an.
    apa gak malu tuh malaysia. bikin lagu sendiri aja gak bisa..
    lagu artis indonesia gak boleh diputer di malaysia biarin aja, dari pada dijadiin lagu “kebangsaaan” malaysia

  20. # IAn Berkata:
    Oktober 24th, 2007 pada 12:43 am

    lagu “rasa sayange” dicuri dijadiin lagu iklan pariwisata mah biasa. yang luar biasa lagu kebangsaan malaysia adalah lagu penyanyi indonesia di tahun sekitar 40-50an.
    apa gak malu tuh malaysia. bikin lagu sendiri aja gak bisa..
    lagu artis indonesia gak boleh diputer di malaysia biarin aja, dari pada dijadiin lagu “kebangsaaan” malaysia

    ==================
    Jawapan untuk IAN.
    Mungkin IAN ini kurang membaca, lagu Terang Bulan di Bali tidak ada kaitannya dengan lagu Negaraku Malaysia. Mungkin saudara keliru dengan pernyataan bahawa lagi negaraku diambil dari lagu TERANG BULAN. Saudara lantas menebak, ini satu lagi ciplak (bajakan) ke atas Indonesia.

    Terang Bulan yang dimaksudkan adalah lagu Terang Bulan dari negeri Perak, yang mana lagu ini lagu rakyat tentang ketaatan kepada negeri, lagu bersemangat Patriotik. Lagu TERANG BULAN diKali lagu rakyat indonesia yang dinyanyikan di Pasar malam aja.
    Judul sama tidak bermakna lagunya dan liriknya sama dong…

    Harap warga Indonesia berfikir dulu sebelum menulis, jangan menulis dulu baru berfikir, Itu namanya emotional (emosi).

    RoslanK

  21. INDONESIA RULES MALAYSIA

    Yang saya bicarakan bukan sekedar propaganda, tetapi fakta bahwa sesungguhnya Malaysia TAKUT pada Indonesia. Lihat saja, berapa banyak pasir dan kayu illegal logging yang dicuri Malaysia, berapa banyak TKI kita yang disiksa dan mati dengan tangan kosong, berapa banyak pulau kita yang diklaim oleh mereka, dan berapa banyak hasil kebudayaan kita yang akan dijarah dan dimanfaatkan untuk kepentingan mereka.

    BERAPA BANYAK LAGI DARI KITA YANG BERDIAM DIRI ATAU YANG MAU BANGKIT MELAWAN MALAYSIA?

    Saudaraku sebangsa dan setanah air, saya katakan ini dari hati saya yang paling dalam. Jangan pernah iri terhadap Malaysia. MEREKALAH yang IRI pada kebesaran bangsa kita!! Ingat jangan pernah katakan lagi GANYANG MALAYSIA, tapi serukan ini ke seluruh dunia bahwa INDONESIA RULES MALAYSIA FOREVER!!!

    Tak pernah dalam sejarah, Malingsia itu menguasai wilayah Indonesia sekalipun. TIDAK!! Hanya Indonesia yang pernah menguasai Nusantara, dan akan terjadi lagi. Nusantara pernah menjadi sebuah eksistensi dan integritas dalam sejarah dunia oleh Majapahit. Para anak cucu dari sebuah bangsa Nusantara, ayo bangkit melawan diri kita, baru kita serang musuh kita.

    Saya memohon bagi seluruh individu atau komunitas Indonesia, ayo berubah, ubahlah diri kalian dan ubahlah saudara-saudara kalian. Jadilah diri kalian sebagai bagian dari sejarah, bukan hanya sebagai pembaca sejarah. DO IT!!!

    Maka sekian kata-kata dari saya. Tak lupa saya ucapkan pesan Bung Karno yang tertancap dalam hati setiap manusia INDONESIA.

    MERDEKA!!!

    VIVA INDONESIA

  22. kasian banget ama orang indonesia yang bukan jawa. mereka sok ngaku2 merdeka. kenyataannya mana pernah mereka merdeka. coba deh pikir pake otak!

    kalian pikir nenek moyang kalian berjuang kerna mau menjadikan tanah air kamu menjadi indonesia? cut nyak dhien, pattimura, sipitung dan banyak lagi… apa mungkin mereka mau menjadi bagian dari indonesia kalau mereka tau mereka dan keturunan mereka akan hilang kekuasaan. miriplah ama dijajah belanda ama jepang!

    apa kalian bangga kan ama sejarahnya majapahit? sejarahnya majapahit itu milik orang jawa. nenek moyang kalian kan pernah diserang dan dibunuh ama majapahit. trus sekarang kamu bangga-banggain mereka?

    wilayah nkri hanya coretan di atlas, dari sabang sampe merauke. apakah orang2 dari sabang sampe merauke tau atau rela di indonesiakan ketika itu? ga pernah ada persetujuan. ga pernah ada pungutan suara! mereka menipu, memaksa dan mengclaim sendiri. siapa menentang akan dibunuh.

    jelek2nya malaysia, mereka itu bersepakat membentuk malaysia. kalau setuju ya ikut. ga setuju ya gpp. kaya brunei kan ga jadi menyertai malaysia. ya gpp. ga diperangi kok. tetep bersahabat sampe sekarang.

    kalo bung karno pasti udah diperangi. mau mendirikan indonesia raya… untuk siapa? untuk rakyat? bukan… untuk cita2 tamak dirinya sendiri dan suku jawa! mengembalikan keagungan majapahit!

    realitinya, indonesia itu negara jajahan suku jawa! bung karno adalah ketuanya penjajah!

