Di Balik Tayangan Infotainment

“Ceche Kirani menggelar jumpa pers tanpa dihadiri suaminya. Mungkin suaminya tak bisa menyertai Ceche Kirani karena mengumpulkan tenaga untuk nanti malam…..”

“Pemirsa, kami berhasil mengintip lebih jauh soal isu keretakan rumah tangga artis X. Awalnya X yang sering tampil seksi ini mengelak ketika kami konfirmasi. Tapi wartawan kami berhasil mengawasi rumah mereka selama sehari semalam dan terbukti suami X tidak pulang. Ini semakin meyakinkan bahwa rumah tangga mereka tidak harmonis. Apalagi gosipnya ada orang ketiga… bla bla bla….”

Begitulah gaya wartapelipur (infotainment) menciptakan sensasi untuk memancing perhatian penonton. Mengacaukan fakta dengan gosip dan prasangka. Banyak stereotip, mitos, dan penilaian yang terburu-buru.

Tidak jarang sebuah peristiwa yang sesungguhnya banal, remeh, biasa saja, dipaksa diangkat menjadi sebuah tayangan, yang tidak matang untuk bisa disebut sebuah karya jurnalistik. Para pekerja wartapelipur cenderung bekerja atas dasar desas-desus, atau fakta yang kemudian dibumbu-bumbui (h.48).

Wartapelipur adalah sebuah konsep mengemas informasi serius dalam bentuk yang menghibur. Tapi, di Indonesia, wartapelipur bermakna informasi tentang dunia hiburan dan gemerlap gaya hidup para pesohor (h.28). Ia menjadikan artis dan kehidupan artis sebagai komditas. Bagaimana warga ‘khusus’ ini menjalani kehidupan wajar mereka menjadi sesuatu yang luar biasa. Artis melahirkan, ulang tahun, menikah, bulan madu, umrah atau haji, pacaran, putus, cerai, atau rujuk, ataupun bagaimana mereka mengajak anak-anak mereka menjalani liburan sekolah, menjadi hal yang penting.

Acara wartapelipur dalam satu hari dimunculkan selama 13 jam, atau lebih dari setengah hari (h.7). Dalam kurun 2002 hingga 2005 jumlah program wartapelipur di TV swasta meningkat dari 24 episode per minggu (3 espisode per hari) menjadi 180 episode per minggu atau 26 episode per hari (h.7). Ini menunjukkan bahwa acara wartapelipur bagi stasiun televisi sangat menguntungkan. Wartapelipur mampu mendapatkan penonton meskipun acara ini ditaruh pada jam-jam mati (pukul 7, 9, 15, dan 16). Sampai-sampai pemrogram melakukan strategi tayang ulang pada jam lain pada hari yang sama. Atau, mereka memperpanjang durasi acara dari 30 menjadi 60 menit (h.86). Namun, peringkat acara ini tetap bersaing (h.106). Perbandingan keuntungan acara wartapelipur memang tinggi. Harga beli satu episode wartapelipur dari rumah produksi berkisar antara Rp15 sampai 60 juta sedangkan pendapatan bersih dari penjualan ruang iklan per episode bisa mencapai Rp35 juta (h.95).

Ilham Bintang adalah contoh jaya seorang pengusaha wartapelipur. Ketika mendirikan rumah produksi pada tahun 1997, dia dan empat orang kawannya mengumpulkan modal Rp1 miliar. Dalam setahun, Ilham membeli semua saham yang ditanam teman-temannya tadi. Bisnis yang dia kerjakan ini bahkan mampu mengatasi krisis ekonomi pada akhir 1990-an (h.104).

Cara kerja awak wartapelipur sebenarnya mirip dengan wartawan layar kaca. Ada rapat perencanaan, dan peliputan ‘berita.’ Paling lancar bila ‘berita’ datang dengan sendirinya. Misalnya para artis yang mengundang awak wartapelipur meliput kegiatan mereka. Atau, para artis dengan suka rela bersedia diwawancarai ataupun menerima janji wawancara. Para artis sering melakukan ini untuk mendapatkan publikasi, demi popularitas mereka sendiri.

