Home

Gue udah salat istikarah tiga malem berturut-turut,” kata Basuki. “Semalem gue mimpi didatengin Fauzi Bowo. Dia minta bantuan gue sambil cium tangan gue.”

Dia percaya, mimpi itu pertanda. Maka, dia bilang, “Gue ‘milih Fauzi Bowo.” macet-banjir.jpg

Basuki, orang biasa memanggilnya Uki, adalah seorang ustad sekaligus pemilik warung makan “Bang Uki” di kawasan Kemang Selatan. Betawi asli, 37 tahun. Dia ustad dalam arti sebenarnya: pernah mengenyam pendidikan tinggi agama setingkat sarjana di pesantren, mengisi khotbah Jumat, dan mengajarkan agama.

Namun, dia menjalankan perannya dengan santai. Tiada terbebani citra ustad yang berwibawa dan dingin, sering dia mengguyonkan seksualitas secara asosiatif tanpa kesan mesum. Takjarang para pelanggannya mencurahkan isi hati kepadanya tentang masalah-masalah kerja atau keluarga. Uki bersedia menjadi pendengar yang baik untuk itu. Itulah nilai tambah warung makannya bagi para pelanggan: kekuatan empati sang pemilik warung.

Toh dia tetap dihormati di kampung ini. Ya, kampung. Warung Bang Uki terletak di pemukiman penduduk yang sejatinya kampung Betawi, jauh sebelum Kemang menjadi kawasan niaga kosmopolitan yang ramai. Tetapi, berbeda dengan perkampungan di kota besar yang umumnya padat penduduk, rumah-rumah di sini besar, modern, dan tertata rapi. Penduduk kampung ini memiliki hubungan darah satu sama lain. Ikatan kekompakan di antara mereka terjalin kuat meskipun mereka juga terbuka terhadap para pendatang.

Di kampung ini Uki mendirikan sekolah agama cuma-cuma bagi warga setempat. Sebenarnya, beberapa tahun lalu, dia pernah bekerja sebagai manajer dengan gaji tinggi di sebuah perusahaan mebel. Tapi, dia memutuskan keluar dan mengabdikan ilmu agamanya kepada umat. Lantaran pengabdian ini, dia menjadi salah satu tokoh yang berpengaruh dan dihormati. Tidak heran, para tim sukses kandidat gubernur berdatangan, berusaha mengambil hatinya.

Persoalannya, tentu saja bukan cuma memilih siapa, tapi siapa saja yang berada di belakang para kandidat, dan apa konsekuensinya.

Fauzi Bowo, umpamanya, jelas-jelas harus ikut bertanggung jawab atas Jakarta yang salah kelola, jorok, amburadul, tidak sehat. Sebab, dia juga menggenggam pemerintahan ibukota bersama Sutiyoso. Dalam kurun sepuluh tahun, kawasan hijau seperti Senayan, Kebayoran Baru digadai menjadi perkantoran atau pusat perdagangan. Gila benar, masakan tata kota diubah-ubah seenak dewe?

Pasar adiswalayan diberi izin berdiri di mana-mana sehingga menghancurkan pedagang kecil dan tradisional.

Kawasan Semanggi di pusat kota dibikin plaza? Jelas saja, Jalan Sudirman dan Gatot Subroto macet setiap sore.

Tidak ada transportasi cepat massal untuk dua belas juta warga kota. Bus khusus—busway—tidak nyaman sebagaimana mereka janjikan, tapi melelahkan. Jumlah armada sengaja dibatasi “demi efisiensi.” Akibatnya, penumpang berdesak-desakkan pada setiap jam sibuk.

Wilayah potensi banjir semakin meluas. Sampah menumpuk di mana-mana. Saluran air mampet. Udara kotor terhirup akibat gas buang kendaraan umum yang dibiarkan keluar begitu pekat. Tiada uji kelayakan emisi bagi kendaraan umum yang sudah renta… dan sebagainya, dan sebagainya….

Hidup di Jakarta—terpaksa atau tidak—benar-benar terasa sesak, pengap, lelah, tersiksa, memuakkan. Capeee deh…

Jika Fauzi menang, saya yakin, takkan banyak perubahan di Jakarta. Memilih Fauzi Bowo sama saja membiarkan keadaan ini terus berlaku, karena ini berarti juga memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang berada di sekitar dia, yang sedikit banyak orang-orang sama yang pernah mengurus Jakarta selama ini, apakah aparaturnya, ataukah kalangan pengusaha yang dekat dengannya.

Lantas bagaimana dengan Adang?

