Home

Din Syamsuddin kelihatan gusar. Ketua Muhammadiyah itu menganggap pemerintah terlalu memaksakan penetapan 1 Syawal 1428 kepada masyarakat. Tekanan pemerintah terlalu kuat sampai-sampai di beberapa daerah warga Muhammadiyah mendapat perlakuan diskriminatif. Di Majene, Sulawesi Barat, umpamanya, pemerintah kabupaten setempat melarang warga Muhammadiyah menggunakan Lapangan Prsammnya sebagai tempat pelaksanaan salat Id.

“Pemerintah terlalu ikut campur,” ujar Din. Permintaan Menteri Agama Maftuh Basyuni kepada warga yang mengakhiri puasa mereka pada Kamis petang untuk salat Id pada hari Sabtu, “Sama sekali tidak ada dasarnya dalam Quran dan Hadis,” tambahnya.

Maftuh Basyuni juga mengecam Jemaah An Nadzir — sebuah komunitas sekte minoritas Muslim di Sulawesi Selatan — yang salat Id pada hari Kamis. “Kalau mereka bermaksud mengacau, mereka akan berurusan dengan polisi!” tukasnya.

Sebelumnya, pada hari Rabu, Majelis Ulama Indonesia melalui media massa mengingatkan masyarakat akan fatwa No.2 tahun 2004 yang mewajibkan umat menaati ketetapan pemerintah tentang 1 Syawal.

Hari gini, masih ada penyeragaman? Caaape deh….

Saya memutuskan mengakhiri puasa saya Kamis petang. Saya salat Id Sabtunya karena pada hari Jumat tiada satupun penyelenggaraan salat Id terdekat di lingkungan saya.

Saya pikir, kalau astronomi modern mampu memperhitungkan kedatangan komet yang memasuki tatasurya dan mendekati bumi secara tepat dalam hal jarak dan waktu, semestinya penetapan 1 Syawal takkan berpolemik.

Dengan metode hilal, seandainya ada meteor yang bergerak menuju Jakarta, mungkin kota ini keburu luluh lantak sebelum para penduduknya diungsikan lantaran kehabisan waktu. Betapa tidak, keputusan baru diambil dengan keharusan mendapatkan fakta empiris terlebih dahulu.

Hanya guyon, jangan tersinggung.

* * *

Jangan salah sangka. Saya bukan jemaah Muhammadiyah. Tapi bukan pula Nadhatul Ulama. Bukan Sunni, juga bukan Syiah. Saya seorang Muslim, yang bersedia menerima tafsiran teks-teks Islam dari aliran manapun, selama itu mengumandangkan prinsip-prinsip universalia.

Saya salat Tarawih 11 rakaat, tapi bertahlil juga buat kawan dan kerabat yang wafat, pernah mengikuti kursus Islam yang diselenggarakan komunitas Syiah, ataupun pernah mempraktikkan Doa Kumail, dan terkadang menjamak salat.

Butir pentingnya, hendaknya kita tidak mengungkung praktik keberislaman kita pada satu cara pandang saja karena itu mempersempit batasan cakrawala kita tentang realitas. Cakrawala yang sempit menihilkan ruang dialog dan pada akhirnya menimbulkan fanatisme sektarian. Lebih parah lagi: konflik fisik. Lihat saja Irak dan Pakistan. Kelompok Sunni dan Syiah di kedua negara itu saling menebarkan dendam yang takberkesudahan dengan hancur-menghancurkan satu sama lain.

Di tengah serangan politik, budaya, dan militer oleh pihak asing secara intensif, egosentris sektarianisme semacam itu teramat menyedihkan. Bukankah lebih baik umat Muslim berpikir bagaimana bersama-sama membangun peradaban Islam yang baru, majemuk dan modern, serta menerima perbedaan-perbedaan remeh sebagai kenyataan?

* * *

Mendapatkan limpahan rahmat Tuhan selama Ramadan dan kesucian pada Idul Fitri memang bukan perkara gampang kalau tanpa kesungguhan. Tapi juga tidak sulit, karena terdapat banyak jalan mengarah ke sana.

Seorang sufi yang wafat mendatangi kawannya dalam mimpi.

Kawan itu berkata, “Wah, kamu kelihatan hidup senang di surga. Itu pasti lantaran amalmu, dan sumbangsih pemikiranmu yang luar biasa.”