Yang sukar jika mereka menolak diwawancarai. Biasanya awak wartapelipur mengejar-ngejar artis dengan paksa dan menerabas batas pribadi mereka. Nicky Astria, misalnya, pernah didesak menjawab pertanyaan dengan sodoran mikropon yang menahan kaca jendela mobilnya (h.122). Atau tidak jarang, awak wartapelipur terlalu gampang meledakkan gosip yang faktualitasnya belum teruji. Desas-desus tentang perceraian Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale, sebagai contoh, sampai membimbit Kabar Idola yang dibuat rumah produksi Sandhika Widya Cinema ke meja hijau (h.132).

Pembelaan diri Kabar Idola dalam episode berikutnya adalah bahwa “persoalan telah diselesaikan secara kekeluargaan.” Wartapelipur ini justru mempersalahkan sumber berita yang dikutipnya sendiri kalau gosip itu tidak benar. Yang benar dalam versi wartapelipur, mereka menurunkan “materi tayangan yang tidak lengkap,” (h.132). Mereka juga berapologi, kesalahan itu “manusiawi” karena wartawan mereka “masih muda-muda dan membutuhkan arahan bimbingan dari artis senior dan organisasi kewartawanan.”

Tidak jarang desas-desus dikembangkan dengan mewawancara paranormal tentang apa yang tengah terjadi ataupun yang bakal terjadi. Mama Lauren, umpamanya, adalah peramal yang biasa muncul di layar televisi pada akhir tahun, sedangkan Ki Joko Bodo pernah dengan yakin menjelaskan peristiwa pernikahan seorang artis, bahwa itu, katanya, dilakukan demi karir si pesohor (h.140-141).

Persoalan-persoalan tersebut menunjukkan betapa sering para awak wartapelipur melakukan kegiatan yang dalam konsep jurnalistik tidak etis dan menggampangkan prosedur profesi. Seorang wartawan, misalnya, pantang memaksakan kehendak jika narasumber takbersedia menjawab.

Selain itu, tak peduli berapa pun usia seorang wartawan, faktualitas berita bergantung kepada prosedur jurnalistik yang panjang, yang menekankan kebenaran dan ketepatan sebuah berita. Bukan langkah-langkah mengangkat gosip serampangan.

Fatalnya, para awak wartapelipur sering mengelompokkan artis kedalam definisi kata ‘figur publik,’ untuk memberi para artis legitimasi buat mengomentari masalah-masalah sosial politik terkini. Padahal, artis bukan pihak yang bisa menentukan atau mengambil kebijakan publik.

Tapi, dengan ilmu sosial dan pengetahuan jurnalistik yang terbatas, para awak wartapelipur merasa sedeajat dengan wartawan profesional dan bersikeras ingin diaku menjadi anggota PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Padahal, jika hendak mendapatkan pengakuan lebih daripada sekadar secarik kertas, banyak hal yang harus mereka benahi, umpamanya, meningkatkan kapasitas profesionalitas dan pengetahuan jurnalistik.

infotainment.jpgBuku ini memberikan gambaran yang jelas tentang dunia wartapelipur. Di antaranya bagaimana konteks historisnya, mengapa ia mendominasi tayangan televisi kita akhir-akhir ini, bagaimana proses produksi di balik layar, bagaimana kandungannya sendiri, dan bagaimana persoalan-persoalan etis menyertainya. Ia memang tidak menawarkan pemecahan akademis, tapi penuturan yang deskriptif dan naratif menjadikannya layak dijadikan bahan bacaan bagi pemerhati masalah media massa.

Judul Buku: Infotainment; Penulis: Bimo Nugroho, Teguh Imawan, dan kawan-kawan; Pengantar: Ade Armando; Tebal: viii + 179; Penerbit : Komisi Penyiaran Indonesia; Tahun: 2005

Ditulis dalam Baca Buku. 9 Komentar »

Pasien-pasien Kamar 762

Pengalaman saya masuk rumah sakit sungguh menggugah sekaligus mengubah kesadaran saya tentang banyak hal. Pertengahan Juli 2005, sekitar magrib, saya terpaksa dirawat inap karena demam tinggi akibat tifus yang pada gilirannya menganggu fungsi hati. Tetapi, bukan itu intinya. Saya ingin berbagi kisah, betapa manusia bisa terbaring lemah, takberdaya lantaran pelbagai penyakit gawat.

Duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang perawat, masuk ke kamar rawat inap untuk kali pertama, saya merasa terguncang. Ada seorang pasien yang bahkan untuk buang air kecil pun sengsara bukan main. Saya tidak melihat wajahnya karena ada tirai yang membatasi kami. Namun, saya bisa mendengar dan menafsirkan gerak-geriknya. Setiap beberapa menit ia harus buang air kecil melalui pispot dibantu oleh seorang pria penunggu yang sepertinya anggota keluarga intinya.

