Awas! Kartu Kredit Menjebak Kita

“Saya mengajukan permintaan kartu kredit,” kata seorang rekan kerja yang baru lulus universitas, “tapi ditolak.”

“Wah, saya malah selalu ditawari bank kartu kredit,” kata seorang rekan yang lebih senior. “Kartu kredit saya emas….”

Saya menangkap ada perasaan bangga pada nada ucapannya. Mungkin buatnya kartu kredit emas menunjukkan simbol keberhasilan pencapaian karirnya, atau pengakuan resmi atas keberadaan dirinya. Gengsi, istilah popularnya.

Saya ingat, dulu saya pernah dihubungi seorang wanita petugas bank. “Selamat,” katanya. “Anda terpilih mendapatkan kenaikan pagu. Kartu perak Anda kami tingkatkan menjadi emas.”

Alih-alih mengucapkan ‘terima kasih atas kepercayaan bank kepada saya,’ saya menukas dengan tegas, “Saya tidak tertarik. Justru sebaliknya, saya ingin penurunan pagu.”

Jawaban yang mengagetkannya, tentu saja.

Kali lain petugas itu menelepon saya lagi. Tapi saya tolak. Kamis pekan lalu, saya akhirnya menghubungi layanan pelanggan, dan benar-benar menuntut penurunan batas kartu kredit saya.

Sudah tujuh tahun saya memegang kartu utang, tapi jarang saya menggunakannya lebih dari 25 peratus pagu. Lebih sering di bawah itu. Saya tahu, dengan kotak tipis bermagnet ini, bank mendorong kita bertindak konsumtif: gesek, gesek, dan gesek. Cicil, cicil, dan cicil. Bunga, bunga, dan bunga! Tiba-tiba saja kita terperangkap dalam utang yang lebih besar daripada penghasilan kita, sedangkan bank sendiri diuntungkan dari bunga tunggakan yang terus berbunga.

Bank mengatakan, saya nasabah yang baik, terpilih, tidak semua orang bisa memperoleh kesempatan ini, bla-bla-bla…. Omong kosong. Ada udang di balik batu. Yang gampang saja, jika saya terima tawaran itu, saya harus membayar iuran tahunan lebih mahal. Artinya, saya mengeluarkan kocek untuk sesuatu yang tidak perlu, yang tidak sesuai dengan pola belanja saya.

Saya akui, ketika baru lulus perguruan tinggi saya ingin memperoleh kemudahan, gengsi, dan prestise sebuah kartu kredit sebagaimana yang telah saya lihat sekilas pada kakak saya yang mapan. Pada pertengahan tahun 2000, bekerja pada sebuah anak perusahaan manufaktur otomotif, saya yang percaya diri sempat kecewa ketika permohonan saya ditolak sebuah “bank kota” tanpa alasan apapun.

Namun, ketika saya berada di sebuah pusat belanja swalayan dan hendak pulang, seorang pramuniaga dari bank yang lain mencegat dan membujuk saya, “Mas, ayo dong isi formulir aplikasi kartu kredit.”

Saya senang saja, karena waktu itu saya memang lagi kepingin.

“Apa gaji Mas sudah lewat dua juta?”

Dia kegirangan ketika saya mengiyakan.

Dengan proses yang sederhana, jadilah saya memiliki kartu kredit untuk kali pertama. Wah, bangga benar rasanya. Saya memuji-muji diri saya dalam hati. Saya eksekutif muda nih, punya kartu kredit….

kartu-kredit.jpg

Sebelumnya saya terbiasa menggunakan kartu debet. Tapi, setelah itu, saya bereksperimen mencoba bertransaksi dengan ‘mainan baru.’

Satu bulan kemudian, tagihan pertama datang. Saya coba tidak membayar penuh. Ternyata, bulan berikutnya tagihan melonjak. Saya baru sadar kalau perhitungan bunga dimulai pada saat saya melakukan transaksi, bukan pada saat jatuh tempo. Dengan begitu, bulan ketiga, saya harus membayar bunga berbunga untuk dua bulan!

Saya baru mafhum, inilah perangkap bunga berbunga. Lantas saya putuskan membayar penuh dengan asumsi tunggakan segera lunas. Namun, pada bulan ke-4, masih muncul tagihan yang mengharuskan saya membayar Rp30.000 lagi. Baiklah, saya ikuti saja. Sesudah itu beres, pikir saya. Sialnya, pada bulan berikutnya di lembar tagihan tercetak biaya administrasi Rp8000! Ini pemerasan, meskipun kecil jumlahnya. Saya bertanya-tanya, bagaimana dengan orang yang tagihannya jauh lebih besar ketimbang saya?

