Home

Beberapa hari setelah lebaran, seorang adik kelas, mengirim email kepada saya:

Mohon maaf lahir batin. Minal aidzin wal faidzin. Apa kabar, Jun? Sekarang saya berada di Bukittinggi, kampung saya dan keluarga. Kesempatan ini saya manfaatkan buat menyegarkan kembali diri saya yang tercemar oleh Jakarta. Mencari ketenangan alam. Tetapi, kenapa ya, saya tidak juga merasa tenang? Padahal saya sudah salat, puasa, dan membaca Quran. Bersenang-senang pun tidak bisa. Hati saya tidak tenang. Terbayang oleh saya bagaimana nanti seandainya saya bekerja, di mana, berapa gaji saya… dan sebagainya.

Saya tengah mengalami krisis jatidiri menjelang usia ke-22 tahun ini. Apakah kamu bisa membantu, Jun? Saya mencoba kembali kepada agama. Namun, agama hanya menawarkan janji-janji surga dan neraka. Saya malah ketakutan. Pikiran saya tak dapat rileks. Dapatkah kamu memberikan jalan keluar, Jun? Please Jun, I really need your help.

Surat elektronik itu sejenak membuat saya tertegun, karena sebenarnya apa yang menggelisahkannya pun menggundahkan pikiran saya. Saya bahkan lebih tua beberapa tahun daripadanya, namun belum dapat lepas dari persoalan-persoalan itu. Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan menggugah kesadaran saya. Seakan-akan Allah tengah memerintahkan saya agar menemukan sendiri bagaimana memecahkan persoalan yang juga tengah saya hadapi itu.

Setelah merenung sejenak, saya mencoba membalas email teman saya itu, dan mulai menulis.

“Teman saya yang baik, sebenarnya kita menghadapi persoalan yang sama. Saya sendiri memikirkannya sedari dulu, sekarang, dan mungkin juga kelak. Dari perbincangan dengan seorang sahabat saya menyimpulkan bahwa ketenangan sebenarnya merupakan persoalan bagaimana rasio kita mempengaruhi, atau mengendalikan hati. Menurut saya, rasio cenderung berpikir rasional, logis, dan mempertimbangkan faktor-faktor, atau variabel-variabel yang kita punyai atau yang ada di sekitar kita, guna menjelaskan fenomena-fenomena masa lampau dan sekarang serta memprediksikan fenomena-fenomena yang akan akan terjadi pada masa mendatang.

“Adapun hati, ia melampaui dimensi ruang dan waktu, seringkali hati bersikap irasional, namun kerapkali pula ia terbukti benar jika kita melakukannya. Kebanyakan orang Barat cenderung menafikan hati karena mereka beranggapan kebenarannya tidak dapat diverifikasi. Agama-agama Timur seperti Budha dan Hindu sebaliknya, mengajarkan pemeluk-pemeluknya mengutamakan penguatan hati melalui meditasi, yoga, dan sejenisnya. Mereka percaya hati yang bersih dan sensitif dapat menyatukan manusia dengan alam. Bahkan mereka beranggapan alam adalah perwujudan Tuhan itu sendiri—sehingga dengan hati yang bersih mereka dapat bertindak dengan harmoni dengan alam, atau mengikuti keinginan Tuhan. ‘Aku adalah Tuhan,’ kata seorang sufi yang merasa dirinya telah menyatu dengan Tuhan—terlepas dari perdebatan mengenai hal ini.

earth-in-void-of-space.jpg

“Sedangkan Islam menyeimbangkan rasio dan hati. Kita diperintahkan bertindak rasional, tapi sekaligus diingatkan agar mengasah hati kita. Banyak ayat dalam Quran menyuruh kita ‘berpikir,’ misalnya. Atau, ‘bertebaran mencari rezeki.’ Tapi ada pula ayat yang meminta kita ‘mengerjakan salat dan membaca Quran di penghujung malam,’ atau mengingatkan kita agar ‘menjadikan sabar dan salat sebagai penolong.’ Dua kutipan terakhir mungkin kedengaran lucu bagi orang Barat yang didominasi paradigma positivisme. Tapi, memang begitulah cara Islam menekan sekaligus menyeimbangkan dominasi rasio terhadap hati.

“Persoalan yang kamu—dan saya juga—hadapi adalah, rasio masih mendominasi hati. Kamu sangat rasional, sehingga pertimbangan-pertimbangan faktual yang kamu tengah pikirkan mengkhawatirkan kemampuanmu sendiri. Rasiomu yang rasional-logis tidak yakin bahwa kamu dapat bertahan di tengah persaingan kerja.

