Home

Kabar itu bak petir yang menggelegar di siang bolong. Abdullah Gymnastiar, atau biasa dipanggil A’a Gym, seorang ulama terpandang, tiba-tiba saja memaklumatkan pernikahan dengan istri keduanya pada awal Desember lalu.

Pernikahan itu telah berjalan tiga bulan dan serta merta memunculkan perdebatatan publik tentang kualitas nilai tindakan poligami: bermoral atau tidak. Para istri kaget, gelisah, resah, khawatir suami mereka bakal mengikuti jejak Gymnastiar. Dengan murka mereka mengirim pesan singkat (SMS) yang mengutuk tindakan Gymnastiar. Mereka juga mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertindak. Sampai-sampai SBY merasa perlu memanggil Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta untuk membicarakan kemungkinan mengeluarkan peraturan untuk mengekang hasrat para lelaki berpoligami.

Terlepas dari itu, poligami pada dasarnya merupakan salah satu bentuk budaya patriarki yang dominan di tanah air. Sejauh ini ia dipraktikkan, dan secara bisu dibiarkan, atau disetujui oleh sebagian masyarakat. Isu ini mengemuka karena pelakunya adalah seorang ulama yang sangat popular, merakyat, dan berpengaruh. Maka, gemparlah seluruh negeri.

Abdullah Gymnastiar memang selama ini dianggap sebagian orang sebagai idola, tokoh panutan bapak atau suami teladan. Majalah Time bahkan menggelarinya “holy man.” Masyarakat jatuh hati padanya lantaran gaya khotbahnya yang kalem, lembut, humoris, dan sederhana, menyentuh hal-hal yang dekat. Berbeda dengan para penceramah lain yang dipanggil “ustad,” atau “kiai,” ia memposisikan diri sebagai “A’a,” sebutan dalam bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti abang, atau kakak laki-laki.

Abdullah Gymnastiar tidak punya jabatan politik atau jabatan publik. Namun, karismanya, wibawanya, menyebabkan kata-katanya berpengaruh. Dia diterima, tidak saja oleh rakyat jelata, tapi juga kalangan pebisnis, politisi, birokrat, anggota parlemen, polisi, dan tentara. Muslim dan non-Muslim.

Kata-katanya didengar dan mampu memobilisasi massa. aagym.jpgNasehat-nasehatnya, ungkapan-ungkapannya, senandung-senandungnya, dan slogan-slogan ciptaannya seperti “Tiga M” sangat dikenal. Ibu-ibu, para istri seringkali mencurahkan isi hati mereka kepada Gymnastiar tentang masalah-masalah pribadi atau keluarga. Tentang anak atau tentang suami mereka. Begitu juga bapak-bapak atau para suami. Para remaja lelaki dan perempuan tak jarang meminta pendapat tentang apa yang harus mereka kerjakan bila menghadapi situasi tertentu. Tentang sekolah, ataupun tentang masa puber mereka.

Tidak heran, popularitasnya, pengaruhnya, sangat diperhitungkan para kandidat presiden pada saat kampanye pemilihan umum 2004. Presiden SBY umpamanya, beberapa kali berinteraksi dengan Gymnastiar sebelum dan sesudah pemilihan umum 2004.

Akan tetapi, situasi berbalik cepat setelah setelah pengumuman pernikahan kedua itu. Gymnastiar kini menghadapi kritik pedas, makian, celaan, bahkan kemarahan para penggamarnya. Media massa menjadikan pernikahan keduanya sebagai berita besar setelah peristiwa-peristiwa politik dan ekonomi, dan diletakkan pada halaman pertama. Namun, The Jakarta Post, adalah satu-satunya media massa yang menanggapi pernikahan Gymnastiar secara khusus dalam tajuk rencananya “A Wife, or Two” pada tanggal 30 November lalu.

The word hypocrite is on many people’s minds as the preacher often cast himself as the perfect husband and family man.

The Jakarta Post secara apriori, dan secara ujug-ujug menyimpulkan bahwa masyarakat menganggap Gymnastiar “munafik” karena selama ini selalu tampil sebagai suami dan anggota keluarga yang sempurna. Pernyataan itu juga mewakili pandangan The Jakarta Post bahwa “the perfect family” hanya berlaku pada monogami, sedangkan pernikahan poligami serta merta menunjukkan kegagalan sebuah keluarga inti, meskipun bisa jadi kelak berjalan mulus.

The dissappinted will now have to look elsewhere for a spiritual leader, hopefully with less naivete than before.

“Para penggemar yang kecewa kini mencari pemimpin spiritual baru, yang tidak terlalu naif dibanding sebelumnya,” tulis tajuk ini. Dengan kata lain, The Jakarta Post melabel Gymnastiar sebagai “pemimpin spiritual yang naif.”

Tajuk juga menempatkan Teh Nini dalam kelompok perempuan yang “tidak mempunyai posisi tawar yang kuat,” dan “bersuara pelan untuk bisa mengatakan apa itu ‘adil.” Teh Nini dan perempuan-perempuan seperti dirinya dianggap lemah dan nrimo, lantaran “menerima keputusan itu sebagai kesempatan yang takterhindarkan untuk berkorban, hanya tunduk, dan cinta, kepada Tuhan.”

Sesungguhnya tajuk The Jakarta Post telah jauh mengekspose hal-hal yang menjadi wilayah pribadi Abdullah Gymnastiar:

… another looming question is whether the preacher can be fair to both his wives as required in the Koran.

Arah pendapat tajuk, apakah itu positif atau negatif, adalah hak preogatif para jajaran redaksi. Namun, tajuk The Jakarta Post telah jauh melanggar batas ranah yang secara profesional tidak pantas dimasukinya. Apalagi The Jakarta Post bukan media wartahiburan.

Selain itu, Gymnastiar bukanlah pejabat negara yang tengah menggenggam amanat publik. Pernikahan keduanya juga tidak menyangkut persoalan hidup-mati bangsa secara keseluruhan. Jadi, keputusannya adalah pribadi. Tanggung jawabnya adalah pribadi. Pertimbangannya adalah pribadi. Adil atau tidak adil, apakah kelak Gymnastiar melakukan kekerasan dalam rumah tangga, adalah urusannya dan istri-istrinya. Waktulah yang membuktikannya.

Pertanyaannya, mengapa The Jakarta Post hanya menyoroti Gymnastiar tatkala poligami, meskipun tidak dominan, dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia? Terkesan harian ini telah lama membidik Gymnastiar, dan menanti saat yang tepat untuk menembakkan peluru ke sang sasaran. Alangkah lebih baik, yang diangkat adalah budaya patriarki secara umum, bukan penghakiman atau pembunuhan atas karakter seseorang.

Apalagi, poligami berkaitan dengan penafsiran atas teks-teks keagamaan yang sangat sensitif. Perdebatan di kalangan ulama sendri panjang, sehingga tidak bijak jika The Jakarta Post secara teruburu-buru mengambil tafsiran secara semena-mena tanpa memperhatikan kaidah-kaidan penafsiran yang baku. Salah-salah bisa mengarah ke penghujatan (blasphemy).

Iklan