  23. @daengmatajang
    Terima kasih atas tanggapan Anda

    wilayah nkri hanya coretan di atlas, dari sabang sampe merauke. apakah orang2 dari sabang sampe merauke tau atau rela di indonesiakan ketika itu? ga pernah ada persetujuan. ga pernah ada pungutan suara! mereka menipu, memaksa dan mengclaim sendiri. siapa menentang akan dibunuh.

    Apakah Anda punya fakta historis yang memperkuat pernyataan di atas? Republik Indonesia dalam bentuk yang sekarang lahir justru setelah negara-negara bagian meleburkan diri dengan suka rela kedalam Republik Indonesia. Boleh tahu, sumber yang dipakai dari mana?

    jelek2nya malaysia, mereka itu bersepakat membentuk malaysia. kalau setuju ya ikut. ga setuju ya gpp. kaya brunei kan ga jadi menyertai malaysia. ya gpp. ga diperangi kok. tetep bersahabat sampe sekarang.

    Sebetulnya ada persepsi yang berbeda dengan sejarah pembentukan Federasi Malaysia, terutama ketika Serawak dan Sabah diklaim secara sepihak oleh Semenanjung Malaya yang menimbulkan konfrontasi pada tahun 1960-an. Selain itu, politik rasialis di Malaysia sebenarnyalah yang menindas suku lain, sehingga Singapura melepaskan diri dari federasi yang didominasi puak Melayu pada tahun 1965.

  24. anda bilang – Sebetulnya ada persepsi yang berbeda dengan sejarah pembentukan Federasi Malaysia, terutama ketika Serawak dan Sabah diklaim secara sepihak oleh Semenanjung Malaya yang menimbulkan konfrontasi pada tahun 1960-an.

    saya bilang – hehehehe… kapan malaysia mengklaim serawak ama sabah? lucu deh. malaysia ga main klaim-klaiman lho kaya situ. justru serawak ama sabah diundang join ama malaysia. sama seperti brunei yang turut diundang. tapi brunei akhirnya ga jadi menyertai malaysia. trus serawak ama sabah mengadakan pungutan suara kepada semua rakyatnya. PBB yang mengendalikan urusan pungutan suara itu. trus setelah selesai pungutan suara, didapati mayoritas mau masuk ke dalam federasi malaysia. oh iya, sebelum itu sukarno ada juga mengundang (walau sebenarnya mengklaim) serawak ama sabah mengujudkan indonesia raya, tapi ditolak ama rakyat kedua-dua negeri itu.

    kalo masalah singpaore itu lain pula. singapore melepaskan diri? hehehe. ga dong! dikeluarkan sebenarnya. kisahnya ya cari sendiri dong.

    jelek2nya orang melayu, sejak merdeka, bangsa lain seperti orang tiong hua dan india tetep jadi warganegara. coba kalo di indonesia? apa begitu? sampe sekarang aja orang tiong hua sulit mo bikin ktp!

    siapa bilang orang tiong hua aman damai di indonesia? kemaren waktu reformasi siapa yang banyak dibunuh, dijarah, dibakar? sampai2 ribuan orang tiong hua ngungsi ke malaysia dan singapore.

    belon lagi kasus tanjung priok… bla… bla… bla..

    anda bilang – Apakah Anda punya fakta historis yang memperkuat pernyataan di atas? Republik Indonesia dalam bentuk yang sekarang lahir justru setelah negara-negara bagian meleburkan diri dengan suka rela kedalam Republik Indonesia. Boleh tahu, sumber yang dipakai dari mana?

    saya bilang – bodoh banget yang mau dilebur. pakai logika aja udah bisa tau kebenarannya, mana mungkin mereka mau dihilangkan kekuasaannya jika masuk ke dalam NKRI. join indonesia, trus dilucutkan kuasa dan haknya… siapa yang mauuuu? mana bukti surat persetujuan bersama ama pemerintah asli daerah ketika itu? ga ada bukan??? lihatlah yang paling deket… ACEH… MALUKU… SULAWESI… memberontak semuanya!

    sekarang mantan GAM kan masih ada, silahkan ketemu ama mereka dan ngobrol secara jujur. mantan Kahar MUzakkar juga masih ada walau umurnya mungkin udah tua banget… sekitar 60 – 70an lah.

  25. jelek2nya orang melayu, sejak merdeka, bangsa lain seperti orang tiong hua dan india tetep jadi warganegara. coba kalo di indonesia? apa begitu? sampe sekarang aja orang tiong hua sulit mo bikin ktp!
    siapa bilang orang tiong hua aman damai di indonesia? kemaren waktu reformasi siapa yang banyak dibunuh, dijarah, dibakar? sampai2 ribuan orang tiong hua ngungsi ke malaysia dan singapore.

