Home

Menteri Parawisata Malaysia Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor murka. Artikel wartawati SCTV Nila Tanzil berjudul “Malaysia Toursim Board, Dissappointing” di blog maverickid.blogspot.com dikutip oleh harian bahasa Inggris terkemuka di Malaysia, The Star. Dalam artikelnya, Nila Tanzil mengungkapkan bahwa kinerja Dewan Parawisata Malaysia menghambat kerja profesionalnya sebagai jurnalis.

Ia menceritakan, Dewan Parawisata Malaysia mengundang 190 wartawan dari seluruh dunia untuk menyaksikan pembukaan Festival Floral 2007. Festival ini bagian program kampanye “Kunjungi Malaysia 2007.” Dari Indonesia, 17 wartawan dari 10 media massa — 7 cetak, 3 stasiun televisi — mengikuti undangan 5 hari melawat di negeri jiran (tanggal 25-30 Januari). Nila Tanzil sendiri mewakili SCTV bersama Anca Leksmana (produser) dan Bambang Triyono (kamerawan).

Nila Tanzil berharap, dengan undangan resmi dari pemerintah Malaysia itu, ia bisa mendapat pengalaman melancong yang menyenangkan dan mudah. Akan tetapi, alangkah kecewanya ia, karena di tempat-tempat yang mereka kunjungi, “kami sama sekali tidak boleh mengambil gambar apapun!” tulisnya. “Sebagai jurnalis TV, apa artinya keberadaan kami di sana jika tidak boleh merekam gambar apapun?”

Ungkapan kekecewaan Nila di blog Maverick ini menggemparkan Malaysia. Sampai-sampai Menteri Parawisata Adnan merasa perlu membela diri dengan mencela para peblog sebagai “pembohong.”

Menurut Adnan, dari 10.000 peblog yang menganggur, 8.000 di antaranya wanita. “Mereka suka menyebarkan desas-desus,” tukas Adnan. Pernyataan pukul rata ini mendapat kritik dari aktivis perempuan setempat karena sangat bias gender, sehingga ia meralat bahwa yang ia maksud adalah “para peblog Indonesia.”

Perwakilan Dewan Parawisata Malaysia di Indonesia lalu menegur SCTV. Setelah itu, SCTV membatalkan perjalanan Nila ke Makassar sebagai pembawa acara “Melancong Yuk!” Tidak ada status resmi tentang dirinya. Kontraknya diputus.

Pemerintah Malaysia memang begitu gusar dengan keberadaan blog. Di Malaysia kepemilikan media massa dikuasai oleh partai nasional yang menggenggam status quo selama berdekade, sehingga blog menjadi sumber informasi alternatif. Menteri Penerangan Datuk Seri Zainuddin menyokong usulan agar semua blog wajib didaftarkan. “Jika media utama Malaysia didata, diawasi, dan dikenai aturan hukum, mengapa hal yang sama tidak bisa dilakukan juga pada blog?”

“Harus ada aturan hukum yang mengungkapkan identitas mereka,” katanya kepada para wartawan Malaysia. “Mereka pembohong jika menyembunyikan jati diri mereka ketika bicara soal politik.”

Sang Menteri menyerukan agar media Malaysia tidak mengutip informasi dari blog atau menjadikannya sebagai sumber informasi karena itu desas-desus belaka. Menurutnya, kebanyakan blog adalah aksi provokasi oleh para jurnalis frustasi dan cendekiawan yang politis.

Kasus Nila Tanzil dan ketakutan rezim status quo di Malaysia, dan negara-negara otoritarian lain, menunjukkan bahwa blog telah benar-benar mewujudkan diri sebagai media informasi alternatif yang sangat berdaya, ‘sang pengancam kemapanan.’