Sejak saat itu saya memutuskan selalu membayar penuh. Tapi, lima tahun kemudian, kartu kredit ini saya tutup, dan saya ganti dengan kartu kredit bank lain yang menawarkan kemudahan cicilan tetap.

Pindah kerja, saya sekantor dengan kawan lama. Dia pengguna setia kartu kredit. Pengeluaran bulanan untuk anak istrinya, yang kadang melebihi pendapatannya, ia cukupi dengan kartu kredit. Setiap bulan dia mencicil batas terkecil, tapi tentu saja, saldo tagihannya tidak lunas-lunas juga, lantaran bunga berbunganya kira-kira setara dengan pembayaran minimalnya!

Sebulan lalu, seorang sahabat yang lain, dikejar-kejar pemungut utang lantaran menunggak pembayaran hingga empat bulan. Dia taksanggup melunasinya karena tiba-tiba saja bangkrut. Bahkan, dia tidak lagi mencicil meskipun dengan nilai terkecil. Bank menagihnya dengan segala cara, mulai makian sampai ancaman fisik. Tukang pukul datang ke rumahnya, menerornya dan keluarganya. Perlakuan bank kepadanya sungguh biadab, sangat berbeda dengan saat ketika dengan ramah-tamah mereka menawarkan kartu plastik ini kali pertama. Saldo utangnya yang x rupiah, melonjak menjadi 1,5x rupiah dalam empat bulan! Pantas saja semua bank agresif menawarkan kartu kredit kepada khalayak. Pendapatan bunganya gila-gilaan. Inilah konsep riba yang dalam Islam diharamkan.

* * *

Selain godaan pola hidup boros, membawa kartu kredit ke mana-mana sangat berisiko. Pagu kartu kredit mewakili seberapa besar risiko yang harus kita tanggung. Bohong, jika bank mengatakan kartu kredit “tidak serawan membawa uang tunai.” Sebab, andai ia hilang, dicuri, atau jatuh, orang yang menemukannya bisa saja memanfaatkannya dengan mudah. Tanda tangan? Gampang dipalsukan. Apalagi, pengalaman saya, di gerai-gerai penerima kartu kredit, kasir tidak terlalu sungguh-sungguh memastikan keaslian tanda tangan pada struk. Itulah sebab, di surat pembaca koran, kita sering mendengar keluh-kesah nasabah yang tidak merasa melakukan transaksi tertentu, tapi bank tetap membebankan tagihan kepada mereka, padahal tanda tangan pada struk itu jelas berbeda dengan yang tertera di kartu. Sintingnya, jika nasabah menolak, mekanisme bunga-berbunga terus bekerja, sedangkan pemungut utang yang ganas sudah menanti mereka! Bank hanya memikirkan hak-hak mereka. Setiap penyangkalan transaksi membutuhkan prosedur yang panjang, memakan waktu dan uang nasabah. Lupakan keramah-tamahan mereka. Di balik senyum ramah, mereka serigala berbulu domba.

Akan tetapi, tentu saja, kalau kita bisa mengelolanya secara hati-hati, kartu kredit bisa berguna, paling tidak sebagai alat pembayaran. Bila Anda ingin memilikinya, usahakan pagu Anda wajar. Biasanya bank memberikan pagu lebih besar daripada gaji kita. Nilainya bisa empat kalinya. Saya menganjurkan Anda mengajukan pagu setengah, atau sepertiga gaji, sehingga jika Anda mengalami masalah dengan kartu kredit dalam bentuk apapun, Anda dengan mudah mampu mengatasinya.

Mengapa bank memberikan pagu berkali-kali gaji kita, bukan sebaliknya? Di sinilah letak perangkapnya. Dengan umpan pagu yang tinggi, bank ingin kita merasa ‘lebih kaya,’ seolah kita mempunyai ‘lebih banyak uang,’ mampu membeli apa saja tanpa keterbatasan penghasilan. Dengan begitu, kita terbiasa dengan konsumsi tinggi dan ujung-ujungnya terjebak utang. Jika sudah terperangkap, harta benda kita yang nilainya lebih besar daripada utang kita, dirampas bank dengan paksa. Tentu saja, bank tidak bodoh, karena ketika mereka menyetujui permohonan kita, mereka sudah berhitung, berapa besar resiko dan keseluruhan harta-benda kita yang bisa menanggungnya.

