Artikel saya bertajuk “Mengapa Indonesia Lebih Berjaya daripada Malaysia” sama sekali tidak menggunakan pendekatan ekonomi. Namun, jika kita merujuk beberapa anlisis ekonomi, orang Indonesia bisa dengan yakin berkata, “Ya, masa depan ekonomi Indonesia cerah!”
Purbaya Yudhi Sadewa, misalnya, mengatakan bahwa ekonomi nasional memang melambat pasca kenaikan harga bahan bakar minyak pada bulan Oktober 2005. Namun, ekonomi membaik semenjak April 2006. “Angka Coincident Economic Index (CEI) meningkat sejak April 2006,” tulisnya.
CEI adalah indeks yang disusun Danareksa Research Institute (DRI) untuk mendedah, menangkap keadaan ekonomi secara menyeluruh. Indikator indeks adalah data penjualan mobil, konsumsi semen, penjualan ritel, impor, dan laju pertumbuhan uang riil.
Pemulihan ekonomi, tambah Purbaya, terlihat dari angka Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) — juga disusun DRI — yang terus meningkat. Nilai IKK secara tidak langsung berhubungan dengan kemampuan belanja rumah tangga. Peningkatan belanja rumah tangga yang ditandai nilai IKK, “Mendorong perusahaan-perusahaan menggalakkan kegiatan produksi dan investasi,” jelasnya.
Bahkan menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Indonesia masuk dalam pasar yang bertumbuh dengan pesat (emerging market) di Asia setelah Tiongkok (10 persen), India (8,4 persen) dan Vietnam (8 persen). Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2007 adalah 6 persen, atau melaju dibanding tahun 2006 (5,5 persen). Tahun 2008, menurut IMF, Indonesia akan bertumbuh 6,3 persen.
Laporan IMF yang ditulis oleh Christopher Crowe menyimpulkan bahwa:
Kerentanan Indonesia terhadap krisis keuangan lain yang boleh jadi muncul sewaktu-waktu telah berkurang.
Kebijakan-kebijakan yang kuat telah memampukan Indonesia mengatasi badai ekonomi apapun.
Menurut Crowe, secara umum Indonesia berhasil mengurangi kerawanan keuangan dan makroekonomi mulai tahun kesepuluh tahun semenjak krisis. Crowe juga menyebutkan bahwa terdapat aliran modal yang cukup besar masuk Indonesia sampai bulan Mei tahun 2007. Meskipun bulan-bulan berikutnya modal mengalir keluar disebabkan oleh guncangan pasar global, program reformasi keuangan dan makroekonomi Indonesia berhasil mengatasinya.
Ketua Yayasan Indonesia Forum, Chairul Tanjung, mengatakan bahwa saat ini Indonesia berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah. Posisi ini akan bertahan hingga tahun 2015. Namun, dalam proses industrialisasi, tambahnya, Indonesia bisa menjadi negara berpenghasilan besar.
Menurut Chairul, jika per tahun pertumbuhan ekonomi riil rata-rata 7,62 persen, laju inflasi 4,95 persen, sedangkan pertumbuhan penduduk 1,12 persen, pada tahun 2030, dengan jumlah penduduk 285 juta jiwa, pendapatan domestik kotor Indonesia bisa mencapai US$5,1 triliun. Dengan tingkat per kapita US$18.000 per tahun, ujarnya, “Pada kala itu Indonesia akan berada pada posisi kelima ekonomi terbesar setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat dan Uni Eropa.”