Kira-kira waktu itu pukul 9 malam. Beberapa kali seorang perawat, atau mungkin seorang petugas kebersihan, datang, dan dengan nada yang terdengar tidak sabar memberikan panduan kepada Pak Ali—demikian nama pasien itu— buang air kecil dengan “cara yang benar” sehingga tidak membasahi seprai berulang kali.

Saya tidak tahu persis apa penyakit Pak Ali, yang dari suaranya seperti berusia akhir 50-an, atau mungkin 60-an. Tapi, dari pembicaraannya dengan perawat, saya menangkap bahwa Pak Ali bakal menghadapi operasi yang serius besok: ginjal. Sebelum jam besuk berakhir, ia dikunjungi beberapa kerabatnya. Saya sempat mendengar, seorang perempuan di antara mereka, terisak-isak, tak tega menyaksikan keadaan Pak Ali. Perempuan itu meminta Pak Ali memikirkan kesembuhannya saja alih-alih keluarga yang ia tinggalkan.

Ketika saatnya pasien tidur, kegiatan Pak Ali yang buang air kecil berkali-kali dan gerakan pertolongan sang penunggunya itu menyebabkan saya tidak bisa tidur. Saya pun menekan bel, memanggil seorang perawat dan memintanya dengan berbisik agar memindahkan saya ke kamar lain yang tenang. Sambil membopong infus, saya bergerak pindah ke kamar 762 dipandu perawat itu. Namun, ingatan saya tentang penyakit Ali membuat saya merinding. Seandainya saya yang mengalaminya, apa saya sanggup menanggungnya?

Pagi harinya, saya baru tahu bahwa beberapa pasien di kamar itu pun sakit parah.

Seorang bapak tua bersuku Sunda—saya lupa namanya—yang sudah bercucu dan bercicit menderita tumor di paru, sehingga terbatuk terus-menerus sambil mengeluarkan darah. Terus terang, itu mengganggu kenyamanan istirahat saya walaupun saya prihatin dengan penyakitnya. Istrinya yang juga sudah uzur, menungguinya dengan penuh kasih dan sabar, tapi tiga malam ini dia tidak bisa tidur karena penyejuk udara terlalu dingin baginya. Padahal, dengan usia setua itu, dia pun bisa jatuh sakit lantaran kurang istirahat. Ketika saya matikan pendingin udara, esok malamnya, akhirnya ibu tua itu bisa tidur nyenyak.

Pak Tua itu—sekitar tujuh puluhan—menikah pada usia muda. Kini dia memiliki keluarga besar multisuku yang silih berganti menjenguknya, sehingga kamar 762 ini pada setiap jam besuk meriah dengan cerita-cerita tentang pengalaman para anggota keluarga besar mereka dalam logat Jawa, Sunda, dan Betawi. Kedengarannya lucu. Kehadiran mereka itu ditujukan buat menghibahkan dukungan moril bagi Pak Tua agar tabah menjalani endoskopi esok hari. Setelah endoskopi keluarga besar itu bersikeras kepada dokter agar Pak Tua diizinkan pulang dan berobat jalan saja. Keinginan mereka terkabul. Sehari kemudian Pak Tua pulang.

Ada seorang pemuda belasan akhir atau awal 20 tahunan berbaring di dipan seberang tempat tidur saya. Dia menderita demam berdarah, penyakit yang menewaskan ribuan penduduk negeri ini setiap tahun. Dari logatnya, jelas dia bukan orang Jakarta. Dari penunggunya saya maklum dia berasal dari sebuah kota di Jawa Tengah. Dia yang termuda di antara kami, para pasien di kamar 762. Empat hari sudah ia menginap di kamar ini. Dia pula yang kelihatan paling pulih. Ketika dokter melakukan kunjungan harian dan membicarakan penyakitnya, pemuda itu mengutarakan kecemasan hatinya kepada orang yang tidak tepat itu, “Saya tidak akan mampu membayar ini semua.”

Sepertinya, bagi pemuda itu, ruangan berpendingin udara serta layanan makanan pokok tiga kali sehari dengan menu yang beraneka dan bergizi, variasi buah, ditambah makanan dan minuman di antara saat makan, juga senyuman ramah para perawat muda akhir belasan tahun yang sebagian besar imut-imut, adalah fasilitas mewah. Padahal, ini cuma ruangan rawat inap kelas tiga.