Banyak orang membangga-banggakan pagu kredit yang tinggi. Saya tekankan, itu hanyalah kebanggaan semu. Yang bank inginkan, gaji kita berpindah ke brankas mereka melalui cicilan konsumtif kita setiap awal bulan, bahkan sebelum kita sempat menganggarkannya untuk kebutuhan keluarga, kita sudah dikirimi lembar tagihan. “Setiap bulan,” keluh seorang teman, “gajiku habis hanya untuk melunasi tagihan.”

Pendek kata, penggunaan kartu kredit pada dasarnya menambah pengeluaran Anda. Oleh sebab itu, untuk alat pembayaran, saya menyarankan kartu debet. Sebaiknya Anda punya dua rekening bank. Yang pertama untuk tabungan yang takkan diganggu gugat kecuali mendesak. Yang kedua rekening dengan akses kartu debet untuk kebutuhan sehari-hari dan transaksi pembayaran, yang nominalnya dianggarkan setiap bulan. Jadi, ketika Anda tergoda barang-barang konsumtif tapi takpunya uang, Anda takkan memaksakan diri, apalagi jatuh dalam perangkap kartu kredit.

Hati, Rasio dan Ketenangan Jiwa

Beberapa hari setelah lebaran, seorang adik kelas, mengirim email kepada saya:

Mohon maaf lahir batin. Minal aidzin wal faidzin. Apa kabar, Jun? Sekarang saya berada di Bukittinggi, kampung saya dan keluarga. Kesempatan ini saya manfaatkan buat menyegarkan kembali diri saya yang tercemar oleh Jakarta. Mencari ketenangan alam. Tetapi, kenapa ya, saya tidak juga merasa tenang? Padahal saya sudah salat, puasa, dan membaca Quran. Bersenang-senang pun tidak bisa. Hati saya tidak tenang. Terbayang oleh saya bagaimana nanti seandainya saya bekerja, di mana, berapa gaji saya… dan sebagainya.

Saya tengah mengalami krisis jatidiri menjelang usia ke-22 tahun ini. Apakah kamu bisa membantu, Jun? Saya mencoba kembali kepada agama. Namun, agama hanya menawarkan janji-janji surga dan neraka. Saya malah ketakutan. Pikiran saya tak dapat rileks. Dapatkah kamu memberikan jalan keluar, Jun? Please Jun, I really need your help.

Surat elektronik itu sejenak membuat saya tertegun, karena sebenarnya apa yang menggelisahkannya pun menggundahkan pikiran saya. Saya bahkan lebih tua beberapa tahun daripadanya, namun belum dapat lepas dari persoalan-persoalan itu. Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan menggugah kesadaran saya. Seakan-akan Allah tengah memerintahkan saya agar menemukan sendiri bagaimana memecahkan persoalan yang juga tengah saya hadapi itu.

Setelah merenung sejenak, saya mencoba membalas email teman saya itu, dan mulai menulis.

“Teman saya yang baik, sebenarnya kita menghadapi persoalan yang sama. Saya sendiri memikirkannya sedari dulu, sekarang, dan mungkin juga kelak. Dari perbincangan dengan seorang sahabat saya menyimpulkan bahwa ketenangan sebenarnya merupakan persoalan bagaimana rasio kita mempengaruhi, atau mengendalikan hati. Menurut saya, rasio cenderung berpikir rasional, logis, dan mempertimbangkan faktor-faktor, atau variabel-variabel yang kita punyai atau yang ada di sekitar kita, guna menjelaskan fenomena-fenomena masa lampau dan sekarang serta memprediksikan fenomena-fenomena yang akan akan terjadi pada masa mendatang.