    Anda belum paham. Ada perbedaan yang sangat jelas: Malaysia menjadikan politik rasialis dengan resmi sampai sekarang, sedangkan Indonesia pascareformasi memberlakukan politik persamaan dengan resmi. Itu yang membuat Indonesia maju lebih jauh daripada Malaysia. Itikad politik itu kredit poinnya.

    saya bilang – bodoh banget yang mau dilebur. pakai logika aja udah bisa tau kebenarannya, mana mungkin mereka mau dihilangkan kekuasaannya jika masuk ke dalam NKRI. join indonesia, trus dilucutkan kuasa dan haknya… siapa yang mauuuu? mana bukti surat persetujuan bersama ama pemerintah asli daerah ketika itu? ga ada bukan??? lihatlah yang paling deket… ACEH… MALUKU… SULAWESI… memberontak semuanya!

    Tapi memang kenyataanya memang demikian. Anda semestinya membaca sejarah, bukan fiksi. Negara-negara bagian bersidang dan membubarkan diri dengan suka rela.

    Pemberontakan sebelum tahun 1970 terjadi bukan karena ingin melepaskan diri, tapi karena ketidakpuasan, kebijakan yang tidak adil. Silahkan baca lagi sejarah, bukan dugaan belaka.

    Yah lihatlah sekarang, setelah otonomi daerah diberlakukan, masyarakat di daerah yang mengatur diri mereka sendiri dan pemerintah setempat bertanggung jawab terhadap kemajuan wilayah masing-masing. Sekarang? Damai-damai saja. Butir pentingnya, Indonesia telah melewati krisis-krisis tadi.

    Sebaliknya, di Malaysia, saya khawatir, jika ekonomi merosost, akan terjadi kerusuhan etnis yang parah, sebagaimana pernah terjadi pada tahun 1969.

  26. Bicara Pak Hamka selalu menjadi cermin diri saya.

    Jika orang itu buruk budinya, ia menjadi cermin diri agar kita tidak jadi sepertinya.

    Jangan dipandang rendah orang yang problematik moralitinya, mungkin dia jauh lebih mulia pada akhirnya.

    Jangan dipandang jelek orang yang disisi kita, boleh jadi dia lebih segera mencium bau sorga berbanding kita.

    Saya amat cenderung dengan nasihat Hamka ini. Terima kasih dan tahniah Indonesia kerana menghasilkan ulama yang begitu berkesan di hati saya.

    Siapa menang itu bukan soalnya, masing-masing bisa majukan diri tanpa perlu formula I Win You Lose. Kerana itu zaman Rasulullah pertandingan ‘Saya hebat dia Kalah’ tidak pernah diamalkan dalam sunnahnya.

    Atas dasar sunnah ini, saya kira Malaysia dan Indonesia sama-sama kita maju dengan mujahadah pembersihan hati, konstrutiviti komuniti dan pembetulan dari dalam secara konstan.

    Moga-moga jadi ibadah.

    ZAMRI MOHAMAD
    Malaysia

    http://www.zamrimohamad.com

  27. aliman aka zamri, si junarto terima kata2 kau sebab dia sekarang dah sedar… dia sedang bermain api.

    hentikanlah tulisan sebegitu untuk mencari populariti dan statistik.

    kebebasan ga ada dalam umat beragama. kalo mau bebas ya kaya hewan!

  28. @mat kapak

    aliman aka zamri, si junarto terima kata2 kau sebab dia sekarang dah sedar… dia sedang bermain api. hentikanlah tulisan sebegitu untuk mencari populariti dan statistik.
    kebebasan ga ada dalam umat beragama. kalo mau bebas ya kaya hewan!

    Istilah “bermain api” berlebihan Mat. Orang Indonesia biasa menyebutnya “kebebasan berpendapat,” “kebebasan bereskpresi,” “kebebasan media.” Mohon maaf jika ini sesuatu yang asing bagi Anda di Malaysia. Tapi di Indonesia, kebebasan semacam ini dijamin undang-undang. Justru sebaliknya, orang yang terkungkung kebebasannya sebenarnya seperti kerbau yang hidungnya dicorcor penunggangnya. Kerbau takpunya kedaulatan, karena arah jalannya ditentukan oleh sang penunggang. Jika bergerak menyimpang, kerbau dipecut sang penunggang. Mudah-mudahan Anda tidak termasuk yang demikian. Jadi, jangan takut berpikir bebaslah, Mat.

    Soal Bung Zamri,
    Bung Zamri mengeluarkan pernyataan umum yang bersahabat dan dapat diterima, itu saja.

  29. Kalau masih ada sebagian orang yang sinis dan pesimis dengan nasionalisme Indonesia, saya kira kita bisa maklumi karena selain bangsa kita masih muda, dalam beberapa dekade terakhir khususnya zaman Orde Baru, nasionalisme kita mengalami proses erosi karena lebih banyak di salah gunakan untuk kepentingan para penguasa dan segelintir elite nya sehingga tidak heran kalau menimbulkan sinisme dalam diri sebagian dari komponen bangsa kita.

    Seperti yang saya sampaikan dalam komentar sebelumnya bahwa bangsa Indonesia memiliki anugerah dari Tuhan berupa kekayaan yang luar biasa. Selain kekayaan alam, yang membuat kita lebih kaya adalah keanekaragaman kita dalam hal suku bangsa, adat istiadat/budaya dan agama.