Akan tetapi, sepertinya rumah sakit ini berpengalaman menangani situasi semacam ini. Taklama kemudian, sekitar siang menjelang petang, anak itu dan penunggunya berkemas pulang dengan mengisi sebuah formulir. Mungkin surat keterangan tidak mampu. Empat hari untuk demam berdarah, rasanya terlalu pendek untuk pemulihan, meskipun memang dia taklagi diinjeksi selang infus dan kelihatan sehat. Setelah dipannya kosong ditinggalkan, saya minta perawat memindahkan saya ke sana karena suasananya terasa lebih privat.

Dua hari kemudian, seorang pasien baru asal Palembang, menempati bekas dipan Pak Tua yang terletak tepat di samping jendela. Dia tidak terlihat seperti pesakit, karena untuk usianya yang 60-an, dia terlihat kokoh dan gagah, meskipun saya menangkap pembicaraan dari kejauhan, dia harus menjalani kemoterapi yang efeknya menyakitkan untuk beberapa waktu sesudahnya.

Seorang lagi, pria 60 tahunan, yang tergolek di seberangnya dan juga menyebelahi jendela, ditemani istrinya yang setia. Sebenarnya mereka sudah ada di kamar 762 semenjak saya masuk ruangan ini. Trombosit pria itu menurun, dan tampaknya ada masalah serius pada paru-parunya. Dia pensiunan Pertamina yang pada masa mudanya gemar berolah raga, sehingga dia masih kelihatan bugar dan sepuluh tahun lebih muda. Selain itu, dia gemar sekali bergurau, dan becakap-cakap dengan pasien lain. Karakternya bertentangan sekali dengan saya yang lebih suka diam, formal, dan individualis, sehingga kadang-kadang saya terganggu dengan tawa dan suara keras obrolan mereka. Bisa jadi, ia bermaksud menghilangkan perasaan tertekan pada dirinya dan pasien lain.

Pasien asal Palembang hanya menginap dua hari, sesudah kemoterapi dia pulang. Pak Marzuki, pasien baru yang menempati bekas dipan saya, kini memindahkan pembaringannya ke dekat jendela. Usianya 57 tahun, tapi terlihat seperti 65 tahunan. Dia menderita kanker getah bening. Dia tidak tampak tertekan, tidak juga terlihat takut.

Saya bercakap-cakap dengan Pak Marzuki setelah selang infus saya dicabut dan keadaan saya lebih baik. Dia bilang, dia pasrah dengan penyakit akibat tubuh menuanya ini. Dia ikhlas. Dia kini sekadar menunggu kematian dengan memperbanyak ibadah dan berbuat baik.

Pak Marzuki berasal dari Langsa, sebuah kota di Aceh yang perekonomiannya bergantung kepada Sumatera Utara. Dia berbicara tentang situasi Aceh, penyebab seperatisme Aceh, Gerakan Aceh Merdeka, Hasan Tiro, dan perundingan Helsinki. Dia memberikan cakrawala baru tentang Aceh dan orang Aceh.

Saya suka berbicara dengan Pak Marzuki, lantaran pemahamannya tentang spritualisme selaras dengan jiwa saya. “Zikir bukan hanya berarti menyebut-nyebut nama Tuhan,” katanya. Mengatasi ego kita dengan berkorban melapangkan kesulitan orang lain secara ikhlas, juga suatu bentuk zikir, tambahnya. Selain itu, orang sakit yang berzikir di pembaringan karena keterbatasan dengan tulus, lebih baik tingkatannya di mata Tuhan daripada orang sehat yang lalu lalang di jalan, tapi melalaikan salat, katanya lagi.

Akan tetapi, yang menyedihkan, ada seorang pasien yang divonis takkan lama bertahan hidup oleh dokter internis. Dia Pak Jati, usia saya perkirakan akhir 39 tahunan atau awal 40 tahunan. Pak Jati mengisi pembaringan kosong di samping dipan saya di hari ketujuh saya di rumah sakit ini. Dia tampak kokoh dan gagah. Namun, siapa sangka pria itu bisa terkena kanker hati, penyakit yang menyengsarakan dan amat-sangat serius. Kata dokter, biaya operasi sangat mahal, dan belum tentu berhasil, apakah dilakukan di Indonesia ataupun di luar negeri. Pak Jati kelihatan sangat tertekan dan menderita. Dia sukar makan ataupun minum, karena cairan kanker dari hatinya mendorong makanan apapun yang ditelannya keluar. Jadi, dia bergantung kepada cairan infus yang mahal itu untuk memperoleh energi.