Adang disokong oleh Partai Keadilan Sejahtera, partai politik yang berawal dari pergerakan Islam yang telah bergiat semenjak 1980-an. Awalnya bukan gerakan politik, tapi budaya. Mereka menyebutnya Tarbiyah (pendidikan). Di era Suharto mereka bergerak di bawah tanah dan menggandakan diri melalui sistem sel. Mereka menanamkan kebanggan kepada komunitas mereka untuk menampakkan simbol-simbol Islam. Jilbab, sebagai contoh, pada era Suharto sampai awal 1990-an, oleh rezim bisa dianggap sebagai ekspresi sektarian yang anti-sosial, nyeleneh, menyimpang. Akan tetapi, dengan semakin tumbuhnya gerakan Tarbiyah, jilbab menjadi cara berpakaian yang wajar. Keberhasilan gerakan budaya ini memang patut diacungi jempol.

Pada tahun 1999, pada saat Orde Baru mengalami krisis kepercayaan, mereka menampakkan diri dengan jumlah massa yang besar, menempatkan kaki di belakang Amin Rais yang mengomandoi gerakan reformasi, dan ikut menumbangkan Presiden Suharto. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) adalah salah satu perpanjangan tangan gerakan mereka di ranah politik. Mereka juga memiliki penerbitan seperti Ummi (untuk ibu), Annida (remaja), Tarbawi (kajian Islam).

Butir pentingnya, mereka bekerja sungguh-sungguh. Tapi di sisi lain, mereka taksegan meminggirkan orang lain jika mereka anggap tidak sesuai dengan ideologi mereka.

Dulu, misalnya, saya pernah mendapat panggilan wawancara kerja di Dompet Dhuafa (sebuah lembaga penggalang zakat, infak, sedekah). Setelah melontarkan pertanyaan umum, sang pewawancara bertanya, “Anda ikut pengajian?”

Pengajian yang dia maksud adalah “pengajian Tarbiyah,” semacam indoktrinisasi ideologi yang ditanamkan dan disebarkan melalui sistem sel. Rupanya itu ukuran moral lembaga ini untuk menentukan seseorang sejajar atau tidak dengan mereka.

“Tidak,” jawab saya.

“Lantas, bagaimana Anda menjaga keimanan?” tanya pria berjanggut itu lagi dengan nada tajam.

Pertanyaan itu sebenarnya sangat pribadi: itu hubungan antara saya dengan Tuhan, bukan dengan dia atau mereka. Dan dia tidak perlu tahu. Maka, jawaban-jawaban saya datar saja. Saya mengatakan, saya membaca Quran setiap Ramadan dan mendengarkan ceramah A’a Gym di televisi.

Tapi rupanya jawaban itu tidak memuaskan pewawancara.

Baiklah, itu hak mereka menentukan kriteria seleksi. Mungkin Dompet Dhuafa yang dikuasai Tarbiyah itu merasa tidak cocok dengan orang sekotor saya. Atau sebaliknya, mungkin lembaga ini memang tidak baik buat saya. Hanya saya bayangkan dalam konteks yang lebih luas, apakah mereka bisa menerima atau bekerja dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka? Saya pikir, akan banyak orang yang dipinggirkan secara semena-mena.

Uki sering bertutur dengan senewen, betapa di kampungnya mereka juga mencela perayaan Maulid, karena mereka anggap itu biddah (mengada-ada), kultus terhadap Nabi Muhammad.

Elu ngerayain ulang taun. Tapi masa kagak buat Nabi lu sendiri buat nunjukin rasa hormat? ” tukas Uki ketika berdebat dengan mereka. Dia gusar, dan menganggap penafsiran komunitas Tarbiyah terhadap Islam dangkal.

Ideologi Tarbiyah memang dipengaruhi Wahabbisme, yaitu gerakan Islam pada abad ke-19 yang bertujuan memurnikan ajaran Islam. Hanya saja, takjarang gerakan ini berbenturan dengan tradisi Islam lokal yang lebih dahulu mengakar. Ingat, penyebaran Islam di Indonesia, sebagai contoh, berjaya setelah melalui proses adaptasi dengan budaya setempat, sehingga kita mengenal, umpamanya, tradisi selamatan dan tahlilan.

Ideologi tanpa kompromi ini membuat orang-orang tradisionalis seperti Uki tidak nyaman berhadapan dengan mereka, terutama saat membentur wilayah praktik keagamaan di kampungnya. Nah, di sini mimpi Bang Uki boleh jadi benar untuk konteks dirinya. Mungkin itu semacam ungkapan rekaman bawah sadarnya.