‘Blog’ sendiri adalah kependekan dari ‘weblog.’ Istilah ini kali pertama digunakan oleh Jorn Barger pada 17 Desember 1997. Barger menggunakan istilah ‘weblog’ untuk menyebut kelompok situs web pribadi yang selalu diperkini secara terus-menerus. Situs ini juga memuat pranala-pranala ke situs-situs lain yang menarik bagi pemiliknya disertai pendapat-pendapat mereka sendiri tentang situs-situs itu.

Kata singkat ‘blog’ diciptakan oleh Peter Merholz ketika iseng-iseng ia memecah kata ‘weblog’ menjadi ‘we blog’ di blog pribadinya Peterme.com. Gurauannya ini ternyata cepat popular dan diadopsi kalangan peblog, sehingga terciptalah kata kerja baru ’to blog’ dalam bahasa Inggris yang artinya “menyunting blog seseorang, atau mengirim artikel ke sebuah blog.”

Tadinya sebuah blog hanyalah catatan perjalanan atau daftar pranala yang disukai pemiliknya, kini blog menjadi kumpulan komentar yang kritis dan ekspresif. Di sinilah blog menjadi semakin personal lantaran kandungannya berasosiasi dengan karakter penulisnya seperti minatya, hobinya, apa yang dia pikirkan dan kerjakan, ataupun tanggapannya terhadap sebuah isu. Perbedaan blog dengan buku harian (diary) adalah bahwa blog sengaja dibuat untuk dibaca dan dinikmati orang lain secara online.

Pada awalnya jumlah blog tidak seberapa, karena untuk membuat sebuah blog dibutuhkan pengetahuan khusus tentang pembuatan situs dan web hosting. Akan tetapi, pada tahun 1999 perusahaan teknologi informasi Pyra Lab meluncurkan layanan blogger.com yang memungkinkan siapapun dengan pengetahuan dasar HTML dapat mencipta blog sendiri secara online dan gratis. Jumlah blog bertambah secara dramatis. Topiknya bermacam-macam mulai film, politik, kesehatan, olahraga, seks, dan lain-lain. Bisa dibilang, seorang peblog adalah seorang wartawan, penulis, atau editor yang bekerja secara mandiri dan bebas, tanpa harus diselia siapa pun.

Salah satu blog yang berhasil dari segi publikasi maupun partisipasi warga adalah OhmyNews. OhmyNews adalah blog kepunyaan Kim Soung Su, seorang doktor filsafat Korea Selatan lulusan Universitas Essex Inggris. Di blognya Kim menulis ratusan ulasan tentang film dan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. Kim ingin OhmyNews memberikan pilihan sudut pandang bagi rakyat Korea Selatan tentang pelbagai isu di negara itu. Dia yakin, muda-mudi Korea Selatan butuh variasi informasi selain yang dicekoki media massa arus utama.

Tanpa disangka, OhmyNews mampu mempengaruhi keputusan warga dalam pemilihan presiden pada tahun 2002 di Korea, karena di negara itu, 7 dari 10 pemilih berusia 20 sampai 40 tahun dan 90 peratus di antaranya adalah pengakses Internet.

Kim menerapkan prinsip “setiap warga negara adalah wartawan.” Semua orang, tidak harus berlatar belakang wartawan, boleh menulis di blognya. Keterlibatan warga di blognya meningkat, dari 727 penulis awam pada awalnya, menjadi 35.000 penulis sekarang. Mereka berasal dari pelbagai profesi seperti dosen, polisi, mahasiswa, pengusaha, ibu rumah tangga, yang menulis 80 peratus kandungan blog. Adapun penulis tetapnya kini 53 orang, 38 di antaranya wartawan penuh dan editor yang saling berganti tugas, sedangkan 15 orang menangani penyuntingan secara khusus.

Popularitas sebagai jurnalisme partisipatif mampu mendorong OhmyNews menghasilkan pendapatan 500.000 dollar Amerika per bulan dari iklan. OhmyNews memuat hampir semua jenis rubrik sebagaimana media massa arus utama, tapi blog ini selalu mengangkat berita dengan penekanan salah satu titik sudut pandang. OhmyNews, sebagai contoh, cenderung anti-korporasi, anti-pemerintah, dan anti-Amerika Serikat.

