Home

Petang itu Saiful sibuk melakukan pekerjaannya: membakar ayam yang sudah dikuliti pesanan para pelanggannya.

Kali ini ada lima pelanggan yang berada di dalam kios itu. Tiga pria dua puluh tahunan duduk semeja dan masing-masing menghadapi sepiring nasi tanpa lauk-pauk. Mereka berbincang-bincang sambil menunggu ayam yang tengah dibakar pria muda itu sampai benar-benar terpanggang. Dua orang lagi, sepasang suami-istri, menunggu sambil berdiri, berada di samping Saiful dan pemanggangnya.

Di muka kios, Saiful mengipas-ngipas arang agar api semakin membara. Sambil membumbui, sesekali ia membolak-balikkan badan ayam agar terbakar sama rata. Sebagian asapnya yang harum masuk ke dalam ruangan dan membangkitkan selera.

Dua potong ayam lagi matang sudah. Seorang karyawan, Naryo, bertugas memenggal-menggalnya menjadi bagian-bagian lebih kecil, mengecapi, dan menambahkan daun kol, serta timun pada ayam bakar yang sudah jadi. Sepotong dimasukkan ke dalam kotak putih berbahan gabus, dibungkus, dan kemudian diberikan kepada pasangan suami-istri itu.

Tiga pria yang duduk semeja tadi, akhirnya bisa menyantap makan malam. Naryo mengantarkan tiga potong ayam bakar ke meja mereka. Di bawah meja, seekor kucing liar memandang mereka, mengharapkan sisa-sisa makanan dijatuhkan.

Saiful berusia 22 tahun. Badannya tidak terlalu tinggi, sekitar 164 sentimeter. Rambutnya agak ikal sedangkan wajahnya yang berkulit coklat gelap dan berjerawat itu selalu menyungging senyum yang ramah dan tulus.

“Usaha ini sudah berjalan dua tahun,” tutur Saiful.

Semenjak lulus SMEA pada tahun 2004, ia sama sekali tidak tertarik melanjutkan pendidikan ke universitas. Yang dia lihat saat itu adalah peluang usaha. Kemampuan dan insting dagang ini ia peroleh semenjak kelas satu SMEA. Pagi hari ia bersekolah. Sorenya, ia membantu kakaknya berjualan ayam bakar di pinggir Jalan Cilandak Raya.

Pengalaman magang ini memberikannya semangat berusaha secara mandiri. Dia mengumpulkan modal dengan mencari pinjaman dari teman maupun orang tua. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan 15 juta. Dua pertiga untuk modal utama seperti gerobak dan ayam. Sepertiganya ia gunakan untuk menyewa kios di Gang Masjid ini.

“Sebagian lagi spekulasi,” tambah Saiful.

Gang Masjid adalah nama jalan kecil di wilayah Petukangan Utara yang ramai dengan kios usaha kecil menengah. Disebut Gang Masjid, karena dahulunya jalan itu hanya selebar gang, dan terdapat sebuah masjid besar di sana.

Seorang pria berjaket hitam memarkir sepeda motor bebek di samping gerobaknya dan memesan sepotong ayam bakar. “Satu,” ujar orang itu.

Saiful bergegas berdiri, meraih ayam mentah dari gantungannya, meletakkannya di pemanggang, dan mulai mengipas-ngipas arang kembali. Di gantungan dalam gerobak putih itu tinggal tersisa lima potong ayam mentah lagi. Setiap hari Saiful memasok 30 potong ayam mentah. Biasanya, 20-25 potong terjual dalam sehari. Harga jualnya 16.000 rupiah sepotong. Dengan begitu, omset Saiful rata-rata 480.000 rupiah per hari. Jumlah ini bisa berlipat tiga kali pada bulan puasa karena ramai orang ingin menjadikan ayam bakar sebagai santapan bersahur ataupun berbuka.

Tiba-tiba terdengar azan isya berkumandang nyaring dari menara masjid besar yang menjadi ikon itu. Jeritannya yang keras diselingi oleh deru suara mesin dan knalpot motor yang lalu lalang dari depan kios. Memang, penduduk di Gang Masjid dan sekitarnya kebanyakan bepergian dengan sepeda motor sehingga membuat jalan ini menjadi meriah.

Seorang gadis cilik usia dua belas tahun datang dengan malu-malu.

“Pesan berapa, Dik?” sapa Saiful dengan senyum dan ramah.

“Satu,” jawabnya.

Sambil mengipas-ngipas arang, Saiful melanjutkan perbincangan. Setelah dua tahun berbisnis, ia mampu membuka satu cabang lagi di Jalan Fatmawati, mempekerjakan dua keryawan, membeli sebuah sepeda motor, dan dua buah ponsel. Dia sama sekali tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Belajar lama-lama buat apa,” katanya. “Belum tentu bisa kerja.”

Iklan

4 thoughts on “Ayam Bakar Saiful

  1. crita ini cukup memberi kesan…tapi, soal pesan: Belajar lama-lama buat apa,” katanya. “Belum tentu bisa kerja.”…well, apa ini pesannya? hmm, beberapa pengusaha memang ada yg sukses tanpa sekolah tinggi…tp klu tanpa sekolah tinggi pencapaiannya seperti saeful…wah sangat disayangkan..
    Bagaimana pun juga, pendidikan sangat memberikan andil bagi kemajuan suatu bangsa. Jadi pendidikan: ya penting>>
    Dan lagi, kata Rosul: Carilah Ilmu sampe ke negeri Cina, tul ga?

  2. Adakah hubungan antara pendidikan dngan kesuksesan sesorang. Pendidikan suharto? Hasan Sochib di Banten cuma SR tapi tiba-tiba bergelar prof dan menguasai Banten.

  3. Qizinklavia berkata:
    Oktober 21st, 2007 pada 12:21 pm e

    Adakah hubungan antara pendidikan dngan kesuksesan sesorang. Pendidikan suharto? Hasan Sochib di Banten cuma SR tapi tiba-tiba bergelar prof dan menguasai Banten.

    Kalau kata Robert Kiyosaki sih nggak ada… 🙂

Komentar ditutup.