Malam itu setelah vonis dokter, dalam tirai biru yang membatasi kami, istrinya datang menghampiri saya, menangis tersedu-sedu, sambil meminta maaf karena mengganggu ketenangan saya. Dia menangis untuk suaminya yang sakit parah dan biaya rumah sakit yang mahal. Untuk memperpanjang hidup, Pak Jati harus menjalani sedot cairan yang setiap hari. Biayanya Rp350.000 per hari. Belum lagi operasi kanker yang harus dilakukannya. Bayangkan, bisa puluhan juta rupiah, mungkin malah ratusan, untuk usaha penyembuhan yang belum tentu berhasil itu.

Di sini saya bersyukur, Tuhan memberikan saya kemudahan: saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun lantaran biaya rawat inap ditanggung sebuah perusahaan asuransi yang dilanggan perusahaan tempat saya bekerja. Saya juga bersyukur, meskipun memang cukup serius, penyakit saya tidaklah separah yang lain. Saya masih punya—atau setidaknya Tuhan masih menganugerahkan—kesempatan hidup lebih panjang dan kesehatan yang lebih baik.

Curahan hati istri Pak Jati itu membuat saya ikut berduka. Namun, apa daya? Meskipun begitu, saya sesungguhnya menemukan keberuntungan yang ada pada Pak Jati: dia memiliki istri penolong, dan anak-anak berbudi. Mereka semua menyayanginya, merawatnya dengan sepenuh hati, dengan sabar dan cinta.

Pengalaman saya yang dekat dengan liang kubur itu menginsafkan saya bahwa pada dasarnya manusia makhluk yang rapuh. Betapa berada, berpengaruh, ataupun gagahnya seseorang, bila penyakit-penyakit mengerikan ini menimpa, kekayaan, pengaruh, ketampanan, dan kegagahan menjadi tak berharga. Artinya, kesehatan memang amat-sangat mahal, melampaui apa pun.

Pada dasarnya tiada apapun dari ego manusia yang bisa dibanggakan, dipertahankan mati-matian, apalagi diangkuhkan. Kegagahan, kekuatan, dan kesehatan sewaktu muda pasti akan berangsur-angsur digantikan dengan kerapuhan dan segepak penyakit menjelang tua. Kepintaran, kecendekiaan, boleh jadi lenyap sekejap ketika, misalnya, tiba-tiba saja kita terkena stroke. Kekayaan pun takkan dibawa mati. Ia bisa musnah lantaran sebab-sebab apa pun yang bisa saja muncul tanpa disangka-sangka.

Begitu kondisi saya membaik, saya megerjakan salat normal pertama pascarawat inap dengan penuh syukur di samping pembaringan. Saya merasa dilahirkan kembali. Saya berjanji berusaha mengisi hidup dengan lebih baik dan mudah-mudahan bisa mengakhirinya dengan baik.

Mungkin kutipan syair nasyid Raihan berikut bisa menggambarkan keadaan manusia sebenarnya.

Demi masa sesungguhnya manusia (mengalami) kerugian
Melainkan (orang) yang beriman dan beramal saleh
Demi masa sesungguhnya manusia (mengalami) kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran

Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan karena ia takkan kembali

Ingat lima perkara sebelum lima perkara
Sehat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati

Ditulis dalam Refleksi. 1 Komentar »

Memilih Gubernur Jakarta, Bang Uki Istikarah

Gue udah salat istikarah tiga malem berturut-turut,” kata Basuki. “Semalem gue mimpi didatengin Fauzi Bowo. Dia minta bantuan gue sambil cium tangan gue.”

Dia percaya, mimpi itu pertanda. Maka, dia bilang, “Gue ‘milih Fauzi Bowo.” macet-banjir.jpg

Basuki, orang biasa memanggilnya Uki, adalah seorang ustad sekaligus pemilik warung makan “Bang Uki” di kawasan Kemang Selatan. Betawi asli, 37 tahun. Dia ustad dalam arti sebenarnya: pernah mengenyam pendidikan tinggi agama setingkat sarjana di pesantren, mengisi khotbah Jumat, dan mengajarkan agama.