“Adapun hati, ia melampaui dimensi ruang dan waktu, seringkali hati bersikap irasional, namun kerapkali pula ia terbukti benar jika kita melakukannya. Kebanyakan orang Barat cenderung menafikan hati karena mereka beranggapan kebenarannya tidak dapat diverifikasi. Agama-agama Timur seperti Budha dan Hindu sebaliknya, mengajarkan pemeluk-pemeluknya mengutamakan penguatan hati melalui meditasi, yoga, dan sejenisnya. Mereka percaya hati yang bersih dan sensitif dapat menyatukan manusia dengan alam. Bahkan mereka beranggapan alam adalah perwujudan Tuhan itu sendiri—sehingga dengan hati yang bersih mereka dapat bertindak dengan harmoni dengan alam, atau mengikuti keinginan Tuhan. ‘Aku adalah Tuhan,’ kata seorang sufi yang merasa dirinya telah menyatu dengan Tuhan—terlepas dari perdebatan mengenai hal ini.

earth-in-void-of-space.jpg

“Sedangkan Islam menyeimbangkan rasio dan hati. Kita diperintahkan bertindak rasional, tapi sekaligus diingatkan agar mengasah hati kita. Banyak ayat dalam Quran menyuruh kita ‘berpikir,’ misalnya. Atau, ‘bertebaran mencari rezeki.’ Tapi ada pula ayat yang meminta kita ‘mengerjakan salat dan membaca Quran di penghujung malam,’ atau mengingatkan kita agar ‘menjadikan sabar dan salat sebagai penolong.’ Dua kutipan terakhir mungkin kedengaran lucu bagi orang Barat yang didominasi paradigma positivisme. Tapi, memang begitulah cara Islam menekan sekaligus menyeimbangkan dominasi rasio terhadap hati.

“Persoalan yang kamu—dan saya juga—hadapi adalah, rasio masih mendominasi hati. Kamu sangat rasional, sehingga pertimbangan-pertimbangan faktual yang kamu tengah pikirkan mengkhawatirkan kemampuanmu sendiri. Rasiomu yang rasional-logis tidak yakin bahwa kamu dapat bertahan di tengah persaingan kerja.

“Saya akui, saya sendiri belum bisa melepaskan dominasi rasio, karena saya kadang-kadang khawatir seandainya hati mendominasi jiwa, saya tak akan mempunyai punya daya juang mencari peluang, berkreasi, dan berpikir.

“Hanya saja, ketika rasio — dengan pertimbangan-pertimangan rasional dan logisnya—menyimpulkan bahwa kita TIDAK MUNGKIN bertahan, atau MUSTAHIL mencapai apa yang kita inginkan, bisa jadi itu akan membuat jiwa kita lelah, lemas, putus asa, dan menyesali hidup. Kita mungkin menyesali dilahirkan sebagai kita. ‘Seandainya aku terlahir kembali, aku ingin menjadi ….,’ khayal kita sambil mengingat-ingat seorang tokoh idola, atau orang yang kita anggap sukses secara sosial, ekonomis, atau genetis—menurut ukuran positivisme. Meskipun, tentu saja, kalau kita terlahir kembali dengan ‘aku’ yang kita inginkan, kita akan mempunyai ribuan persoalan baru yang berbeda dengan ‘aku’ yang dulu, yang juga akan membuat kita gelisah.

“Sebagian muda-mudi Jepang yang merasa bahwa mereka telah gagal, dan akan selamanya gagal, memutuskan harakiri. Begitu pula dengan orang-orang lain yang juga positivistik (walaupun mungkin mereka tak menyadari bahwa mereka positivistik) mengakhiri hidup mereka dengan tragis karena rasio mereka berkata, ‘Tak ada peluang bagimu. Impossible. Peluangmu 0%.’ Maka, mereka pun menyerah pada nasib.

“Di sinilah Islam mengisi ketidakberdayaan rasio. Islam menyuruh kita mengasah hati agar kita bersedia, rela, ikhlas, dan mampu mengembalikan kekuatan maksimum rasio yang pada akhirnya tak berdaya kepada Tuhan, karena hanya hatilah yang mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dibaca rasio. Menurut Islam, hati yang bersih memang dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Hati yang bersih dapat membuat Tuhan ‘lebih dekat daripada urat nadi di leher kita.’ Cara hati bekerja adalah MEMPERCAYAI, dan MEYAKINI, sedangkan rasio bekerja dengan MEMBUKTIKAN. Kepercayaan dan keyakinan diasah melalui apa yang telah sudah kamu kerjakan—salat, puasa, qiro`ah. Hati yang terasah dengan baik akan menghasilkan kepasrahan dan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan berdusta akan janji-janji-Nya, semumpama ‘berdoalah, pasti akan Aku kabulkan,’ sehingga manusia tidak putus asa meskipun 99 kali mengalami kegagalan. Karena, ia terus berharap bahwa keberhasilan pada akhirnya akan ia capai—mungkin pada kali yang ke-100, 1000 atau bahkan 10.000! Intinya adalah pasrah, tawakal, but never stop hopping, jangan berhenti berharap.