    Kalau kita cinta dengan bangsa ini, mestinya kita perlu tuangkan ke dalam hal-hal nyata misalnya :

    – kita hindarkan diri kita sedapat mungkin dari praktek-praktek korupsi karena korupsi dengan segala manifestasinya secara langsung dan tidak langsung telah merusak bangsa ini demikian parahnya seperti hutan-hutan yang hancur, kemiskinan absolut yang masih mendera sebagian bangsa ini, pendidikan yang amburadul dll

    – bantu sedapat mungkin upaya untuk membenahi pendidikan baik formal maupun non-formal (dalam lingkungan keluarga) supaya kita bisa menjadi bangsa yang memiliki budi pekerti dan menguasai ilmu pengetahuan

    – hargailah aktivitas untuk terus mengembangkan budaya kita seperti bahasa, makanan/kuliner, tata busana, musik, tari, film, kesusteraan dll

    – jangan mau lagi diadu domba khususnya tentang masalah suku dan agama yang di masa lalu kerap terjadi dan dicurigai sebagai upaya oleh penguasa untuk memecah belah kekuatan bangsa kita supaya kekuasaan mereka tetap lestari

    Akhirnya memperingati sumpah pemuda, marilah kita mengingat lagi apa yang pernah diikrarkan oleh para pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 :

    Bertanah air satu, tanah air INDONESIA
    Berbangsa satu, bangsa INDONESIA
    Berbahasa satu, bahasa INDONESIA

    Saya adalah seorang warga keturunan Cina namun saya bangga menjadi bangsa Indonesia. Saya sangat yakin bahwa sebagian besar teman-teman bangsa Indonesia sama seperti saya. Kalau masih ada ada saudara-saudara kita yang pesimis dan sinis, mari kita sama-sama terus yakinkan dan buktikan melalui tindak dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari kita.

    JAYALAH INDONESIA KU !

  30. Sebagai orang indonesia seharusnya kita bangga kita lebih dulu berdiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka terlebih dahulu daripada malaysia, kita merdeka dari perjuangan kita sendiri bukan seperti malaysia yang mendapat kemerdekaanya dari inggris.
    Malaysia harusnya belajar dari kita kita mempunyai wilayah yang luas terdiri dari puluhan ribu pulau, tetapi kita mempunyai rasa senasib dan sepenanggungan, yang kemudian melebur dan menjadi Indonesia.
    Hal itu kemudian ditegaskan dalam Sumpah Pemuda,
    memang meskipun saat ini banyak ketidakpuasan atas kondisi bangsa saat ini, tetapi yang paling penting kita mau berusaha bersama, belajar bersama untuk menuju masa depan yang lebih baik.

    Maka dari itu saudara sebangsa dan setanah air, yakinlah kita akan menemukan masa depan yang lebih baik, ya, lebih baik dari negara tetangga kita yang congkak dan tak tahu balas budi.
    HIDUP NKRI

  31. jelek2nya orang melayu, sejak merdeka, bangsa lain seperti orang tiong hua dan india tetep jadi warganegara. coba kalo di indonesia? apa begitu? sampe sekarang aja orang tiong hua sulit mo bikin ktp!
    siapa bilang orang tiong hua aman damai di indonesia? kemaren waktu reformasi siapa yang banyak dibunuh, dijarah, dibakar? sampai2 ribuan orang tiong hua ngungsi ke malaysia dan singapore.

    komentar:
    saya rasa nggak juga, saya punya banyak sekali sahabat keturunan tiong hua yang sama sekali tidak punya masalah dengan birokrasi di daerahnya, mungkin benar, era orde baru kalangan “keturunan” terkungkung kebebasannya sebagai warga negara dalam beberapa aspek terutama dalam bidang politik, namun sejak runtuhnya orde baru perlahan semua itu berubah, reformasi dan demokrasi cukup menunjukan peran nyata dalam lingkungan masyarakat, pemerintah pun memberi kebebasan yang lebih baik lagi kepada etnis tiong hua sejak era pemerintahan mwgawati, contaoh paling sederhana adalah kebebasan etnis tionghua dalam berekspresi melalui seni dan buadayanya… dan sampai saat ini saya rasa kesenjangan yang dulu terasa begitu lebar, seiiring dengan berjalannya waktu akan terus menyempit.

  32. tolong,mulai saat ini teman2 jangan menyingkat INDONESIA menjadi INDON!

    karena itu merupakan bahasa hinaan yg di7kan utk warganegara INDONESIA

  33. saya benci orang melayu yang tingkahnya sombong/ diskriminasi. tapi tidak semua melayu di indonesia yang seperti itu. Buktiny di Universitas masih ada melayu yang nyata-nyata enak dijadikan tmen dan sahabat. Semua itu tergantung dari cara berpikir masing” orang. Tidak semua yang sama Suku itu baik. Yang berbeda suku pun bisa jadikan suku lain sbg sahabat. Untuk itu pandai-pandai lah berteman atau berkomunikasi dgn org sekitar biar bisa menjadi teman dalam segala suasana

  34. Apa yg kornag sibuk2 ni.KAn Kita semua ni serumpun boleh tak kita just berbaikbaik each other?Apa2 Musibah pun MAlaysia juga tolong Indonesia.Jadi renung-renungkanlah wahai saudaraku.

