Home

Pengalaman saya masuk rumah sakit sungguh menggugah sekaligus mengubah kesadaran saya tentang banyak hal. Pertengahan Juli 2005, sekitar magrib, saya terpaksa dirawat inap karena demam tinggi akibat tifus yang pada gilirannya menganggu fungsi hati. Tetapi, bukan itu intinya. Saya ingin berbagi kisah, betapa manusia bisa terbaring lemah, takberdaya lantaran pelbagai penyakit gawat.

Duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang perawat, masuk ke kamar rawat inap untuk kali pertama, saya merasa terguncang. Ada seorang pasien yang bahkan untuk buang air kecil pun sengsara bukan main. Saya tidak melihat wajahnya karena ada tirai yang membatasi kami. Namun, saya bisa mendengar dan menafsirkan gerak-geriknya. Setiap beberapa menit ia harus buang air kecil melalui pispot dibantu oleh seorang pria penunggu yang sepertinya anggota keluarga intinya.

Kira-kira waktu itu pukul 9 malam. Beberapa kali seorang perawat, atau mungkin seorang petugas kebersihan, datang, dan dengan nada yang terdengar tidak sabar memberikan panduan kepada Pak Ali—demikian nama pasien itu— buang air kecil dengan “cara yang benar” sehingga tidak membasahi seprai berulang kali.

Saya tidak tahu persis apa penyakit Pak Ali, yang dari suaranya seperti berusia akhir 50-an, atau mungkin 60-an. Tapi, dari pembicaraannya dengan perawat, saya menangkap bahwa Pak Ali bakal menghadapi operasi yang serius besok: ginjal. Sebelum jam besuk berakhir, ia dikunjungi beberapa kerabatnya. Saya sempat mendengar, seorang perempuan di antara mereka, terisak-isak, tak tega menyaksikan keadaan Pak Ali. Perempuan itu meminta Pak Ali memikirkan kesembuhannya saja alih-alih keluarga yang ia tinggalkan.

Ketika saatnya pasien tidur, kegiatan Pak Ali yang buang air kecil berkali-kali dan gerakan pertolongan sang penunggunya itu menyebabkan saya tidak bisa tidur. Saya pun menekan bel, memanggil seorang perawat dan memintanya dengan berbisik agar memindahkan saya ke kamar lain yang tenang. Sambil membopong infus, saya bergerak pindah ke kamar 762 dipandu perawat itu. Namun, ingatan saya tentang penyakit Ali membuat saya merinding. Seandainya saya yang mengalaminya, apa saya sanggup menanggungnya?

Pagi harinya, saya baru tahu bahwa beberapa pasien di kamar itu pun sakit parah.

Seorang bapak tua bersuku Sunda—saya lupa namanya—yang sudah bercucu dan bercicit menderita tumor di paru, sehingga terbatuk terus-menerus sambil mengeluarkan darah. Terus terang, itu mengganggu kenyamanan istirahat saya walaupun saya prihatin dengan penyakitnya. Istrinya yang juga sudah uzur, menungguinya dengan penuh kasih dan sabar, tapi tiga malam ini dia tidak bisa tidur karena penyejuk udara terlalu dingin baginya. Padahal, dengan usia setua itu, dia pun bisa jatuh sakit lantaran kurang istirahat. Ketika saya matikan pendingin udara, esok malamnya, akhirnya ibu tua itu bisa tidur nyenyak.

Pak Tua itu—sekitar tujuh puluhan—menikah pada usia muda. Kini dia memiliki keluarga besar multisuku yang silih berganti menjenguknya, sehingga kamar 762 ini pada setiap jam besuk meriah dengan cerita-cerita tentang pengalaman para anggota keluarga besar mereka dalam logat Jawa, Sunda, dan Betawi. Kedengarannya lucu. Kehadiran mereka itu ditujukan buat menghibahkan dukungan moril bagi Pak Tua agar tabah menjalani endoskopi esok hari. Setelah endoskopi keluarga besar itu bersikeras kepada dokter agar Pak Tua diizinkan pulang dan berobat jalan saja. Keinginan mereka terkabul. Sehari kemudian Pak Tua pulang.