“Saya akui, saya sendiri belum bisa melepaskan dominasi rasio, karena saya kadang-kadang khawatir seandainya hati mendominasi jiwa, saya tak akan mempunyai punya daya juang mencari peluang, berkreasi, dan berpikir.

“Hanya saja, ketika rasio — dengan pertimbangan-pertimangan rasional dan logisnya—menyimpulkan bahwa kita TIDAK MUNGKIN bertahan, atau MUSTAHIL mencapai apa yang kita inginkan, bisa jadi itu akan membuat jiwa kita lelah, lemas, putus asa, dan menyesali hidup. Kita mungkin menyesali dilahirkan sebagai kita. ‘Seandainya aku terlahir kembali, aku ingin menjadi ….,’ khayal kita sambil mengingat-ingat seorang tokoh idola, atau orang yang kita anggap sukses secara sosial, ekonomis, atau genetis—menurut ukuran positivisme. Meskipun, tentu saja, kalau kita terlahir kembali dengan ‘aku’ yang kita inginkan, kita akan mempunyai ribuan persoalan baru yang berbeda dengan ‘aku’ yang dulu, yang juga akan membuat kita gelisah.

“Sebagian muda-mudi Jepang yang merasa bahwa mereka telah gagal, dan akan selamanya gagal, memutuskan harakiri. Begitu pula dengan orang-orang lain yang juga positivistik (walaupun mungkin mereka tak menyadari bahwa mereka positivistik) mengakhiri hidup mereka dengan tragis karena rasio mereka berkata, ‘Tak ada peluang bagimu. Impossible. Peluangmu 0%.’ Maka, mereka pun menyerah pada nasib.

“Di sinilah Islam mengisi ketidakberdayaan rasio. Islam menyuruh kita mengasah hati agar kita bersedia, rela, ikhlas, dan mampu mengembalikan kekuatan maksimum rasio yang pada akhirnya tak berdaya kepada Tuhan, karena hanya hatilah yang mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dibaca rasio. Menurut Islam, hati yang bersih memang dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Hati yang bersih dapat membuat Tuhan ‘lebih dekat daripada urat nadi di leher kita.’ Cara hati bekerja adalah MEMPERCAYAI, dan MEYAKINI, sedangkan rasio bekerja dengan MEMBUKTIKAN. Kepercayaan dan keyakinan diasah melalui apa yang telah sudah kamu kerjakan—salat, puasa, qiro`ah. Hati yang terasah dengan baik akan menghasilkan kepasrahan dan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan berdusta akan janji-janji-Nya, semumpama ‘berdoalah, pasti akan Aku kabulkan,’ sehingga manusia tidak putus asa meskipun 99 kali mengalami kegagalan. Karena, ia terus berharap bahwa keberhasilan pada akhirnya akan ia capai—mungkin pada kali yang ke-100, 1000 atau bahkan 10.000! Intinya adalah pasrah, tawakal, but never stop hopping, jangan berhenti berharap.

“Sebaliknya, dengan hati yang terasah pula, kalaupun rasio meyakini bahwa probabilitas keberhasilan kita adalah 99%, kita tidak akan menjadi terlalu percaya diri, atau angkuh, karena hati kita akan memperingatkan bahwa yang 1% tetap merupakan peluang yang mungkin terjadi. Dan seandainya terjadi, hati tetap tabah lantaran meyakini bahwa terdapat peluang-peluang lain yang lebih baik yang belum terlihat secara kasat mata, atau ditangkap rasio. Firman Allah, ‘Yang terbaik menurut rasiomu, belum tentu baik buat dirimu.’

“So my friend, saran saya, cobalah kamu mengalir seperti air, mengikuti suara alam dan menyatu dengannya, dan jangan menentangnya. Seimbangkanlah rasio dengan hatimu. Saat salat, dan puasa, dan qiro`ah adalah waktu yang tepat buat mengasah sensitivitas hati. Saat yang tepat buat mengikis dominasi rasio—itu yang membuatmu tidak tenang dan seolah salat dan puasamu tak berpengaruh apa-apa buatmu selama ini. Caranya ya dengan itu tadi: pasrah, tawakal, but never stop hopping.