“Bukan, bukan karena itu. Aku dimasukkan ke surga karena aku pernah tak mengusik seekor lalat yang hinggap di batang penaku, dan membiarkannya menghisap cairan tinta sepuasnya,” jawab sufi itu.

Seorang pekerja seks komersial dimasukkan ke surga karena memberikan minuman kepada seekor anjing yang kehausan dengan tulus dan penuh cinta.

Bukan amal-amal kita yang menyebabkan kita menginjak surga. Amal-amal manusia, jika dibanding dengan ganjaran surga, teralu kecil, taksepadan. Keberadaan manusia di jagat raya dibanding milyaran galaksi — yang tiap-tiapnya terdiri atas ratusan juta bintang — secara matematika bisa diabaikan karena mendekati nol, alias nihil, tidak ada.

Tapi Tuhan melipatgandakan amal-amal kita jutaan kali — atau mungkin jauh lebih besar daripada itu — karena Dia sangat menghargai kemanusiaan kita, keberadaan kita.

Itulah bentuk syukur Tuhan kepada manusia yang taat asas menebarkan kebaikan.

* * *

Ressa, keponakan saya itu masih usia sekolah dasar. Dia tengah berada di puncak semangat belajar main gitar. Ayahnya membelikannya sebuah gitar klasik mini yang cocok dengan ukuran tubuhnya yang kecil.

Suatu hari Ressa menelpon saya.

“Om To, aku nggak bisa menyetel senar gitarku…,” katanya dengan lirih. Memelas.

Trenyuh hati saya mendengar suara yang polos dan mengiba itu. Saya pun pergi ke rumahnya yang berjarak dua jam perjalanan dari tempat tinggal saya. Yang saya lihat, ada seorang anak kecil lugu ingin belajar segala hal dengan sungguh-sungguh. Hampir tidak mungkin saya lakukan perkara remeh-temeh ini kepada orang dewasa.

Kepolosan, keluguan, kelucuan anak kecil muncul karena mereka makhluk tanpa dosa, sehingga membangkitkan kasih sayang kita setiap kali kita memandang mereka.

Dengan pandangan kasih sayang semacam itu Tuhan melihat kita pada Idul Fitri ini setelah kerja keras kita mendekati-Nya selama Ramadan. Pandangan penuh cinta ini bertahan selama kita berupaya terus menghadirkan Tuhan dalam keseharian kita, dalam kegiatan-kegiatan kita.

Ketika bangun pagi, katakan bahwa kita bermaksud mengambil rezeki-Nya untuk memuliakan-Nya dan umat manusia. Sampaikan cita-cita duniawi dan surgawi kita.

Jika kita melihat keindahan, pujilah Dia. “Puji bagi-Mu Tuhan, yang menjadikan ciptaan-Mu ini nikmat dipandang.”

Bahkan ketika kita hendak bercinta, “Terima kasih Tuhan, Engkau memberikan rasa cinta yang memuaskan dan membahagiakan.”

Intinya, bicaralah kepada Tuhan kapan saja kita melakukan atau menanggapi sesuatu. Dengan demikian, Tuhan bakal selalu hadir bersama kita.

Mudah-mudahan berkah Tuhan menyertai kita selama bulan-bulan mendatang. Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin. God bless you all.

Iklan

16 thoughts on “Salat Id, Perbedaan, dan Kasih Tuhan

  1. oia maksudnya 1 Syawal 1428 H yah..?

    sebenarnya sih tetap beda ngak apa2, tapi pemerintah juga butuh mempersatukan metode menentukan waktu 1 Syawal, karena masyarakat sendiri yang akan bingung dan memberikan dampak yang tidak baik.

  2. Masalah agama tdk bisa disamakan dg masalah teknologi. 1 Syawal tdk sama dengan meteor.
    Ada sebuah hadits yg bermakna demikian, dahulu para Sahabat mengkawin silang pohon2 di kebun mereka kemudian Rasululloh mengetahui hal tsb dan berkata kpd mereka “Kenapa kalian tdk membiarkan saja!”, kemudian para Sahabat menuruti perintah Rasululloh. Ternyata hasil panen menjadi jelek. Mengetahui hal tsb Rasululloh berkata “Silangkan kembali tanaman kalian karena kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian”.

    Bertahun2 Rasululloh dan para Sahabatnya merayakan Idul Fitri ada kemungkinan mereka salah dlm menetapkan tanggal 1 Syawal krn hanya menggunakan penglihatan mata telanjang, kenapa tdk menggunakan jasa Malaikat?

