Home

Mengenang Ramadan semasa kecil membuat saya tersenyum. Buat anak kecil usia sekolah dasar seperti saya, itulah saat yang paling mengasyikkan dalam setahun.

Pada bulan ini banyak penjual petasan yang lewat di lingkungan perumahan kami. Mereka menjual beragam jenis petasan.

Saya ingat, ada petasan yang berbentuk bola putih kecil, kira-kira sebesar bola tetikus — atau mungkin lebih besar sedikit — dan jika dibanting ke tanah, dia akan meledak keras, serta menyebarkan asap dan bau mesiu. Kami menyebutnya “petasan banting.” Semakin besar diameter petasan banting, semakin kuat ledakannya. Tidak seru rasanya bulan puasa tanpa lempar-melempar petasan banting. Tujuannya, tentu saja buat mengejutkan ‘lawan.’ Dan jika lawan membalas, terdengarlah bunyi ledakan yang bersambut-sambutan dan asap pun mengepul di mana-mana. Mirip perang sungguhan. Keren!

Ada juga petasan silinder merah yang besarnya kira-kira seukuran baterei AA. Jika diselipkan sehelai lidi pada tepinya, kemudian dibakar sumbunya, jadilah dia roket mini yang secepat kilat meluncur terbang dan kemudian meledak keras di angkasa. Kami menyebutnya “Janwe.”

Janwe adalah petasan favorit saya, karena ia membantu saya mengejawantahkan imajinasi saya tentang roket luar angkasa, ataupun keganasan mesin perang. Kekuatannya luar biasa. Dengan ledakan yang berulang-ulang, ia mampu membelah sebilah bambu yang kokoh dan panjang. Dan jika dipendam di tanah, ia bisa menyisakan lubang kecil akibat ledakan. Kadang kami ‘beruji coba’ dengan menamam lebih banyak Janwe buat mendapatkan lubang yang lebih besar. Seru.

(Baru sekarang saya menyadari, yang kami lakukan dulu itu teramat-sangat berbahaya. Saya dengar, ada seorang anak yang salah satu jarinya putus karena ceroboh. Thank God, Engkau melindungiku!).

Malamnya, salat tarawih menjadi ajang kongkow anak-anak seusia kami. Seusai salat isya berjamaah, berbondong-bondong kami keluar dari masjid karena malas mendengarkan ceramah. Kami bisa bermain petak umat, benteng, atau permainan anak-anak lainnya, sampai panggilan memulai salat tarawih terdengar.

Yah, namanya juga anak kecil. Salat tarawih kami lakukan dengan senda gurau. Jika ada kawan yang kelihatan salat dengan sungguh-sungguh, kami berusaha membuat konsentrasinya buyar. Ada banyak cara untuk usil seperti meledek dengan muka lucu, ataupun menggelitik punuk teman dengan bulu kemocang. Teman yang berusaha tegar itu akhirnya cekikikan juga lantaran taktahan kegelian.

Nah, kalau sudah begini, orang dewasa turun tangan dan memarahi kami. “Jangan bercanda, mengangu orang yang salat!” kata mereka sambil mendelik gusar.

Kami pun diam sesaat, untuk selanjutnya bertindak konyol lagi.

Itulah gambaran pemaknaan Ramadan buat kami sewaktu kecil. Ramadan tidak lebih dari sebuah penyeragaman ritual ketimbang pengalaman spiritual. Akan tetapi, jika sampai saat ini kita menjalani Ramadan dengan kekosongan, berarti kita belum beranjak dari mental kekanak-kanakan kita.