Gue kagak ‘milih siapa-siapa, Bang,” ujar saya setelah berhasil menelan makanan ke kerongkongan.

Namun, saya berharap lima tahun mendatang, calon-calon bebas dapat bersaing dengan kandidat yang diusung partai-partai politik. Pada saat itu saya berharap bisa menemukan orang yang benar-benar pas buat mengelola Jakarta.

Iklan

6 thoughts on “Memilih Gubernur Jakarta, Bang Uki Istikarah

  1. Assalamualaikum wr wb
    Jangan Golput dong…
    Jujur aja saya pendukung Adang-Dani.
    Kader2 PKS memang berasal dari sejumlah organisasi/Jema’ah Islam, jadi dalam hal pilihan syariah bahkan prilaku lain kadang masih dipengaruhi oleh organisasi tsb. Seperti yg anda ceritakan masalah maulid, apalagi faham wahabiah, kok rasa2 nya gak seperti itu ya yg dikembangkan. Itu barangkali oknum aja kali …
    Tapi dalam hal firqah dan target gerakan, mereka insya Allah seiring kok …
    Allahu ghoyatuna …
    Prioritas mereka sekarang [menurut saya] adalah menjalarkan masalah : kejujuran, kemauan berbuat baik, team-work dan mengumpulkan kekuatan untuk itu. Jadi hak yg macam2 sperti isu compaign black dari kubu Foke.
    Ma’af, saya mempengaruhi dan mendoakan anda cs untuk tidak golput dan memutuskan berjuang bersama teman2 PKS utk Jakarta dan Negeri yg lebih baik. Amin.

    Wassalam

  2. assalamualaikum…kalo saya sich gak golput, udah ada pilihan di hati ini, tapi sayang seribu sayang, sang “pilihan” itu gak satupun tersedia…mungkin udah kehabisan stok kalee…wassalam

  3. Manusia mana ada sih yg sempurna.
    Hemat saya pilih aja yg paling sedikit kejelekannya.

    Saya bukannya ingin mempengaruhi anda tapi kita bisa berhitung secara logis, setiap partai pastilah menuntut kontribusi kepada calon yg ia dukung apa bila calon itu menang.
    Jika calon itu didukung oleh banyak partai maka ia akan lebih sibuk memberikan kontribusi kapada semua partai yg mendukungnya akhirnya kontribusi kepada masyarakata akan jauh berkutang dan semakin diabaikan.
    Tak ada salahnya bila kita memilih calon yg didukung oleh sedikit partai sehingga kontribusi kemasyarakat bisa lebih besar.

    Jika kita ber-ijtihat dengan pertimbangan yg baik maka bila keputusan itu nantinya benar maka kita mendapatkan dua pahala, tetapi jika nantinya salah kita sudah dapat satu pahala.

    cobalah berfikir sehat dan jauhi hal2 yg ga masuk akal (spt wangsit)

  4. kalo gw mah ntar tinggal nyiapin duit logam..satu sisi bwt Adang..satu sisi yg laen bwt Foke..trus gw lempar & tergantung jatuhna pas sisi yg mana, itu yg gw cobloz 😛

    kalo ga ada koin..paling pake ngitung kancing baju..
    kalo ga ada kancing baju..paling ngitungin suara tokek..
    kalo ga ada suara tokek..paling nungguin wangsit ajah dari mbah Maridjan!

  5. Golput??? No Way. Yang gak ada kumisnya..itu yang paling keren. kumisan???? gak jaman kalee. gak keren. dan……kalo kita lihat, FOKE kan dah diberi kesempatan jadi wakil gubernur, tapi….hasilnya mane??? Rekor pemberantasan korupsinya aje gak ade, apa yang harus dibanggakan dari FOKE??? katanya sih, ahli tata kota, tapi…mane buktinya???? jakarta tambah macet, tambag banjir, tambah kumuh..tambah segalanya.

  6. *mbaca*

    *sok ngambil kesimpulan*

    Yang satu produk lama, dikhawatirkan berefek tak jauh beda.
    Yang satu produk baru, riskan, walau sungguh-sungguh, terkadang bercorak holier-than-thou.

    Apa begitu?

    Wah, maaf nyampah. Orang Jakarta bukan, pemilih apalagi 😛

    “There’s no point in asking, you’ll get no reply
    Oh, just remember: I don’t decide!
    I got no reason, it’s too all much
    You’ll always find us– out to lunch

    Oh we’re so pretty, oh so pretty vacant…”

    The Sex Pistols – Pretty Vacant

    Hidup golput…? 😛

Komentar ditutup.