Namun, dia menjalankan perannya dengan santai. Tiada terbebani citra ustad yang berwibawa dan dingin, sering dia mengguyonkan seksualitas secara asosiatif tanpa kesan mesum. Takjarang para pelanggannya mencurahkan isi hati kepadanya tentang masalah-masalah kerja atau keluarga. Uki bersedia menjadi pendengar yang baik untuk itu. Itulah nilai tambah warung makannya bagi para pelanggan: kekuatan empati sang pemilik warung.

Toh dia tetap dihormati di kampung ini. Ya, kampung. Warung Bang Uki terletak di pemukiman penduduk yang sejatinya kampung Betawi, jauh sebelum Kemang menjadi kawasan niaga kosmopolitan yang ramai. Tetapi, berbeda dengan perkampungan di kota besar yang umumnya padat penduduk, rumah-rumah di sini besar, modern, dan tertata rapi. Penduduk kampung ini memiliki hubungan darah satu sama lain. Ikatan kekompakan di antara mereka terjalin kuat meskipun mereka juga terbuka terhadap para pendatang.

Di kampung ini Uki mendirikan sekolah agama cuma-cuma bagi warga setempat. Sebenarnya, beberapa tahun lalu, dia pernah bekerja sebagai manajer dengan gaji tinggi di sebuah perusahaan mebel. Tapi, dia memutuskan keluar dan mengabdikan ilmu agamanya kepada umat. Lantaran pengabdian ini, dia menjadi salah satu tokoh yang berpengaruh dan dihormati. Tidak heran, para tim sukses kandidat gubernur berdatangan, berusaha mengambil hatinya.

Persoalannya, tentu saja bukan cuma memilih siapa, tapi siapa saja yang berada di belakang para kandidat, dan apa konsekuensinya.

Fauzi Bowo, umpamanya, jelas-jelas harus ikut bertanggung jawab atas Jakarta yang salah kelola, jorok, amburadul, tidak sehat. Sebab, dia juga menggenggam pemerintahan ibukota bersama Sutiyoso. Dalam kurun sepuluh tahun, kawasan hijau seperti Senayan, Kebayoran Baru digadai menjadi perkantoran atau pusat perdagangan. Gila benar, masakan tata kota diubah-ubah seenak dewe?

Pasar adiswalayan diberi izin berdiri di mana-mana sehingga menghancurkan pedagang kecil dan tradisional.

Kawasan Semanggi di pusat kota dibikin plaza? Jelas saja, Jalan Sudirman dan Gatot Subroto macet setiap sore.

Tidak ada transportasi cepat massal untuk dua belas juta warga kota. Bus khusus—busway—tidak nyaman sebagaimana mereka janjikan, tapi melelahkan. Jumlah armada sengaja dibatasi “demi efisiensi.” Akibatnya, penumpang berdesak-desakkan pada setiap jam sibuk.

Wilayah potensi banjir semakin meluas. Sampah menumpuk di mana-mana. Saluran air mampet. Udara kotor terhirup akibat gas buang kendaraan umum yang dibiarkan keluar begitu pekat. Tiada uji kelayakan emisi bagi kendaraan umum yang sudah renta… dan sebagainya, dan sebagainya….

Hidup di Jakarta—terpaksa atau tidak—benar-benar terasa sesak, pengap, lelah, tersiksa, memuakkan. Capeee deh…

Jika Fauzi menang, saya yakin, takkan banyak perubahan di Jakarta. Memilih Fauzi Bowo sama saja membiarkan keadaan ini terus berlaku, karena ini berarti juga memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang berada di sekitar dia, yang sedikit banyak orang-orang sama yang pernah mengurus Jakarta selama ini, apakah aparaturnya, ataukah kalangan pengusaha yang dekat dengannya.

Lantas bagaimana dengan Adang?

Adang disokong oleh Partai Keadilan Sejahtera, partai politik yang berawal dari pergerakan Islam yang telah bergiat semenjak 1980-an. Awalnya bukan gerakan politik, tapi budaya. Mereka menyebutnya Tarbiyah (pendidikan). Di era Suharto mereka bergerak di bawah tanah dan menggandakan diri melalui sistem sel. Mereka menanamkan kebanggan kepada komunitas mereka untuk menampakkan simbol-simbol Islam. Jilbab, sebagai contoh, pada era Suharto sampai awal 1990-an, oleh rezim bisa dianggap sebagai ekspresi sektarian yang anti-sosial, nyeleneh, menyimpang. Akan tetapi, dengan semakin tumbuhnya gerakan Tarbiyah, jilbab menjadi cara berpakaian yang wajar. Keberhasilan gerakan budaya ini memang patut diacungi jempol.