OhmyNews telah mematangkan konsep jurnalisme warga (citizen journalism). Ide dasar jurnalisme warga adalah setiap warga awam tanpa keahlian jurnalistik dapat memanfaatkan teknologi global untuk turut mengumpulkan, melaporkan, menganalisis, menyebarkan berita, atau bahkan mengoreksi artikel media massa utama yang bias pada blog mereka.

Lingkup praktik jurnalisme warga tidak harus berskala nasional, tapi bisa juga lingkungan tempat tinggal. Rapat rukun tetangga, umpamanya, bisa saja dicatat atau direkam melalui kamera tangan, kemudian dikirim ke blog atau situs rekaman video semacam Youtube.

Perkembangan blog telah melampaui ide kebebasan berpendapat dan menyebarkan penerangan yang biasa disebut dalam kontsitusi negara-negara demokrasi. Dalam konteks tradisional abad ke-20 pasal ini mengandung makna “kebebasan berwirausaha dalam bidang media massa dalam bentuk korporasi” lantaran kebebasan ini hanya bisa benar-benar dinikmati oleh kalangan yang punya banyak kapital. Dan pada kenyataannya, jika Anda tidak memiliki modal, jangan harap Anda didengar secara massal, karena Anda tidak punya medium yang kuat atau berpengaruh untuk mengutarakan perasaan atau pikiran Anda.

Dalam pandangan Marxisme ortodoks—yang mebosankan, tapi tajam—selalu saja orang yang menguasai infrastruktur komunikasi (semisal percetakan, stasiun televisi, radio, film) adalah kelompok kelas tertentu dalam masyarakat yang dekat dengan kekuasaan, sedangkan informasi dirancang dengan tujuan mengamankan privilese, atau hak-hak istimewa mereka.

Media massa arus utama, sebagai contoh, tidaklah sepenuhnya membuat berita yang ‘kritis, tajam, aktual, dan terpercaya,’ jika berita itu menuding langsung kepentingan ekonomi-politik mereka sendiri. Katakanlah pandangan Marxisme itu nyata terjadi, maka kehadiran blog telah menantang struktur kepemilikan alat-alat komunikasi abad ke-20.

Blog menghadiahi semua orang kesempatan sama untuk menawarkan wacana, sudut pandang alternatif atas fenomena tertentu. Peblog adalah orang yang bebas dari tekanan-tekanan korporasi atau kekuasaan ketika membuat tafsiran atas sebuah peristiwa.

Bandingkan dengan Nila Tanzil yang pada akhirnya dibebastugaskan lantaran tekanan pemerintah Malaysia terhadap SCTV. Di sini terlihat ada konflik orientasi antara peblog yang terbuka (Nila Tanzil) dengan SCTV sebagai korporasi yang ingin memastikan bahwa pemasukannya dari klien berjalan tetap lancar di masa depan. Pada media massa konvensional bermodelkan korporasi, logika bisnis adalah ideologi utama, sedangkan Nila Tanzil sebagai pekerja berada di bawah tekanan itu.

Akan tetapi, di sisi lain, perkembangan blog yang mampu menerabas batasan-batasan struktur jurnalisme tradisional (modal, pendidikan, keahlian, kesempatan, peluang) memunculkan pertanyaan baru.

Pertama, sampai sejauh mana para peblog mampu mempertanggungjawabkan fakta dan tafsiran fakta yang ia perlihatkan dalam blognya.

Kedua, apakah seorang peblog yang menjalankan aktivitas jurnalisme warga, diperlakukan sama dengan seorang civic journalist yang melakukan kerja jurnalistik tradisional? Apakah aturan-aturan hukum (misalnya Undang-undang Pers) juga berlaku kepada dirinya?