Memang sukar kita melepaskan diri dari arus popular yang menjadikan Ramadan sebagai “tradisi pantangan massal ini.” Pengusaha justru melihat Ramadan sebagai peluang komodifikasi buat melipatgandakan laba dan mendorong masyarakat berperilaku semakin konsumtif. Mereka bilang, minumlah multivitamin ini supaya badan tidak gampang sakit. Berbukalah dengan mi cepat saji ini. Minum minuman berenergi ini. Jangan lupa teguk obat mag sebelum dan sesudah sahur. Saksikan sinetron Ramadan ini (meskipun temanya takjauh-jauh dari kisah cinta muda-mudi). Tonton komedi ini menjelang sahur dan berbuka. Saksikan pentas musik Ramadan oleh kelompok band atau penyanyi anu. Acara wartapelipur (infotainment), ataupun sinetron yang alurnya sengaja dilur-ulur dan dikelok-kelok pun (agar mengeruk keuntungan iklan lebih banyak dan lebih lama) sampai-sampai disesuaikan dengan “semangat Ramadan.”

Beramai-ramai orang membeli pakaian baru, buka puasa dengan kerabat, teman, atau rekan kerja di mal-mal, restoran-restoran mahal ataupun di hotel-hotel mewah menjadi ritus tahunan karena para pengusaha membuat maklumat di media massa bahwa ada potongan harga khusus “hanya Ramadan ini.”

Fenomena itu terjadi karena kebanyakan manusia beranggapan bahwa materi adalah realitas mutlak, dan oleh sebab itu ia kebenaran final. Prestasi atau pencapaian tertinggi seseorang diukur dari seberapa jauh segala unsur kebendaan yang ia kuasai.

Lantas orang bergegas mencari harta sebanyak-banyaknya. Kepuasan adalah kepuasan badani, sedangkan keindahan adalah keindahan pancainderawi.

Orang berusaha mencapai standar gaya hidup materialisme yang tinggi dengan upaya mengkonsumsi barang dan layanan terbaik. Mereka mendatangi pusat kebugaran atau perawatan tubuh supaya dapat mempertontonkan kualitas badani dan kapital mereka, dan berupaya tampil sebagai “sang pemenang.” Bersenang-senang, melampiaskan segala hasrat dengan makan, minum, pesta, dansa, cinta, ataupun hubungan badan. Kebanggaan, harga diri memuncak jika mereka mampu memperlihatkan pakaian yang bagus, ponsel terkini, mobil mewah, apartemen, atau rumah yang megah. Sebagian orang sangat menderita jika takmampu mencapai hal ini.

Cara pandang sebelas bulan itulah yang mendominasi pikiran kita selama ini. Di sinilah Ramadan datang untuk membalikkan paradigma kita, bahwa yang esensi bukanlah materi, tapi jiwa. Sebab, badan tidak kekal, karena entropi selalu bertambah seiring mengalirnya waktu: materi berproses menuju kekacauan, ketidakberturan. Segala benda bakal lapuk. Tubuh terus menua. Kekuatan dan kegagahan anak muda akan berganti dengan kelemahan dan kebergantungan semasa uzur. Alam semesta kelak hancur.

Sebaliknya terjadi pada jiwa. Jiwa adalah fungsi dari proses pembelajaran dari tahun ke tahun. Dia semakin dewasa, matang, dan bijak dan berevolusi menuju kesempurnaan. Dia tidak lekang waktu karena dia melampaui ruang dan waktu: dia sudah ada jauh sebelum badan ini ada. Jiwa dan badan bak kerja sama antara pengemudi dan kendaraan mencapai tempat tujuan. Badan mengantarkan jiwa, tapi jiwalah yang menentukan arahnya. Boleh dibilang, badan adalah wadah jiwa yang tengah berproses menuju kesempurnaan. Kelak, jiwa kembali menyatu dengan Tuhan secara layak

Ali Syariati mengatakan, jiwa mempunyai sifat-sifat malaikat, dia mengajak kita menuju langit. Badan mengandung unusr-unsur tanah, dia mendorong kita ke dasar bumi. Langit adalah tempat yang mulia, sedangkan tanah; hina. Penyabar, pemaaf, penyantun, penolong, penderma, dan adil adalah perilaku penghuni langit. Pemarah, pendendam, penindas, kikir, tamak, dan lalim adalah perangai badani. Oleh sebab itu, jangan sampai badan justru memperhamba jiwa. Lepaskan sedikit demi sedikit jiwa kita dari kebergantungan terhadap badan.