  35. Indonesia tidak pernah patriotik dalam kebudayaan rumpunan melayu tetapi sebaliknya bagi malaysia yang terus berjuang habis-habisan mempertahankan kebudayaan melayu nusantara,bahkan bahasa kebangsaan juga masih di kekalkan dengan nama bahasa melayu.tdk seperti Indonesia mereka menukar nama bahasa itu menjadi bahasa Indonesia jadi dimanakah identiti sesebuah bahasa itu?Dari tamadun mana?ini sama saja menghina warisan nenek moyang kita. Kita Sebagai Rumpunan Melayu Nusantara Harus Bersatu bukan bergaduh sesama sendiri supaya dihormati oleh bangsa lain.Oleh Itu Bersatulah Rumpunnan Melayu jgn jadikan perbezaan etnik menjadi satu halangan perpaduan antara kita.Bak Kata Laksmana Hang Tuah(TAKKAN HILANG MELAYU DI DUNIA)

  36. bung azrul,

    Jangan terlalu terburu buru mengidentikkan orang asia tenggara,yang berkulit coklat sawo matang yang mengaku bukan etnis cina atau india ( khusus daerah Thailand,Indonesia,Brunei,Filipina) itu semua: orang melayu.

    Saya sangat tahu apa yang ingin anda sampaikan,begitu pula yang teman-teman saya dari Malaysia hendak katakan.Sangat mirip dengan anda.

    Di Malaysia memang begitu.Tapi lain di Indonesia,ada asal orang dari Sumatera,Jawa,Sulawesi,Borneo,Papua.Anda sebagai orang Malaysia-melayu,dan kebanyakan dari anda sangat mensakralkan ‘melayu’ dalam hal apapun.Seperti teman Malaysia saya,marah sekali ketika nama askar kerajaan ( maaf kalau salah )dihilangkan ‘melayu’nya.Bahkan mungkin anda juga orang yang menghubungkan, melayu dengan mim,lam,ya di bahasa arab,yang bila diartikan mengandung spirit dalam ajaran islam.

    sah-sah saja sih.Memang bahasa kita berasal banyak dari kosakata kerajaan melayu tua di Sumatera sana,tapi sudah semakin disempurnakan untuk bisa dipakai dari mulai ujung barat sampai timur Indonesia.Seperti kata “boleh”,”dekat” yang anda pakai sekarang,kami pakai sebagai “may” (bukan “can”),”near” ( bukan “inside” ).

    Nah,sekarang sepertinya kebanyakan orang Indonesia tak ingin lagi mendengar ada rumpun-rumpunan,yang ada hanya satu,bangsa Indonesia,yang multietnis,multiras,multikultur….jadi,rumpun melayu yang anda maksud,adalah,satu rumpun dari ratusan rumpun di Indonesia……….

    hehe..saya boleh lah bilang satu rumpun dengan anda,tapi kalo satu rumpun dengan orang trengganu ( bicara cepat ) atau kedah yang pake ‘hang..hang’ itu,alamak !!!

  37. Pak Haris!Komuniti Kita ni sangat besar!Sebelum Kedatangan penjajah di rantau kita evolusi rumpunan melayu mula berkembang.Anda harus Ingat kita semua dari leluhur yang sama!Ini Terbukti dari Kajian sains dan tamadun dunia!Definisi rantau nusantara ini sebelumnya di kenali dengan nama Kepulauan Melayu!Bahasa Melayu juga menjadi Lingua Franca di rantau ini sebagai bahasa perhubungan&Perdagangan malah hingga sekarang masih lagi di praktikkan!Walaupun bahasa inggeris sudah menjadi bahasa antarabangsa!Malah semasa saya tinggal di luar negara komuniti nusantara kita bergabung dalam satu dengan nama org melayu!Seperti org China Yg bersatu dalam komuniti mereka!Contohi masyarakat china kenapa mereka sangat berjaya dalam semua hal!Ini Bermula apabila dinasti raja china yg terdahulu menyatukan semua etnik mereka hingga menjadi satu bangsa yg besar hingga menjangkau hampir 2bilion org hingga kini!Padahal dlm komuniti mereka juga ada banyak etnik yg berlainan seperti hakka,kantonis,tioungha dan banyak lagi,malah bahasanya pun lain2!Tp Mereka mengambil inisiatif utk bersatu dalam serumpun untuk membentu bangsa China yg besar hingga kini!kenapa kita tdk Begitu yg jelas2 serumpun?Apakah ini satu tanda kemusnahan persaudaraan sesama kita?