    Idul Fitri = hari raya = hari orang banyak = hari semuanya.

  3. akibat kerjaan membeda hari raya ini, satu rumah, satu keluarga bisa beda merayakannya. Lalu apa manfaatnya?. Apakah jaman Nabi terjadi seperti ini?. Kami memang bertoleransi, tapi kejadian bertahun-tahun begini benar-benar membosankan dan tidak menyenangkan. Mudaratnya lebih besar dari manfaatnya. Hati kecil kami menginginkan keberasamaan. Kenapa dipisah-pisah dan bangga dengan pemisahan ini. Apakah hal seperti ini terjadi di jaman Nabi?.

  4. @ Arul
    Eh iya benar, 1428. Sudah saya koreksi. Terima kasih.

    @ Anas Fauzi Rakhman dan Agorsiloku
    Dibanding dengan awal kemunculannya, jumlah populasi umat Muslim saat ini sudah jauh bertambah, semakin majemuk, semakin menyebar secara geografis. Konsekuensinya, tafsiran atas teks-teks Islam semakin beragam dan waktu menjadi relatif. Peradaban manusia abad ke-21 telah jauh berkembang dan tidak sama dengan peradaban manusia pada abad ke-7. Mempraktikkan Islam secara tekstual (misalnya keharusan menerapkan metode hilal) sama saja mundur ratusan tahun. Hilal hanyalah sebuah metode. Jika ada metode yang lebih baik, lebih tepat, yang telah matang karena mengalami penyempurnaan selama ratusan tahun, mengapa kita tidak menggunakannya? Lantas pertanyaannya adalah, apakah metode hisab Muhammadiyah menggunakan prinsip-prinsip astronomi modern? Mungkin ada kawan Muhammadiyah yang bisa menjelaskan. Sampai sejauh ini saya tidak melihat keburukan dari perbedaan ini, kecuali kalau kita memang menganggap perbedaan ini sebagai keburukan. Biarkan Tuhan menilai keputusan setiap kelompok dengan nalar masing-masing. Betapapun kita ingin, mustahil umat Islam homogen secara totalitas. Yah, itulah realitas. Yang ingin saya katakan, substansi makna pengampunan Idul Fitri lebih penting daripada polemik penetapan 1 Syawal itu sendiri.

  5. Konsekuensinya, tafsiran atas teks-teks Islam semakin beragam dan waktu menjadi relatif. Peradaban manusia abad ke-21 telah jauh berkembang dan tidak sama dengan peradaban manusia pada abad ke-7. Mempraktikkan Islam secara tekstual (misalnya keharusan menerapkan metode hilal) sama saja mundur ratusan tahun.

    Prinsip inilah yg membuat begitu banyak perbedaan di dlm Islam, yg membuat Islam terpecah-pecah. Memahami Islam secara tekstual dianggap sebagai kemunduran.

  6. Dulu saat sy masih anak2 (sekitar 6-8 th), sering selesai ashar, mengaji disurau. Pak guru ngaji sering cerita-cerita. salah satu cerita yang sekarang masing ingat tentang tiga orang buta menceritakan tentang gajah.
    Tiga orang buta tadi berkumpul dan bercerita pengalamannya setelah tahu apa yang dinamakan binatang gajah.

  7. Sampe sekarang saya tetap bingung, kenapa sih nggak berkompromi aja pihak yang berbeda itu , sehingga menghasilkan tanggal yang sama. Toh ndak bakalan berpengaruh apa apa, atau masing-masing pihak merasa berdosa jika tidak mengikuti hasil hitungannya ya?

  8. saya juga stuju dengn mas danalingga, kenapa sih gunakan ego masing2. Itu mununjukkan diantara umat islam juga, udah saling pertahankan ego. Kalo tidak juga ngak mau kompromi, jangan menyalahkan pihak2 yang lain, dan merasa kelompoknya benar. Gimana mau bersatu umat islam? pantas aja mudah diadu domba. Mungkin ini jadi instropeksi dirilah…