Pada tahun 1999, pada saat Orde Baru mengalami krisis kepercayaan, mereka menampakkan diri dengan jumlah massa yang besar, menempatkan kaki di belakang Amin Rais yang mengomandoi gerakan reformasi, dan ikut menumbangkan Presiden Suharto. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) adalah salah satu perpanjangan tangan gerakan mereka di ranah politik. Mereka juga memiliki penerbitan seperti Ummi (untuk ibu), Annida (remaja), Tarbawi (kajian Islam).

Butir pentingnya, mereka bekerja sungguh-sungguh. Tapi di sisi lain, mereka taksegan meminggirkan orang lain jika mereka anggap tidak sesuai dengan ideologi mereka.

Dulu, misalnya, saya pernah mendapat panggilan wawancara kerja di Dompet Dhuafa (sebuah lembaga penggalang zakat, infak, sedekah). Setelah melontarkan pertanyaan umum, sang pewawancara bertanya, “Anda ikut pengajian?”

Pengajian yang dia maksud adalah “pengajian Tarbiyah,” semacam indoktrinisasi ideologi yang ditanamkan dan disebarkan melalui sistem sel. Rupanya itu ukuran moral lembaga ini untuk menentukan seseorang sejajar atau tidak dengan mereka.

“Tidak,” jawab saya.

“Lantas, bagaimana Anda menjaga keimanan?” tanya pria berjanggut itu lagi dengan nada tajam.

Pertanyaan itu sebenarnya sangat pribadi: itu hubungan antara saya dengan Tuhan, bukan dengan dia atau mereka. Dan dia tidak perlu tahu. Maka, jawaban-jawaban saya datar saja. Saya mengatakan, saya membaca Quran setiap Ramadan dan mendengarkan ceramah A’a Gym di televisi.

Tapi rupanya jawaban itu tidak memuaskan pewawancara.

Baiklah, itu hak mereka menentukan kriteria seleksi. Mungkin Dompet Dhuafa yang dikuasai Tarbiyah itu merasa tidak cocok dengan orang sekotor saya. Atau sebaliknya, mungkin lembaga ini memang tidak baik buat saya. Hanya saya bayangkan dalam konteks yang lebih luas, apakah mereka bisa menerima atau bekerja dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka? Saya pikir, akan banyak orang yang dipinggirkan secara semena-mena.

Uki sering bertutur dengan senewen, betapa di kampungnya mereka juga mencela perayaan Maulid, karena mereka anggap itu biddah (mengada-ada), kultus terhadap Nabi Muhammad.

Elu ngerayain ulang taun. Tapi masa kagak buat Nabi lu sendiri buat nunjukin rasa hormat? ” tukas Uki ketika berdebat dengan mereka. Dia gusar, dan menganggap penafsiran komunitas Tarbiyah terhadap Islam dangkal.

Ideologi Tarbiyah memang dipengaruhi Wahabbisme, yaitu gerakan Islam pada abad ke-19 yang bertujuan memurnikan ajaran Islam. Hanya saja, takjarang gerakan ini berbenturan dengan tradisi Islam lokal yang lebih dahulu mengakar. Ingat, penyebaran Islam di Indonesia, sebagai contoh, berjaya setelah melalui proses adaptasi dengan budaya setempat, sehingga kita mengenal, umpamanya, tradisi selamatan dan tahlilan.

Ideologi tanpa kompromi ini membuat orang-orang tradisionalis seperti Uki tidak nyaman berhadapan dengan mereka, terutama saat membentur wilayah praktik keagamaan di kampungnya. Nah, di sini mimpi Bang Uki boleh jadi benar untuk konteks dirinya. Mungkin itu semacam ungkapan rekaman bawah sadarnya.

Gue kagak ‘milih siapa-siapa, Bang,” ujar saya setelah berhasil menelan makanan ke kerongkongan.

Namun, saya berharap lima tahun mendatang, calon-calon bebas dapat bersaing dengan kandidat yang diusung partai-partai politik. Pada saat itu saya berharap bisa menemukan orang yang benar-benar pas buat mengelola Jakarta.