  38. Saya simpati dengan sebagian orang Indonesia (tentunya enggak semualah- yang enggak becusnya org kayak penulis esei ni aja). Mereka masih masih dalam pikiran lama bahwa Indonesia itu lebih hebat dari semua orang. Tetap anggap dirinya abang yang lain adik-adik saja. Tidak boleh dikritik. Kalau ada, ya dikatakanlah orang lain itu cemburu. Tidak bisa berbagi walaupun budaya itu bukan milik siapa-siapa tapi mau berbagi kemakmuran orang lain utk diri sendiri. Yang ngak tau malu bilang lagu kebangsaan Malaysia itu lagu Terang Bulan dari Indonesia. Makanya banyakkan baca buku sejarah! Ya, namanya juga abang pasti malu dong bila ngaku adiknya lebih dari dia yang udah tua tapi belum becus-becus juga. Dari artikel itu dikatakan bahwa 80% kriminal ya org Malaysia sendiri. Tapi kok ngak dibilang 20% itu siapa? Emangnya pergi ke negara orang seenaknya bisa bikin semaunya sendiri? Dibilang orang Malaysia memeras TKI, Mereka itu bukan kerna anggak dibayar gaji tapi udah duluan dijual oleh orang yang sama bangsa dengan mereka. Orang jual orang. Ngak tau tentang itu? makanya bikin riset dulu baru nulis. Balak di kalimantan itu dikatakan ulah cukung Malaysia, apa ngak tau, bahwa udah dijual oleh oknum Indonesia yang sangat korupsi? Majukan negeri dulu supaya angak ada yang ke Malaysia lagi tuk cari rejeki. Tapi, ya realitasnya Indonesia yang dikatakan lebih baik itu anggak bisa kasi rakyatnya sendiri pekerjaan yang sesuai dengan tingakat pendidikan mereka. Sepuluh tahun pasca reformasi, gelandangan makin rame di lampu merah. Kok mereka belum dibantu juga sampai sekarang? Jadi gimana? Kok cuman dibilang yang disiksa di Malaysia, tapi yg disiksa di tanah Arab ngak disebut? Jelas tu, cuma mau cari salahnya Malaysia. Mau tau ngak mengapa pembantu rumahnya bermasaalah di Malaysia? Sebagianya enggak tau guna kompor gas. Dibilang bodoh eh marah tapi ngak diajarin dulu. Jawabannya kurupsi! Yang dihantar anggak pernah diajar cara hidup di sono. Orang malaysia banyak ditipu, katanya pembantu rumah terlatih, udah ada pelatihan tapi kebanyakannya angak tahu apa-apa tentang rumah tangga. Itu belum lagi kasus lari kerna ikut cowok, mencuri dan menipu majikan. Saya kasihan sama penulis esei ini. Pernah ke Malaysia ngak, kalau udah, udah berapa kali? Di Malaysia sudah anggak ada kompor kayu atau minyak. Orang Indonesia juga aneh, dibilang Indon mereka marah tapi panggil orang Malay kok bisa ya? Tau ngak mengapa ramai warga Indonesia yang udah sukses cari rezeki ngak mau pulang ke Indonesia lagi? Kok mau mereka jadi warga Malaysia dan tinggalkan negeri mereka yang dikatakan lebih baik itu. Pembantu rumah tetangga saya pulang bawa uang beribu-ribu ringgit (hitung sendiri berapa Rpnya) untuk mulakan usaha baru di desa tapi ditipu, dirampok dan dipukul sebaik mendarat di bandara! Oleh siapa?bukan orang Malaysia yang dikatakan sombong itu tapi oleh orang Indonesia yang dikatakan lebih baik itu. Ah, kasihan sekali. Emosi jadinya. emosi sama orang Indonesia yang bisa saja mengerjain orangnya sendiri. Kepada teman-teman Indonesia yang lain, maap ya, soalnya penulis esei ini udah konyol barangkali. Enggak berpijak di bumi yang nyata. Saya sedekahkan al-fatihah kepada almarhum Buya Hamka yang sangat bijaksana itu. Sayang sekali orang Indonesia udah lupa sama pesannya buya yang sangat hebat itu. Taunya cuma lihat keburukan orang. Malaysia selalu dibilang ambil kesempatan pada waktu orang Indonesia susah. Sebenarnya kami bisa saja cari TK dari negara lain yang juga hidup susah. tapi karna serumpun dan simapti dengan Indonesia, maka orang-orangnya diambil duluan. Bilang saja bahwa Indonesia angak bakalan menghantar TK lagi ke Malaysia. Biar Malaysia bila ok, kami ambil saja dari Kampuchea, Bangladesh, Filipina dan lain-lain. Sekadar informasi, waktu tsunami bantuan Kuala Lumpur lebih duluan sampai dari Jakarta. Bukan nyombong ya, soalnya waktu itu kami sangat simpati kepada saudara-saudara kami di Acheh sehingga terpaksa minta ijin dari jakarta untuk masuk duluan.
    Semoga Indonesia benar-benar maju dan lebih baik supaya kami bisa tidur dengan nyenyak dan tenang.
    Amin.

  39. @ Azrul
    Maksud Bung Haris, Indonesia tidak identik dengan salah satu etnis atau kelompok tertentu. Sebab Indonesia dibangun dengan tujuan membentuk satu konsep kebangsaan: bangsa Indonesia. Suku Melayu hanya satu di antara ratusan suku lain di Indonesia. Sebagaimana halnya Dayak, Tionghoa, Maluku, Flores, dan lain-lain. Belum lagi suku-suku pedalaman.