Ada seorang pemuda belasan akhir atau awal 20 tahunan berbaring di dipan seberang tempat tidur saya. Dia menderita demam berdarah, penyakit yang menewaskan ribuan penduduk negeri ini setiap tahun. Dari logatnya, jelas dia bukan orang Jakarta. Dari penunggunya saya maklum dia berasal dari sebuah kota di Jawa Tengah. Dia yang termuda di antara kami, para pasien di kamar 762. Empat hari sudah ia menginap di kamar ini. Dia pula yang kelihatan paling pulih. Ketika dokter melakukan kunjungan harian dan membicarakan penyakitnya, pemuda itu mengutarakan kecemasan hatinya kepada orang yang tidak tepat itu, “Saya tidak akan mampu membayar ini semua.”

Sepertinya, bagi pemuda itu, ruangan berpendingin udara serta layanan makanan pokok tiga kali sehari dengan menu yang beraneka dan bergizi, variasi buah, ditambah makanan dan minuman di antara saat makan, juga senyuman ramah para perawat muda akhir belasan tahun yang sebagian besar imut-imut, adalah fasilitas mewah. Padahal, ini cuma ruangan rawat inap kelas tiga.

Akan tetapi, sepertinya rumah sakit ini berpengalaman menangani situasi semacam ini. Taklama kemudian, sekitar siang menjelang petang, anak itu dan penunggunya berkemas pulang dengan mengisi sebuah formulir. Mungkin surat keterangan tidak mampu. Empat hari untuk demam berdarah, rasanya terlalu pendek untuk pemulihan, meskipun memang dia taklagi diinjeksi selang infus dan kelihatan sehat. Setelah dipannya kosong ditinggalkan, saya minta perawat memindahkan saya ke sana karena suasananya terasa lebih privat.

Dua hari kemudian, seorang pasien baru asal Palembang, menempati bekas dipan Pak Tua yang terletak tepat di samping jendela. Dia tidak terlihat seperti pesakit, karena untuk usianya yang 60-an, dia terlihat kokoh dan gagah, meskipun saya menangkap pembicaraan dari kejauhan, dia harus menjalani kemoterapi yang efeknya menyakitkan untuk beberapa waktu sesudahnya.

Seorang lagi, pria 60 tahunan, yang tergolek di seberangnya dan juga menyebelahi jendela, ditemani istrinya yang setia. Sebenarnya mereka sudah ada di kamar 762 semenjak saya masuk ruangan ini. Trombosit pria itu menurun, dan tampaknya ada masalah serius pada paru-parunya. Dia pensiunan Pertamina yang pada masa mudanya gemar berolah raga, sehingga dia masih kelihatan bugar dan sepuluh tahun lebih muda. Selain itu, dia gemar sekali bergurau, dan becakap-cakap dengan pasien lain. Karakternya bertentangan sekali dengan saya yang lebih suka diam, formal, dan individualis, sehingga kadang-kadang saya terganggu dengan tawa dan suara keras obrolan mereka. Bisa jadi, ia bermaksud menghilangkan perasaan tertekan pada dirinya dan pasien lain.

Pasien asal Palembang hanya menginap dua hari, sesudah kemoterapi dia pulang. Pak Marzuki, pasien baru yang menempati bekas dipan saya, kini memindahkan pembaringannya ke dekat jendela. Usianya 57 tahun, tapi terlihat seperti 65 tahunan. Dia menderita kanker getah bening. Dia tidak tampak tertekan, tidak juga terlihat takut.

Saya bercakap-cakap dengan Pak Marzuki setelah selang infus saya dicabut dan keadaan saya lebih baik. Dia bilang, dia pasrah dengan penyakit akibat tubuh menuanya ini. Dia ikhlas. Dia kini sekadar menunggu kematian dengan memperbanyak ibadah dan berbuat baik.

Pak Marzuki berasal dari Langsa, sebuah kota di Aceh yang perekonomiannya bergantung kepada Sumatera Utara. Dia berbicara tentang situasi Aceh, penyebab seperatisme Aceh, Gerakan Aceh Merdeka, Hasan Tiro, dan perundingan Helsinki. Dia memberikan cakrawala baru tentang Aceh dan orang Aceh.

Saya suka berbicara dengan Pak Marzuki, lantaran pemahamannya tentang spritualisme selaras dengan jiwa saya. “Zikir bukan hanya berarti menyebut-nyebut nama Tuhan,” katanya. Mengatasi ego kita dengan berkorban melapangkan kesulitan orang lain secara ikhlas, juga suatu bentuk zikir, tambahnya. Selain itu, orang sakit yang berzikir di pembaringan karena keterbatasan dengan tulus, lebih baik tingkatannya di mata Tuhan daripada orang sehat yang lalu lalang di jalan, tapi melalaikan salat, katanya lagi.