  9. Yang sangat saya prihatinkan : Muhammadiyah menetapkan satu Syawal tanggal sekian, dan ditujukan pada kelompok Muhammadiyah. Syiar by group/kelompok dalam satu Islam itu amat aneh terdengar telinga. Mengapa perbedaan dalam satu Islam diperdengarkan tak habis-habisnya dengan alasan tekstual, kontekstual, atau apapun. Pembenaran untuk sepakat dalam ketidak sepakatan, as a result, pengalaman saya tidak nyaman karena keluarga satu dusun bahkan suami isteri bisa dipisah-pisahkan dengan alasan ini. Ini terasa begitu ego-nya.
    Mudah-mudahan kelak tidak ada Adzan dan dilanjutkan dengan ucapan, ini adzan untuk ummat Muhammadiyah (hanya contoh bahwa perbedaan bisa diperbesar-sebesarnya, demi rahmat, toleransi, dan pengertian tekstual, kontekstual, literal, atau apalah namanya).
    Andai dunia ini mundur 1428 tahun yang lalu, dan saya boleh memilih… saya ingin mundur ke sana…. bertemu dengan kerinduan ini…. 😀

    Semoga ada kearifan dari polemik yang sesungguhnya menjemukan banyak pihak.
    Teriring salam dan maaf atas catatan ini. Perbedaan adalah rahmat, maka perbesarlah rahmat ini dengan memperbesar perbedaan (logika aneh ya). Untuk selanjutnya, keep silent. Terimakasih untuk kesediaan memberikan catatan kembali untuk komentar ini. Nol derajat, 37 menit 31 detik, di atas ufuk.

  10. Soal penetapan Jadwal Idul Fitri, silakan berbeda pendapat. Namun saya berani jamin dengan itu Islam enggak akan bisa satu.

    Wong Hari Raya saja beda – beda…

    ——–

    Hohoho, ini menyentil Ustad dan Ulama yang kerjaannya berdoa di atas sajadah. :mrgreen:

  11. segala sesuatu yang ada dan telah terjadi adalah kehendak siapa ?
    lha wong beda kok bingung, katanya beda itu rahmat ? tapi kalo rahmat pasti beda lho, yang satu doyan opor ayam, yang satunya suka semur jengkol, lebaran kemarin aku suka… lebaran pertama aku dikirimi ketupat opor ayam, lebaran kedua aku dikirimi tapeketan uli, lebaran ketiga…. kalo boleh sih lebaran terus….

  12. Mohon maaf, saya bukan seorang muslim sehingga mungkin tidak kompeten untuk memberikan komentar. Tapi intinya saya setuju dengan beberapa rekan yang memberikan komentar di sini bahwa KEMAJEMUKAN adalah ANUGERAH yang sangat besar dari Allah kepada bangsa Indonesia.

    Di balik kemajemukan terdapat kekayaan berupa pemikiran, filosofi, seni, budaya dan adat istiadat yang luar biasa. Contoh yang mudah saja, karena kemajemukan kita bisa menikmati aneka makanan yang sangat nikmat dari berbagai daerah & etnis yang ada di Indonesia seperti empek-empek, soto betawi, gudeg, krecek, opor, lodeh, sayur asam, gado-gado, karedok, mi kocok, nasi jamblang, tahu gejrot, woku-woku, rendang, sop kikil, tahu balap, rujak cingur dll.

    Kita punya kekayaan seni dan budaya berupa pakaian daerah seperti batik dengan beragam variasinya (Lasem, Pekalongan, Cirebonan, Yogya, Solo, Bali, NTT dll), kebaya, baju bodo, baju kurung dll

    Kita punya segudang lagu daerah, tarian dan alat musik dari mulai yang mendayu-dayu hingga yang dinamis dari daerah Aceh, Batak, Riau, Minang, Jawa, Sunda, Bali, Dayak, Nusa Tenggara, Minahasa, Maluku, Papua dll. Sebagian dari lagu-lagu daerah kita bahkan digemari dan dipakai untuk promosi pariwisata oleh negara tetangga. Mestinya bangga dong ya, seni dan budaya hasil karya kreativitas bangsa kita dipakai oleh bangsa lain?

    Kalau sempat lihat di http://www.youtube.com ada rekaman video mahasiswa-mahasiswa asing dari Folkuniversiteit di Swedia yang sedang belajar menari poco-poco. Saya senang melihat mereka antusias menari poco-poco diiringi lagu nya Yopie Latul, namun sekaligus malu karena saya engga bisa menari poco-poco.

    KEMAJEMUKAN seharusnya menjadi modal berharga dari bangsa ini untuk maju, bukan untuk berkelahi di antara sesama anak bangsa yang hanya akan membuang waktu dan enerji yang tidak produktif.

    MAJULAH INDONESIA KU !

Komentar ditutup.