“Sebaliknya, dengan hati yang terasah pula, kalaupun rasio meyakini bahwa probabilitas keberhasilan kita adalah 99%, kita tidak akan menjadi terlalu percaya diri, atau angkuh, karena hati kita akan memperingatkan bahwa yang 1% tetap merupakan peluang yang mungkin terjadi. Dan seandainya terjadi, hati tetap tabah lantaran meyakini bahwa terdapat peluang-peluang lain yang lebih baik yang belum terlihat secara kasat mata, atau ditangkap rasio. Firman Allah, ‘Yang terbaik menurut rasiomu, belum tentu baik buat dirimu.’

“So my friend, saran saya, cobalah kamu mengalir seperti air, mengikuti suara alam dan menyatu dengannya, dan jangan menentangnya. Seimbangkanlah rasio dengan hatimu. Saat salat, dan puasa, dan qiro`ah adalah waktu yang tepat buat mengasah sensitivitas hati. Saat yang tepat buat mengikis dominasi rasio—itu yang membuatmu tidak tenang dan seolah salat dan puasamu tak berpengaruh apa-apa buatmu selama ini. Caranya ya dengan itu tadi: pasrah, tawakal, but never stop hopping.

“Maanfatkan kesempatan berlibur di Bukittinggi yang sejuk dan indah itu. Cobalah duduk bersandar pada sebuah pohon yang rindang di tempat yang tinggi sembari menyaksikan keindahan pemandangan kota Bukittinggi sementara angin bertiup sepoi-sepoi. Tariklah napas dalam-dalam. Rilekskan dan pasrahkan dirimu dengan melemaskan seluruh otot-otot persendian. Matikan rasio sejenak saja. Katakan pada dirimu, ‘Saya pasrah kepada Allah, saya pasrah kepada Allah.…’ Ucapkan itu berkali-kali sampai badan benar-benar lemas, pasrah, dan rileks. Insya Allah jiwamu akan menjadi lebih tenang.

“Saya akui, saya pun tengah berusaha melakukan semua yang saya utarakan di sini. Agak sulit, tapi mungkin akan lebih mudah jika ada teman berbagi. So let’s do it together, brother!

“Teman saya, ketakutanmu terhadap agama itu disebabkan oleh bayanganmu bahwa Tuhan itu mengerikan: Allah yang Maha Pengazab, Allah Yang Maha Penyiksa. Sebaiknya kamu mengingat pula bahwa Allah itu Maha Pemaaf, Mana Pengampun, Maha Penyayang, Mahalembut, Mahakasih, Maha Mengabulkan Doa, Maha…, Maha… dan seterusnya yang positif, atau setidaknya netral. Bagi saya, Tuhan itu juga Maha Humoris, karena menciptakan banyak kelucuan di dunia.

“Insya Allah, dengan mengingat sifat-sifat itu kamu akan mempunyai bayangan yang lebih positif, atau menyenangkan mengenai Tuhan. Surga dan neraka adalah konsekuensi logis atas perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Tapi, saya sependapat dengan sufiwati Rabiah al Alawiyah bahwa tujuan hakiki kita bukan surga, tapi Allah.

“Ingatkah kamu doa Rabiah mengenai surga dan neraka? Rabiah justru meminta Tuhan agar menjauhkannya dari surga, jika ia beribadah lantaran hanya menginginkan surga. Karena, yang ia inginkan hanyalah Allah das ding an sich. Pendek kata, jika kamu ingin kembali ke fitrah, kembalilah, bukan karena takut neraka, tapi kembalilah kepada tempat jiwa kita berasal, yaitu Allah.

“Saudara saya yang saya cintai, pertanyaanmu amat menggugah, sehingga sekaligus merupakan jawaban bagi kegelisahan saya sendiri. Well, semoga kamu terus bertanya-tanya sehingga semua kegundahan kita terungkapkan dan terjawabkan.”

Saya membaca email saya sekali lagi, kemudian saya mengklik ikon ‘Send’ sambil mengucapkan bismillah. Semoga jawaban saya bisa memberikan pencerahan bagi adik kelas saya yang tengah gelisah itu

Jakarta, 8 Januari 2002

Ditulis dalam Refleksi. 6 Komentar »