Home

Suara guntur menggelegar. Hujan turun dengan deras. Begitu derasnya sampai-sampai seolah rumahku berada tepat di bawah guyuran air terjun yang menghantam dengan kuat. Aku khawatir, apakah rumahku yang sudah tua ini bisa bertahan. Aliran listrik tiba-tiba padam. Hanya dengan cahaya komputer saku ini mataku bisa melihat.

Ketika kecil, aku takut sekali mendegar gemuruh suara guntur. Gelegarnya seakan menghujam jantung berulang-ulang. Lebih menakutkan ketimbang ketika Bapak murka.

Hujan deras pasca musim kemarau yang panjang patut disyukuri. Hujan adalah berkah, lantaran ia mengisi sumur yang kering dengan air siklus yang telah disterilkan alam. Ya, air yang kita minum sekarang adalah air yang sama yang kita minum dua puluh tahun lalu. Mungkin bekas air kencing manusia di belahan bumi lain, atau hewan purba yang hidup jutaan tahun silam.

Dan memang hidup adalah siklus. Manusia lahir, tumbuh besar dan menjadi kuat. Kemudian ia tua dan melemah. Akhirnya, ia mati dan kembali menjadi debu. Kita sehat, kemudian sakit. Sehat, dan sakit lagi. Terus berulang-ulang.

Rezeki juga begitu. Ketika lahir sebagai bayi, kita telanjang bulat. Artinya, kita tidak punya kekayaan apa-apa. Rezeki bertambah sejalan dengan kematangan dan kemampuan. Akan tetapi, ada kalanya kita jatuh dan kembali tidak punya apa-apa. Maka jadilah kita (seperti) peminta-minta.

Dan ketika kita berada di titik nadir, bisa jadi orang-orang menganggap kita sebagai beban. Tapi justru ketika berada di bawah, kita akan menemukan relasi sejati. Teman sejati adalah teman ketika dia ada di samping kita ketika kita sulit.

Oleh sebab itu, ketika engkau berada di puncak, jadilah teman bagi siapa saja. Dukung mereka ketika susah.

Tapi kalau menolong, jangan harapkan mereka bertindak sama kelak. Kalau kita berbuat baik, lakukan itu untuk menyengkan diri kita sendiri, bukan manusia. Dengan begitu, dada kita terasa plong.

Memang psikologi sosial menempatkan manusia sebagai homo economicus, yaitu bahwa hubungan antarmanusia terjadi karena pertimbangan untung-rugi. Kalau relasi dengan seseorang tidak lagi menguntungkan, buat apa kita lanjutkan?

Banyak yang percaya hal ini. Tapi, kalau percaya, kita akan selalu kecewa, dan akan selalu menghitung-hitung apa yang telah kita berikan.

Percayalah, pertolongan tidak harus datang dari orang yang pernah kita tolong. Tuhan menjamah kita melalui tangan orang lain yang tidak kita sangka. Seperti air siklus yang kita minum sekarang, kita tidak pernah tahu dari mana saja ia pernah berasal.

Silahkan percaya, atau tidak sama sekali.

Hujan sudah reda, tapi gemuruh di langit masih terdengar bersahut-sahutan. Sesekali suaranya bahkan menggelegar, menggetarkan dinding rumah dan kaca jendela. Keras.

Petukangan Utara, 31 Oktober 2006


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s