    Di Indonesia, perkawinan silang antarsuku — bahkan tidak jarang antaragama — itu terjadi. Misalnya antara Tionghoa dengan Jawa, Manado, atau Betawi. Jawa dengan Padang. Sedangkan di Malaysia mungkin hal ini bisa menjadi isu sensitif, karena satu suku mempunyai karakter yang ekslusif dan kebijakan diambil untuk menjaga dominasi etnis tertentu terhadap etnis lain.

    Berbicara Indonesia, berarti merujuk semua keragaman budaya tersebut yang tengah dan akan terus menjalani proses asimilasi sehingga menjadi sebuah bangsa dengan karakter tersendiri.

    Jadi, sesungguhnya tidak tepat jika kita mengidentikkan Indonesia dengan Melayu saja, meskipun memang pengaruh Melayu terahdap suku-suku lain sangat besar.

    Bung Azrul, jika Malaysia ingin berhubungan dengan Indonesia, konsekuensinya Malaysia juga harus membina hubungan dengan pelbagai ragam suku bangsa dan agama yang ada di Indonesia.

  40. @ Roes
    Esei saya ditulis dari sudut pandang kebebasan sipil. Dalam hal ini sukar disangkal bahwa Indonesia lebih berjaya daripada Malaysia. Anda boleh cek di mana letak Malaysia dalam hal demokrasi dan kebebasan dibanding Indonesia. Dan dengan modal kebebasan ini, semakin besar pula kesempatan Indonesia berjaya dalam hal lain kelak karena partisipasi rakyat semakin menguat.

  41. Bung Azrul,

    Bila anda ingin memunculkan idea bahwa dulu sebelum penjajah adalah kita bersatu,sebenarnya tidak bung.
    Penjajah datang di bumi nusantara,dikala ada banyak kerajaan-kerajaan lokal.Bila yang anda sebut itu Belanda & Portugis,Inggris,berarti pada abad 16 & 17,dimana ada kerajaan Demak,Banten,Ternate,Malaka,dll.

    Yang masing-masing punya tujuan untuk memperlebar daerah kekuasaannya,di Jawa saja ( Banten,Demak,Mataram) mereka ingin menjadi penguasa satu-satunya.Apalagi ketika Sunda Kelapa,salah satu port yang sangat strategis,sudah dilirik oleh penjajah untuk mengambil rempah2.

    Penjajah sengaja ‘bermain-main’ dengan penguasa lokal untuk mendapatkan rempah dan melakukan taktik pecah belah.Walaupun sebetulnya pada saat itu sudah pecah belah karena ingin saling berebut kekuasaan.So,mereka punya tujuan masing2.

    Baru,ketika 1908, pemuda di Indonesia yang memproklamirkan Kebangkitan Bangsa.Semua jong ( artinya pemuda ) berikrar untuk bersatu dalam INDONESIA.Karena sudah bosan akan tindakan penjajah di negeri nusantara.Mereka bernasib & bertujuan yang sama.

    Disini bung,bersatunya orang Indonesia dari Sabang (Aceh) sampai ke Papua.mungkin kalau saat itu ada “jong sabah”,”jong trengganu”,”jong singapura”,..akan benar kesimpulan anda bahwa dulu kita pernah bersatu.

    Artinya,Malaysia tidak mempunyai tujuan yang sama toh dengan Indonesia?

    Pendek kata,bagi saya melayu yang anda yakini sekarang adalah tidak mempunyai bagian yang sama dalam sejarah Nusantara.Mungkin bila anda tarik lagi berabad-abad ke belakang,ya benar : cuma ada Majapahit.

    Melayu anda bagi kebanyakan orang kita sekarang tak lain adalah orang-orang minangkabau,aceh,riau yang merantau,juga ada sedikit orang jawa,bugis dan batak.
    dan kemudian ‘meluas’ meliputi sabah & serawak.Yang setelah bertahun-tahun,mereka berevolusi menjadi:Malaysia.

    Dan orang kita tidak pernah meributkan hal itu.ya sudah lah.
    Saya toh tidak menafikan bahwa bahasa melayu adalah asal mula bahasa Indonesia.

    Dus,semangat persaudaraan yang anda katakan sudah semakin terpilah oleh kepentingan politik,ekonomi,sosial,budaya dan NEGARA.