“Maanfatkan kesempatan berlibur di Bukittinggi yang sejuk dan indah itu. Cobalah duduk bersandar pada sebuah pohon yang rindang di tempat yang tinggi sembari menyaksikan keindahan pemandangan kota Bukittinggi sementara angin bertiup sepoi-sepoi. Tariklah napas dalam-dalam. Rilekskan dan pasrahkan dirimu dengan melemaskan seluruh otot-otot persendian. Matikan rasio sejenak saja. Katakan pada dirimu, ‘Saya pasrah kepada Allah, saya pasrah kepada Allah.…’ Ucapkan itu berkali-kali sampai badan benar-benar lemas, pasrah, dan rileks. Insya Allah jiwamu akan menjadi lebih tenang.

“Saya akui, saya pun tengah berusaha melakukan semua yang saya utarakan di sini. Agak sulit, tapi mungkin akan lebih mudah jika ada teman berbagi. So let’s do it together, brother!

“Teman saya, ketakutanmu terhadap agama itu disebabkan oleh bayanganmu bahwa Tuhan itu mengerikan: Allah yang Maha Pengazab, Allah Yang Maha Penyiksa. Sebaiknya kamu mengingat pula bahwa Allah itu Maha Pemaaf, Mana Pengampun, Maha Penyayang, Mahalembut, Mahakasih, Maha Mengabulkan Doa, Maha…, Maha… dan seterusnya yang positif, atau setidaknya netral. Bagi saya, Tuhan itu juga Maha Humoris, karena menciptakan banyak kelucuan di dunia.

“Insya Allah, dengan mengingat sifat-sifat itu kamu akan mempunyai bayangan yang lebih positif, atau menyenangkan mengenai Tuhan. Surga dan neraka adalah konsekuensi logis atas perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Tapi, saya sependapat dengan sufiwati Rabiah al Alawiyah bahwa tujuan hakiki kita bukan surga, tapi Allah.

“Ingatkah kamu doa Rabiah mengenai surga dan neraka? Rabiah justru meminta Tuhan agar menjauhkannya dari surga, jika ia beribadah lantaran hanya menginginkan surga. Karena, yang ia inginkan hanyalah Allah das ding an sich. Pendek kata, jika kamu ingin kembali ke fitrah, kembalilah, bukan karena takut neraka, tapi kembalilah kepada tempat jiwa kita berasal, yaitu Allah.

“Saudara saya yang saya cintai, pertanyaanmu amat menggugah, sehingga sekaligus merupakan jawaban bagi kegelisahan saya sendiri. Well, semoga kamu terus bertanya-tanya sehingga semua kegundahan kita terungkapkan dan terjawabkan.”

Saya membaca email saya sekali lagi, kemudian saya mengklik ikon ‘Send’ sambil mengucapkan bismillah. Semoga jawaban saya bisa memberikan pencerahan bagi adik kelas saya yang tengah gelisah itu

Jakarta, 8 Januari 2002

Iklan

6 thoughts on “Hati, Rasio dan Ketenangan Jiwa

  1. Adik kelas mas, mungkin menderita quarter life crisis. Berat memang, tapi perhatian dari seorang sahabat sudah merupakan jawaban atas semua kegundahannnya.

  2. hallo kawan ya saya juga pernah mengalami perasaan seperti itu ,dan saya rasa semua orang yg perduli akan dirinya atu kenali dirinya atau merasakan perasaannya ya itu lah hidup my friends ,atas bawah ,besar kecil ,kaya miskin,kiri kanan, siang malam , dan semua itu kita perlukan my friends .untuk pergi ke atas kita harus mulai dari bawah ,dan untuk ke bawah harus mulai dari atas .dan untuk pergi ke kanan kita harus mulai dari kiri untuk ke kiri kita mulai dari kanan .dan untuk besar kita mulai dari kecil untuk kecil mulai dari besar ,dan begitu seterusnya ,untuk bahagia lawanya gak bahagia,untuk pintar lawanya bodoh untuk tenang lawanya gak tenang, dan semua itu kita perluka .untuk memilih satu diantara dua pilihan yg selalu ada , dan berbahagia lah saudara yg sudah pernah merasakan keduanya dan setelah itu anda tingal pilih mau yg mana .dan dia akan selalu berputar di antara dua pilihan karna begitu lah bumi ini .siang malam siang malam dan siang malam .sekarang anda tigal pilih siang atau malam kalau pilih siang malam anda istirahat dan tidur,dan siang bagun lagi .begitu juga tenang dan gak tenang. ok my friends

  3. Saya juga pernah mengalami hal seperti itu
    Pada intinya jangan berhenti berharap & berdo’a, Sesungguhnya Allah akan memberi yang terbaik & terindah pada waktunya, itulah yang saya alami sendiri.

Komentar ditutup.