Salat, misalnya, merupakan salah satu usaha melepaskan jiwa dari kergantungan terhadap benda. Kita berkata dalam doa kita, “Tuhan, hidup dan matiku hanya untuk Engkau!” Hakikatnya, kita menyangkal dunia.

Zikir pun bentuk penyangkalan terhadap keduniaan. Ketika kita berkata, “Segala pujian hanya milik Tuhan,” pada dasarnya kita bersaksi, bahwa puji-pujian duniawi tidaklah hakiki. Semu.

Begitu juga puasa. Dengan menahan lapar dan dahaga, jiwa kita melepaskan diri dari kebergantungan terhadap badan. Dominasi, dan kekuasaan badan selama sebelas bulan kita lemahkan di bawah kendali jiwa.

Meskipun begitu, sekali lagi, berbuka puasa adalah bentuk pengakuan bahwa dalam proses menuju kesempurnaan jiwa, kita membutuhkan energi, badan yang sehat agar mampu mengantarkan jiwa menuju perbaikan yang berkelanjutan, karena kita manusia, bukan malaikat.

Akan tetapi, Ramadan juga mengajarkan kita membantu orang lain agar mereka ikut merasakan proses pembelajaran jiwa sebagaimana kita alami. Agar proses pembelajaran jiwa kita beresonansi dengan jiwa orang lain.

Zakat dan sedekah adalah contohnya. Dengan zakat dan sedekah kita berusaha mengkondisikan fisik mereka agar mampu menjadi medium bagi perbaikan jiwa mereka. Namun, di sisi lain, pada saat yang bersamaan, zakat dan sedekah juga merupakan tindakan memerdekakan jiwa kita sendiri dari kebendaan. Di sini kitalah yang menentukan sampai sejauhmana materi itu kita eksploitasi untuk kepentingan diri kita sendiri, sehingga kita bisa melepaskannya tanpa khawatir atau merasa kehilangan. Kita tuan bagi diri kita sendiri.

* * *

Seorang sahabat berkata, “Gue kepingin mati di Mekkah,” katanya.

Buat penganut paham kebendaan, tentu itu keinginan bodoh. Itu hanya mungkin berlaku pada orang yang frustasi karena terpinggirkan dalam kompetisi dunia.

Semakin sukar dipahami bila yang mengucapkan itu orang yang tengah berjaya, saat dunia berada di genggamannya. Dia rela meninggalkan kekayaan, anak dan istrinya karena ingin segera menuju Tuhan (tentu dengan bertanggung jawab).

Justru manusia semacam ini berhasil mengatasi kesemuan materi dan mencapai esensi. Hasrat menuju langit semacam ini takkan bisa dimengerti apalagi dirasakan oleh kebanyakan orang yang berorientasi pada kebendaan. Dia bahkan tidak berminat menukar cakrawalanya (totalitas pengetahuan dan kesadarannya) dengan seluruh kekayaan Bill Gates (ataupun orang termakmur di dunia saat ini).

Itulah hakikat spiritualitas Ramadan. Tentu saja, kita tidak perlu berlaku seekkstrim itu, terutama kalau belum siap. Yang terang, Ramadan mengajak kita memperkokoh jiwa, dan menjadikan kita seorang sufi, paling tidak satu bulan ini saja. Mampukah kita menangkap semangat itu? Setelah itu, sah saja kita berkompetisi mencapai puncak kebendaan tertinggi dengan catatan bahwa kebendaan itu kita jadikan modal bagi penyempurnaan jiwa kita dan jiwa orang lain.

Iklan

One thought on “Main Petasan, Cekikikan Saat Tarawih, dan Spiritualitas Ramadan

Komentar ditutup.