  42. Saya hormati saudara2 semua yg ada di sini!Bukan maksud saya mau mengagungkan bangsa melayu sahaja!tapi pandangan saya org melayu berevolusi di malaysia sebagai bangsa yg berjaya mempertahankan tradisi&hak milik kaum bumiputera!Malah malaysia di contohi oleh banyak negara2 lain yg berjaya mempertahankan hak kaum peribumi dari dicemari oleh bangsa lain yg enak2 aja nak take over negara kami!Jadikan Singapura sebagai pengajaran!Org melayu hilang kuasa di tanah sendiri!Hingga terpaksa melepaskan Singapura di tangan bangsa asing!Jgn label Malaysia kejam&menindas kaum bukan peribumi!Mereka masih lagi dibantu&di beri kebebasan asalkan jgn menyentuh sensitiviti masyarakat peribumi@Bumiputera.Jikalau ini terjadi jelas2 main api di kampung orang!Mampus jawapanya!Jgn Lupa Malaysia masih tersenarai Dalam 10 negara yg aman&damai di dunia malah berkembang pesat ini semua terbukti dengan kepimpinan Malaysia yg bijak memerintah dan ingat mantan bekas perdana menteri kami Tun Dr.Mahathir Mohammad adalah pemimpin yg tersenarai sebagai 50 org bijak pandai di dunia.Ingat Bung Karno dulu pernah ingin bergabung dengan malaysia utk membentuk negara IndonesiaRaya@MELAYU RAYA!Tp atas2 dasar tertentu tdk kesampaian!Malaysia merdeka juga atas kebijaksanaan org melayu buat apa perang2 kalo masalah boleh selesai hanya dengan otak sahaja itulah tanda kebijaksanaan org malaysia!Sekali runding aja terus merdeka!Kalau kita terus mengamalkan sikap kutuk mengutuk!Ingat Apa Masalah2 yg Indonesia hadapi tidak pernah Malaysia tutup mata!Tetap di tolong!Jadi tidak ada Terima Kasih langsung ke dengan kami?Di beri Madu Dibalas Tuba!Astagfirullahazim

  43. Bung Azrul,

    Sudahlah,tak perlu naik darah untuk menanggapinya.Sila baca di http://article.melayuonline.com/?a=aW1xL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=

    Jangan menganggap kami ini bukan orang yang bermartabat,bila anda merasa selalu berbijaksana & memakai otak.

    lagi-lagi melayu,lagi-lagi melayu.Sudah saya tulis beberapa kali bahwa bangsa melayu hanya sebagian kecil dari bangsa Indonesia.Sungguh tidak akan bisa merepresentasikan keseluruhan Indonesia.Be realistic.

    Dan jangan merasa perlu membandingkan tentang cara kemerdekaan antara dua belah pihak,bila anda pernah merasa harga diri itu adalah segala-galanya.Ribuan bangsa pendahulu kami yang terbunuh,yang berjuang dulu hendak dikemanakan?

    Kalau anda sudah pernah merasakan tanam paksa,kerja rodi,diambil hasil bumi sebagai pajak ke bangsa penjajah,
    dibunuh,dihina & dicaci,maka bukanlah lagi hanya duduk berunding lantas kemudian mudah menjadi merdeka bung!
    lalu apa itu commonwealth country bung?

    Mula-mula posting anda,adalah hormati,
    tapi diujung kata: menyindir kami sebagai bangsa yang tak tahu terima kasih……..

    Bangkit & Maju terus Indonesiaku!

  44. Assalamulaikum pembuka kata!Sudah letih saya&semua member malaysia mengatakan kita negara serumpun&saudara!Tetapi di nafikan malah dicaci2 oleh saudara negara seberang!kami hanya mampu melihat ego&mulut besar jiran kami,sekarang kami tidak mahu mengulas apa2 lg!Biarlah kesedaran akan timbul juga di akhirnya!Lebih banyak bala kalau terus bersikap sedemikian!Ingat Malaysia negara yg menjadi nadi sektor pekerjaan di asia tenggara ini!Malah yg ke5 di Asia!Jgn pandang rendah sama bangsa Malaysia@melayu itu yg memimpin Malaysia Menjadi Harimau Asia yg terus menuju Kemajuan!Bukan hanya mundur&Tahu mengutuk&mengkritik orang sahaja!MAJUKAN DIRI DAHULU BARULAH KRITIK ORANG&INGATLAH BUDI BAIK SAUDARA KAMU BUKANYA CARI KEBURUKANYA SAHAJA!itu lah akhirkata drpd kami!Assalamulaikum

  45. Sudah la Azrul tak guna tulis panjang-panjang untuk orang Indonesia yang tak pernah paham perasaan kita. Mereka ni semua cuma pandai menulis di blog saja tapi realitinya rakyat Indonesia tu sendiri masih kekal miskin dan korup! Meminta-minta dari negara lain. Tulis la apa sekalipun, semuanya itu tidak akan sama sekali mengubah nasib Indonesia yang akan kekal korup dan miskin hingga kiamat! Buat penulis blog ini, lain kali kalau mau mengkritik negara lain, lihat dulu realiti di negara sendiri bukan main sedap tulis saja. Jangan bermimpi di siang hari!

  46. @Azman
    Sedikit koreksi.
    1. Indonesia bukan negara miskin, tapi negara berpendapatan menengah, meskipun memang kemiskinan masih berkisar 17 persen dari populasi.
    2. Cobalah ingat dahulu negara Anda yang meminta bantuan ahli dan teknis buat membangun negara, dan “menyeimbangkan” populasi Melayu.
    3. Indonesia memang korup. Tapi korupsi di Malaysia adalah bagian dari sistem (Herald Tribune). http://www.iht.com/articles/2006/05/02/news/malay.php?page=1
    4. Saya menulis hal-hal yang positif dan negatif tentang Indonesia. Indoneisa memang banyak menghadapi persoalan, tapi jika dibandingkan dengan malayasia (dengan seperangkat faktor pembanding,misalnya kebebasan dan entis), Indonesia jelas lebilh berjaya 😀

Komentar ditutup.