Di Indonesia, blog Priyadi.net pernah menjadi ajang perang pribadi antara Priyadi sebagai peblog dengan Roy Suryo yang mengklaim diri sebagai pakar telematika. Legitimasi dan delegitimasi terhadap posisi masing-masing berjalan dengan keras. Di sinilah, seorang peblog harus bijak berucap jika tidak ingin terkena pasal-pasal pencemaran nama baik KUHP. Sebab, peblog tidak masuk sebagai subyek Undang-undang Pokok Pers yang lex specialis.

Oleh sebab itu, tuduhan rezim status quo bahwa peblog tidak punya kredibilitas membuat informasi haruslah disambut dengan tanggung jawab peblog terhadap setiap kata yang mereka tulis. Penulis blog memang tidak harus obyektif sebagaimana dituntut kepada para wartawan media konvensional lantaran dengan gaya bertuturnya saja peblog sudah menunjukkan posisinya yang subyektif.

Lagipula, pada kenyataannya, bagi media konvensional sekalipun, mustahil bisa menghasilkan berita yang sungguh-sungguh obyektif. Selalu ada sudut pandang pribadi, bahkan meskipun itu dalam kerangka teknis seperti pilihan pengambilan gambar, kosa kata, ataupun narasumber. Tapi, paling tidak, seorang peblog harus mampu menunjukkan bahwa fakta yang ia maksud itu ada, meskipun ia bebas mengepaknya dalam kemasan apa pun.

Bisa jadi sebagai bentuk ekpresi belaka, atau usaha eskapisme dari gugatan gurita yang menguasai struktur hukum dan keadilan, seorang peblog mengirim tulisan secara anonim, membuat fakta atau tafsiran yang provokatif.

Akan tetapi, para peblog harus membangun kredibiltas blog mereka sebagaimana media massa konvensional membangun kepercayaan orang terhadap mereka, sedangkan anonimitas menghilagkan kredibilitas. Kecuali jika blog itu memang dimaksudkan sebagai propaganda, pada akhirnya khalayak yang cerdas yang akan menilai benar-tidaknya.

Bahkan jika sebuah blog dibuat dengan maksud menyebarkan berita bohong atau rumor, kita tidak perlu khawatir. Sebab, berita bohong justru gampang menyebar pesat di sistem-sistem informasi tertutup seperti Malaysia sebagaimana Indonesia di masa lalu.

Sebaliknya, pada sistem komunikasi terbuka, masyarakat mempunyai banyak penimbang untuk menentukan apakah informasi itu benar atau tidak. Mereka bisa menarik konsistensi dari pelbagai macam informasi secara logis untuk dijadikan sebagai cara pandang akhir terhadap dunia.

Pendek kata, boleh dibilang blog adalah bentuk baru media massa masa depan yang takterbendung. Di masa depan, menulis blog bakal menjadi kebiasaan sehari-hari setiap warga pada masyarakat demokratis. Ia pun akan menjadi ciri masyarakat madani yang mapan. Di masa depan pula, jurnalisme bakal menjadi pelajaran wajib bagi anak-anak sekolah dasar, sehingga membuat blog dengan kualitas jurnalisme bermutu menjadi standar yang umum.

Iklan

2 thoughts on “Fenomena Blog Takterbendung

  1. walaah, sctv kok tega amat ya sama wartawannya sendiri. Dept Pariwisata Malaysia bukannya minta maaf, minimal klarifikasi, eh malah spertinya menekan SCTV. pake ngatain blogger indonesia ga btanggung jawab lagi….kurang assemmm … grrr…

    Lagian SCTV kok mau aja didikte o/ Dept Pariwisata Malaysia… ckckck…

    mdh2an blog indonesia bisa terus jadi sumber informasi alternatif buat kita2 yang haus kebenaran.

Komentar ditutup.