Akan tetapi, yang menyedihkan, ada seorang pasien yang divonis takkan lama bertahan hidup oleh dokter internis. Dia Pak Jati, usia saya perkirakan akhir 39 tahunan atau awal 40 tahunan. Pak Jati mengisi pembaringan kosong di samping dipan saya di hari ketujuh saya di rumah sakit ini. Dia tampak kokoh dan gagah. Namun, siapa sangka pria itu bisa terkena kanker hati, penyakit yang menyengsarakan dan amat-sangat serius. Kata dokter, biaya operasi sangat mahal, dan belum tentu berhasil, apakah dilakukan di Indonesia ataupun di luar negeri. Pak Jati kelihatan sangat tertekan dan menderita. Dia sukar makan ataupun minum, karena cairan kanker dari hatinya mendorong makanan apapun yang ditelannya keluar. Jadi, dia bergantung kepada cairan infus yang mahal itu untuk memperoleh energi.

Malam itu setelah vonis dokter, dalam tirai biru yang membatasi kami, istrinya datang menghampiri saya, menangis tersedu-sedu, sambil meminta maaf karena mengganggu ketenangan saya. Dia menangis untuk suaminya yang sakit parah dan biaya rumah sakit yang mahal. Untuk memperpanjang hidup, Pak Jati harus menjalani sedot cairan yang setiap hari. Biayanya Rp350.000 per hari. Belum lagi operasi kanker yang harus dilakukannya. Bayangkan, bisa puluhan juta rupiah, mungkin malah ratusan, untuk usaha penyembuhan yang belum tentu berhasil itu.

Di sini saya bersyukur, Tuhan memberikan saya kemudahan: saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun lantaran biaya rawat inap ditanggung sebuah perusahaan asuransi yang dilanggan perusahaan tempat saya bekerja. Saya juga bersyukur, meskipun memang cukup serius, penyakit saya tidaklah separah yang lain. Saya masih punya—atau setidaknya Tuhan masih menganugerahkan—kesempatan hidup lebih panjang dan kesehatan yang lebih baik.

Curahan hati istri Pak Jati itu membuat saya ikut berduka. Namun, apa daya? Meskipun begitu, saya sesungguhnya menemukan keberuntungan yang ada pada Pak Jati: dia memiliki istri penolong, dan anak-anak berbudi. Mereka semua menyayanginya, merawatnya dengan sepenuh hati, dengan sabar dan cinta.

Pengalaman saya yang dekat dengan liang kubur itu menginsafkan saya bahwa pada dasarnya manusia makhluk yang rapuh. Betapa berada, berpengaruh, ataupun gagahnya seseorang, bila penyakit-penyakit mengerikan ini menimpa, kekayaan, pengaruh, ketampanan, dan kegagahan menjadi tak berharga. Artinya, kesehatan memang amat-sangat mahal, melampaui apa pun.

Pada dasarnya tiada apapun dari ego manusia yang bisa dibanggakan, dipertahankan mati-matian, apalagi diangkuhkan. Kegagahan, kekuatan, dan kesehatan sewaktu muda pasti akan berangsur-angsur digantikan dengan kerapuhan dan segepak penyakit menjelang tua. Kepintaran, kecendekiaan, boleh jadi lenyap sekejap ketika, misalnya, tiba-tiba saja kita terkena stroke. Kekayaan pun takkan dibawa mati. Ia bisa musnah lantaran sebab-sebab apa pun yang bisa saja muncul tanpa disangka-sangka.

Begitu kondisi saya membaik, saya megerjakan salat normal pertama pascarawat inap dengan penuh syukur di samping pembaringan. Saya merasa dilahirkan kembali. Saya berjanji berusaha mengisi hidup dengan lebih baik dan mudah-mudahan bisa mengakhirinya dengan baik.

Mungkin kutipan syair nasyid Raihan berikut bisa menggambarkan keadaan manusia sebenarnya.

Demi masa sesungguhnya manusia (mengalami) kerugian
Melainkan (orang) yang beriman dan beramal saleh
Demi masa sesungguhnya manusia (mengalami) kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran

Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan karena ia takkan kembali

Ingat lima perkara sebelum lima perkara
Sehat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati

Iklan

One thought on “Pasien-pasien Kamar 762

Komentar ditutup.